Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Hanya butuh sebuah pelukan


__ADS_3

"Ibunda..." ucap Barra dengan nada yang lirih tanpa sadar.


Angkara dan juga Putri tersebut yang mendengar ada suara yang tak di undang, lantas langsung menatap tajam ke arah Barra dan detik berikutnya Barra seperti langsung di seret dan dibawa ke sebuah gambaran di mana Seekor sosok ular hitam yang perlahan-lahan berubah menjadi pemuda tampan yang ia lihat tadi tengah menemui Putri itu kembali.


Keduanya nampak terlibat pertikaian yang menimbulkan amarah Angkara memuncak. Jika Barra tidak salah duga sepertinya pertengkaran mereka terjadi karena Putri yang menikahi sosok Raja dan Barra tebak itu adalah ayahandanya. Barra terdiam di tempatnya menatap setiap kejadian yang terjadi di antara kedua pasangan kekasih tersebut yang berbeda di dunia di mana sosok Siluman ular yang mencintai seorang Putri Raja.


Hingga ketika Barra kembali di bawa ke sebuah penglihatan yang kali ini memperlihatkan Siluman ular hitam tersebut menemui Raja dan meminta ijin untuk menghabisi Barra kecil. Langkah kaki Barra lantas sedikit terhuyung, sebuah kisah yang tidak pernah ingin Barra ketahui sama sekali kisahnya mendadak terungkap begitu saja.


Alasan yang mendasari dirinya dibuang beberapa ratus tahun yang lalu adalah karena tubuhnya yang memilih sisik ular ketika lahir dan di anggap menjadi pembawa malapetaka untuk desa sehingga harus diasingkan ke tempat terpencil. Barra benar-benar terkejut akan fakta yang baru saja ia dapatkan, dari sisik ular itu saja Barra sudah mulai mengetahui segala rahasia terbesar yang selama ini ditutupi oleh Ibunya.


Barra memegang tengkuknya sebentar sambil menatap bingung ke arah sekeliling.


"Jadi aku... aku adalah anak dari Siluman ular hitam? Ba... bagaimana mungkin ini semua terjadi?" ucapnya dengan lirih.


***


Di sebuah hutan


Barra yang baru saja mendapatkan penglihatan lantas terdiam seketika. Seiring dengan melemahnya tekanan yang di berikan oleh Barra tubuh Edrea jatuh tepat di atasnya yang langsung membuat Edrea memeluknya dengan erat dengan tatapan kosong ke arah depan.


"Ayahanda..." ucap Barra tanpa sadar.


Sementara itu disaat tubuh Edrea jatuh tepat di atas tubuh Barra. Sebuah gumpalan asap hitam kecil nampak keluar dari tubuh Edrea dan terlempar cukup jauh ke dalam hutan. Seekor ular kobra hitam nampak menggeliat setelah terlempar cukup jauh dari tempatnya semula.

__ADS_1


"Sialan kau Bar! tunggu saja apa yang akan aku lakukan selanjutnya untuk membalas perbuatan mu padaku!" ucap sosok ular kobra hitam tersebut.


Setelah energinya terserap habis oleh bambu runcing yang ditusukkan oleh Barra tepat di area dada Edrea, bentuk sosok Siluman ular hitam itu menyusut menjadi kecil seperti layaknya ular kobra pada umumnya, namun dengan warna hitam pekat sehingga membuatnya berbeda dari kebanyakan ular kobra pada umumnya.


Sosok Siluman ular hitam itu melata secara perlahan sambil sesekali terjatuh karena memang tenaganya yang sudah terkuras habis oleh Barra, sehingga kini tak menyisakan apapun selain hanya bentuknya yang menjadi kecil.


Butuh waktu bertahun-tahun untuknya memiliki energi besar seperti itu, namun Barra malah merenggutnya begitu saja dan hanya menyisakan cangkang kosong bagi Siluman ular hitam itu.


"Benar-benar sial!" ucapnya dengan nada yang kesal sambil terus melata mencari tempat untuk memulihkan keadaannya.


