Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Seseorang yang di kenal


__ADS_3

"Biarkan aku ikut bersama mu ke Stasiun Pemberhentian, ku mohon...." pinta Edrea dengan nada suara yang serak seperti menahan tangisnya agar tidak sampai keluar dan terdengar oleh Max dan juga Arya.


Sayangnya belum sempat Max dan Arya memberikan pendapat akan permohonan Edrea barusan, sebuah suara yang tidak asing di pendengaran mereka, lantas terdengar menggema seakan menjawab permohonan Edrea barusan yang ingin ikut pergi ke Stasiun pemberhentian, mengantarkan Sita untuk yang terakhir kalinya.


"Kau tidak perlu ikut!" ucap sebuah suara dengan tiba tiba yang lantas membuat Edrea, Max dan Arya menatap ke arah sumber suara.


Tepat ketika mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara, terlihat sosok Barra tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dengan langkah kaki yang perlahan dan raut wajah yang datar, membuat ketiganya lantas langsung terdiam seketika di saat melihat kehadiran Barra.


Edrea yang melihat Barra datang, dengan perlahan langsung meletakkan tubuh Sita ke lantai kemudian bangkit dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra. Mungkin hanya dengan membujuknya, Barra akan mengijinkan Edrea untuk ikut pergi ke sana dan mengantar Sita menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Edrea menggenggam tangan Barra dengan erat di sertai manik mata yang berkaca kaca, namun Barra yang melihat Edrea seperti itu hanya menatap lurus ke arah depan seakan enggan untuk menatap Edrea saat ini.


"Aku mohon ijinkan aku Bar... aku janji tidak akan menimbulkan kekacauan, jika kamu meminta aku menjaga jarak... aku akan melakukannya, kamu ingin berapa? satu meter? dua meter? atau tiga meter? aku akan melakukannya Bar... jadi ku mohon ijinkan aku ikut bersama dengan mu." ucap Edrea dengan nada bicara yang serak, terlihat jelas bahwa Edrea tengah menahan tangisnya saat ini.


Barra yang mendengar rengekan dari Edrea barusan hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang, sebenarnya Barra benar benar tidak tega ketika melihat Edrea yang seperti itu. Hanya saja seseorang yang di tinggalkan harus tetap melanjutkan hidupnya, jika mereka terus terusan terjebak dalam perasaan yang kehilangan, maka sampai kapan pun mereka tidak akan bisa melangkah ke depan dan melanjutkan hidup.

__ADS_1


Melihat Edrea yang mengiba seperti itu membuat sosok arwah Sita menjadi pilu, ia begitu tidak tega meninggalkan Edrea begitu saja tanpa salam perpisahan ataupun pesan pesan yang bisa Edrea gunakan di kemudian hari. Barra yang melihat suasana semakin tidak enak, lantas langsung memberikan kode kepada Arya dan juga Max untuk membawa arwah Sita menuju ke Stasiun Pemberhentian, membiarkan Barra dan juga Edrea di sini berdua.


Edrea yang melihat Max dan juga Arya hendak membawa Sita pergi, lantas berusaha untuk mencegah keduanya, namun Barra dengan cepat memegang tubuhnya dengan erat membuat Edrea sama sekali tidak bisa bergerak dan menyusul mereka berdua hingga Max dan Arya tidak lagi terlihat pada pandangannya.


"Lepaskan aku Bar... lepaskan... lepaskan...." teriak Edrea mencoba berusaha melawan Barra agar melepaskan pegangannya dan membiarkan Edrea untuk menyusul kepergian Max dan juga Arya barusan.


Edrea yang tidak lagi melihat Arya dan juga Max, lantas langsung luruh ke bawah dan menangis dengan tersedu sedu. Barra yang melihat Edrea menangis lantas mengambil posisi duduk kemudian memeluk Edrea dengan erat, seakan berusaha menenangkan Edrea meski tanpa sebuah kata kata penenang dan hanya pelukan semata. Sedangkan Edrea yang di peluk oleh Barra, semula menolak sambil memukul mukul dada bidang Barra menangis dengan tersedu sedu meluapkan segala isi hatinya tanpa bisa mencurahkan hatinya kepada orang lain selain Barra.


***


"Kiera... kamu sudah lama di sini? apa kamu sudah bertemu dengan Oma? Oma tadi masak makanan yang enak... biar aku panggil Oma sekarang ya..." ucap Edrea sambil langsung bangkit berdiri dari posisinya, namun langsung terhenti seketika di saat Edrea baru mengingat bahwa Sita sudah tiada.


Kiera yang melihat sahabatnya itu sangat terpukul, lantas kembali memeluk Edrea dengan erat sambil mengusap pundaknya Edrea dengan pelan. Keduanya terhanyut dalam perasaan sedih yang memenuhi hati masing masing walau tanpa terdengar suara tangisan yang menggebu di antara Kiera ataupun Edrea. Keduanya saling menangis dengan terdiam dan tidak ingin satu sama lain mendengar tangisan masing masing.

__ADS_1


"Tak apa Rea.. menangislah... aku akan selalu berada di sisi mu sampai nanti." ucap Kiera dengan nada yang lirih, membuat Edrea langsung menangis dengan tersedu sedu di pelukan Kiera.


**


Sementara itu tanpa keduanya sadari tak jauh dari lokasi mereka berdiri, terlihat Barra tengah memperhatikan setiap gerak gerik keduanya dari sana. Barra terlihat berkali kali menghela nafasnya panjang ketika melihat Edrea kembali menangis lagi dan lagi tanpa henti dan juga tanpa lelah. Sepertinya kasus yang pernah Edrea selesaikan waktu di kedai teh ketika bersama Barra kala itu, sama sekali tidak membuat Edrea menyadari tentang arti kehilangan.


Barra yang tadinya ingin memberitahu Edrea tentang sebuah kata kematian dan juga perpisahan, harus menelan pil pahit ketika Edrea hingga kini masih terlihat sedih dan terus menangis dengan tersedu sedu. Barra terdiam di posisinya menatapi ke arah Edrea yang kini tengah terlihat hancur di pelukan Kiera saat ini. Dua orang sahabat itu pada akhirnya saling berbagi kesedihan antara satu sama lainnya dalam sebuah pelukan erat yang menjadi penenang di antara keduanya.


"Semoga saja kesedihan Edrea hanya berlangsung seharian ini saja, tanpa berlarut larut atau malah membuat Edrea semakin terperosok ke dalam kehancuran karena sebagian kebahagiannya telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya." ucap Barra dengan nada suara yang lirih pada diri sendiri sambil terus menatap ke arah Edrea dan juga Kiera.


Di saat suasana keheningan terjadi pada ruangan mansion saat itu, sebuah langkah kaki yang terdengar beradu dengan lantai keramik mansion milik Edrea, terdengar menggema dan langsung menghentikan ketiganya dari pemikiran masing masing. Sebuah raut wajah yang terlihat terkejut ketika melihat suara langkah kaki tersebut berasal dari seseorang yang mereka bertiga kenali.


"Untuk apa dia ke sini?" ucap Barra ketika melihat langkah kaki itu kian mendekat ke arah Edrea dan juga Kiera saat ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2