
Di area Black Edrea terlihat terus melangkahkan kakinya menyusuri area Black untuk mencari keberadaan Arwah pendendam tersebut. Edrea terlihat mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencoba untuk mencari keberadaan Arwah pendendam itu. Hingga kemudian sebuah aura yang begitu terasa tidak enak bagi Edrea terasa begitu menusuk tubuhnya. Sampai kemudian pandangan mata Edrea terhenti pada sebuah bayangan hitam yang terletak di sudut dua bangunan yang Edrea sendiri tidak tahu bangunan apa itu.
"Ketemu" ucap Edrea dengan senyum yang mengembang.
Sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan Edrea mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana bayangan hitam itu terlihat dengan jelas. Entah mengapa rasanya seperti ada sesuatu yang menuntunnya untuk terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana bayangan hitam itu berada. Perlahan tapi pasti Edrea melangkahkan kakinya dan hampir mendekat dengan posisi yang tidak jauh dari bayangan hitam tersebut. Hingga ketika jarak diantara keduanya sudah tersisa beberapa centimeter saja barulah Edrea menghentikan langkah kakinya, mencoba untuk melihat dan juga mencermati bayangan hitam tersebut.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Ini bukanlah tempat mu bisa bersembunyi." tanya Edrea kemudian.
Mendengar pertanyaan Edrea sosok bayangan hitam tersebut terlihat mulai perlahan-lahan berbalik badan dan menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang aneh. Sebuah mata berwarna merah besar terlihat menghiasi sosok bayangan tersebut, namun entah mengapa sedikit demi sedikit sosok bayangan hitam tersebut malah berubah menjadi sosok manusia pada umumnya meski di area sekitarannya masih tampak asap hitam yang pekat, namun rupanya benar-benar telah berubah dan tidak terlalu menakutkan.
"Sila ini mama nak, kemarilah nak..." ucap sosok tersebut namun malah membuat Edrea mengernyit tak mengerti akan maksud dari sosok tersebut yang tiba-tiba memanggilnya Sila.
Edrea benar-benar tidak tahu apa yang tengah di maksud oleh sosok arwah tersebut. Dan bodohnya Edrea malah mendekat begitu saja menuju ke arwah tersebut tanpa sadar, seakan ada perasaan tersendiri dalam diri Edrea yang mendorongnya agar melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana sosok arwah tersebut mendekat.
Hingga kemudian ketika tangan keduanya hampir berdekat sebuah perasaan aneh mendadak merasuki tubuh Edrea dan membuatnya terdiam seketika di tempatnya. Sosok arwah tersebut perlahan-lahan mulai masuk ke dalam tubuh Edrea dan memenuhi raganya, membuat Edrea mematung ditempatnya selama beberapa detik seakan tak bisa menggerak tubuhnya. Sampai kemudian ketika manik mata Edrea berubah menghitam sepersekian detik. Sebuah penglihatan tak terduga lantas menarik jiwa Edrea untuk mengetahui segalanya tanpa bisa ia tolak sama sekali.
__ADS_1
Dalam penglihatan tersebut Edrea di bawa ke tempat seperti sebuah rumah dengan ukuran yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Sebuah suara rintihan dari seorang perempuan terdengar begitu jelas ditelinga Edrea, membuat Edrea melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah ruangan tersebut untuk melihat ke arah sumber suara.
**
Ketika Edrea sampai di sana ia melihat dua orang perempuan, yang satunya paruh baya dan satu lagi mungkin sekitaran umur 20 an hampir sama dengannya tengah di siksa oleh seorang pria paruh baya dengan menggunakan ikat pinggang. Keduanya dicambuk secara membabi-buta berulang-kali dan secara terus menerus. Membuat lengan dan juga kaki keduanya memar atau bahkan mengeluarkan darah karena sabetan dari ikat pinggang tersebut.