***


Di bawah hembusan angin malam di hutan yang lebat. Perlahan-lahan kelopak mata Edrea mulai terbuka dengan lebar menatap tepat ke arah langit malam yang sedang berkabut malam itu. Edrea yang terkejut akan pemandangan pertama kali yang ia lihat, lantas mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar dan ia melihat Barra yang kini tengah menatap kosong ke arah depan dengan tatapan yang setengah melamun sedangkan kedua kakinya di gunakan sebagai bantalan kepala Edrea sedari tadi.


"Apa ada sesuatu yang terjadi Bar?" tanya Edrea dengan raut wajah yang penasaran dan juga khawatir kepada Barra.


Mendengar pertanyaan tersebut Barra lantas menghela nafasnya dengan panjang kemudian memaksakan senyumannya agar tidak terlihat oleh Edrea.


"Hanya sesuatu yang kecil dan kamu tidak perlu khawatir." ucap Barra mencoba untuk menenangkan Edrea.


Mendengar ucapan Barra bukannya mengerti dan membiarkan Barra, Edrea malah langsung memeluk tubuh pria itu dengan erat membuat Barra tentu saja terkejut akan aksi Edrea yang tiba-tiba memeluknya itu. Hanya saja detik berikutnya Barra yang memang sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, lantas menjadi terhanyut dan kian masuk ke dalam pelukan Edrea mencari ketenangan lewat pelukan dari Edrea.


Edrea yang mengerti Barra sedang tidak baik-baik saja, lantas memeluk tubuh Barra semakin erat sambil menepuk pundaknya dengan pelan memberinya ketenangan yang mungkin tidak akan pernah Barra dapatkan di tempat lain.

__ADS_1


Terkadang sebuah pelukan memang lebih bisa memberikan sebuah ketenangan ketimbang hanya pertanyaan dan juga kata-kata penenang untuk seseorang. Dan Edrea mempelajari semua itu dari mendiang Arsa, Edrea tidak menyangka bahwa sesuatu yang dianggap sepele ternyata memiliki pengaruh yang besar untuk seseorang.


Edrea terus menepuk bahu Barra dengan perlahan membuat Barra kian terhanyut ke dalam pelukan Edrea.


"Tidak apa Bar... semuanya akan baik-baik saja..." ucap Edrea sambil terus mengusap bahu Barra.


Hingga beberapa menit dalam posisi yang berpelukan perlahan-lahan keduanya saling melepas tautan mereka dan saling menatap satu sama lain dalam waktu sepersekian detik, membuat pandangan Barra kemudian lantas terhenti pada bahu Edrea yang terlihat menghitam ketika baju Edrea sedikit melorot dan memperlihatkan area bahunya.


Barra yang curiga itu adalah akibat dari tusukannya tadi yang terlalu menyakiti Edrea, membuat tangan Barra langsung menyentuh ke arah pundak Edrea dan membuatnya meringis kesakitan.


"Aw.." ucap Edrea dengan spontan ketika tangan Barra menyentuh area pundaknya.


"Diam lah sebentar dan jangan bergerak." perintah Barra yang lantas membuat Edrea langsung diam ditempatnya.


Setelah mengatakan hal tersebut Barra kemudian mulai menyentuh area pundak Edrea berusaha untuk memberinya energi dan menyembuhkan luka Edrea. Hanya saja sayangnya, meski Barra sudah mencobanya selama berkali-kali luka Edrea sama sekali tidak mengecil dan malah membuat Edrea kian meringis karena menahan rasa sakit akibat dari sentuhan Barra.


"Sepertinya energi ku sudah terkuras habis, sebaiknya kita pergi dari sini aku akan membawa mu bertemu dengan Ibu." ucap Barra sambil mulai bangkit dari posisinya.


Edrea yang mendengar ucapan Barra lantas menatap Barra dengan tatapan yang bingung kemudian ikut bangkit hendak menyusul Barra, hanya saja pandangannya mendadak kabur dan detik berikutnya menggelap.


"Tapi Bar..."


Bruk

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2