Edrea terdiam mematung di tempatnya sebuah pemandangan yang begitu menyayat hatinya dan membuat Edrea tak tega melihatnya. Hanya saja Edrea benar-benar tidak bisa berbuat apapun karena memang yang ia lihat hanyalah sebuah kenangan seseorang yang walau Edrea ikut campur hal tersebut tidak akan pernah bisa kembali normal.
Setelah dari penglihatan tersebut, Edrea mendadak di tarik kagi ke sebuah adegan di mana gadis yang tadi di pukuli tengah merayap dengan perlahan hendak melarikan diri dari sana, namun tubuhnya yang sudah tidak kuat untuk sekedar hanya berdiri, membuatnya malah melesot dengan perlahan di lantai. Pria yang memukulinya tadi nampak bangkit dari arah kasur dengan tawa yang menggema, sehingga ketika Edrea mendengar tawa tersebut membuat Edrea langsung menoleh dengan spontan ke arah sumber suara.
Mendengar suara dari pria tersebut yang memanggil gadis itu dengan sebutan nak, membuat Edrea menarik kesimpulan bahwa pria tersebut adalah ayah dari gadis itu, sedangkan wanita paruh baya yang ikut dipukuli tadi adalah istri sekaligus ibu dari gadis itu. Edrea menutup mulutnya dengan rapat menggunakan kedua tangannya seakan terkejut akan fakta yang baru saja ia dapatkan saat ini.
Edrea benar-benar tidak menyangka ada seorang ayah yang tega menyiksa anak istrinya dan juga menggauli anak gadisnya pula. Bukankah betapa biadabnya pria itu? Edrea mengepalkan tangannya dengan erat begitu mengetahui hal tersebut terjadi tepat di depan matanya. Hingga kemudian Edrea yang mulai paham akan apa yang terjadi ketika sosok arwah pendendam tadi memberikannya gambaran singkat hidupnya. Membuat Edrea lantas menoleh ke arah sekitar dan mencari sosok arwah pendendam tersebut.
"Apa kamu ingin aku menolong? Sehingga kau memberikan gambaran kisah hidup mu?" tanya Edrea sambil mengedarkan pandangannya ke sekitaran mencari keberadaan sosok tersebut.
__ADS_1
Setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Edrea, sebuah asap hitam terlihat mulai bermunculan dari sudut ruangan. Membuat manik mata Edrea langsung tertuju dengan seketika ke arah gumpalan asap tersebut. Sesosok wanita paruh baya yang Edrea lihat ketika di area Black nampak terbentuk dari gumpalan asap barusan. Sosok itu mengulurkan tangannya ke arah Edrea seakan meminta Edrea untuk membantunya.
"Tolong aku...." ucap sosok tersebut dengan raut wajah yang penuh harap ke arah Edrea.
****
Sementara Edrea sibuk dengan sosok arwah pendendam tersebut. Di sisi lain terlihat semua penghuni Stasiun pemberhentian terlihat menyusuri setiap sudut dan juga area untuk mencari keberadaan sosok arwah pendendam tersebut. Barra dan juga Mira terlihat mencarinya tepat di area Apartment, keduanya pikir bahwa aura yang berasal dari arwah pendendam berasal dari Apartment karena penghuni Apartemen sebagian juga di isi oleh sosok arwah pendendam.
Barra dan juga Mira terlihat mengecek satu-persatu unit Apartment dengan teliti. Hingga kemudian sebuah panggilan suara yang berasal dari Max lantas terdengar dan menghentikan langkah kaki Barra dan juga Mira di sana.
"Tuan saya sudah menemukan titik di mana arwah pendendam itu berada." ucap Max dengan langkah kaki yang bergegas menghampiri keduanya dan memberikan laporan tentang sosok yang sedari tadi mereka cari.
"Dimana sosok itu?" tanya Barra kemudian ketika mendengar teriakan Max baru saja.
Bersambung
__ADS_1