
"Awas Mir!" pekik Edrea yang tak sengaja melihat ayunan senjata tajam pria tersebut.
Sedangkan Mira yang mendengar teriakan dari Edrea barusan tentu saja langsung dengan spontan melirik sekilas ke arah Edrea kemudian menoleh lagi ke pria tersebut dan detik selanjutnya Mira menjentikkan jarinya kemudian berteleportasi dari sana tepat sebelum clurit pria itu mengenai lehernya.
Tang....
Suara clurit yang mengenai pintu mobil terdengar cukup kerasa dan tentu saja mengejutkan Edrea dan juga pria itu. Edrea bahkan sampai mengelus dadanya karena mengira bahwa clurit tersebut mengenai Mira tadi. Mira yang berteleportasi ke sebelah Edrea lantas langsung tersenyum begitu melihat reaksi keduanya yang terlihat panik.
"Tenanglah senjata seperti itu tidak akan mungkin melukai ku!" ucap Mira dengan nada yang datar membuat Edrea lantas melongo ketika mendnegarnya.
"Memang tidak bisa membunuh mu tapi setidaknya bersikaplah lebih hati-hati lagi." ucap Edrea dengan nada yang penuh penekanan.
"Baiklah setuju." ucap Mira kemudian setelah itu kembali menjentikkan jari tangannya dan berteleportasi menuju ke arah dekat mobil sedan berwarna putih tersebut.
**
Sementara itu pengemudi sedan berwarna putih yang semula sempat terkejut karena Mira yang tiba-tiba menghilang dari balik pintu mobilnya, mendadak lagi-lagi dibuat terkejut ketika ia mendapati Mira sudah kembali muncul di sana, sedangkan celurit yang ia gunakan tadi untuk menggorok leher Mira saat ini sedang dalam posisi nyangkut di pintu mobil. Membuat pria itu lantas berdecak dengan kesal, pria tersebut yang tidak dapat menarik kembali cluritnya lantas berusaha keluar dari mobil namun lagi-lagi Mira menahannya.
"Ups tidak akan semudah itu tentunya." ucap Mira dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
Mira yang memang senang bermain-main lantas dengan sengaja membuat mobil sedan yang di tumpangi pria itu berputar-putar selama beberapa kali, hingga membuat seluruh bagian mobil milik pria itu berhamburan dan berantakan memenuhi area mobilnya.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan ha? Aku bahkan tidak mengenal dirimu!" teriak pria itu sambil berpegangan erat pada stir mobilnya.
Mira yang mendengar perkataan dari pria tersebut lantas langsung menghentikan laju mobil sedan tersebut, ditatapnya wajah pria itu yang kini nampak tengah pusing akibat putaran yang dilakukan oleh Mira barusan. Seulas senyum lantas terbit dari wajah Mira ketika melihat wajah pria tersebut yang seperti orang kebingungan saat ini.
"Aku hanyalah seorang penegak keadilan, kau beruntung karena bertemu dengan ku. Jika saja kau bertemu dengan dewa maut mu sudah ku pastikan bahwa kepala mu yang mungkin saat ini menjadi hiasan di tembok rumah seseorang." ucap Mira dengan nada yang santai.
Di saat Mira tengah sibuk dengan pengemudi sedan tersebut, Edrea yang samar-samar mendengar suara sirine mobil polisi mendekat ke arah mereka lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mira untuk membisikkannya sesuatu.
"Polisi sudah datang sebaiknya kita pergi dari sini." bisik Edrea kemudian yang langsung membuat Mira menoleh ke arahnya.
Setelah mengatakan hal tersebut, keduanya lantas mulai melangkahkan kakinya meninggalkan area tersebut. Pria itu yang melihat kepergian keduanya tentu saja langsung dibuat bingung dan tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi di sini. Pria itu mencoba memanggil-manggil Edrea dan juga Mira, namun Edrea dan Mira hanya menghentikan langkah kakinya sekilas menatap ke arah pria tersebut kemudian tersenyum dan berlalu pergi dari sana meninggalkan pria itu dengan acuh tak acuh.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku tidak bisa keluar dari mobil ini, tunggu sebentar... Berhenti... Hei...." teriak pria itu selama berulang kali mencoba untuk memanggil Edrea dan Mira yang nyatanya saat ini sudah menghilang dari jalanan tersebut.
Beberapa menit setelah kepergian Edrea dan juga Mira, suara sirine mobil polisi terdengar dengan jelas menggema di area jalanan tersebut. Beberapa mobil polisi nampak berhenti dan i memblokir area jalan tol itu, membuat pria tersebut yang bingung hendak melarikan diri namun tidak bisa lantas hanya bisa pasrah dan menggerutu dengan kesal karena tidak bisa pergi ke mana-mana selain hanya berdiam diri di dalam mobil dan menunggu polisi-polisi itu menyergapnya.
"Sialan!" pekiknya dengan nada yang kesal.
__ADS_1
***
Sementara itu di Stasiun pemberhentian terlihat Barra yang baru saja sampai di Stasiun, lantas mulai melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang perlahan memasuki area ruangannya dengan raut wajah yang masam. Ketika ia sampai di ruangannya pada bagian area dalam ruangannya terlihat Max yang tengah sibuk memeriksa beberapa dokumen selama kepergian Barra ke dunia manusia. Barra yang melihat Max tengah sibuk bekerja di sofa, lantas menghela napasnya dengan panjang ketika baru menyadari Edrea tidak ada di sana.
Max yang seakan tahu siapa yang saat ini tengah dicari oleh Barra, lantas mulai meletakkan beberapa berkas yang ada di tangannya dan menghampiri tuannya yang saat ini tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah kursi kebesarannya. Sambil menatap raut wajah Barra yang terlihat begitu masam dan juga lesu tersebut, membuat Max mulai menerka-nerka di dalam kepalanya akan apa yang kini sedang terjadi kepada tuannya itu.
"Apa anda sedang mencari Edrea tuan?" tanya Max kemudian dengan nada yang hati-hati.
Mendengar pertanyaan dari Max barusan membuat Barra lantas langsung menatap ke arah Max, jika ditanya seperti itu tentu saja jawabannya adalah iya namun jika dikembalikan lagi, Barra bahkan saat ini belum siap untuk kembali bertemu dengan Edrea mengingat fakta yang baru saja ia dapat atau sebuah jawaban yang baru saja ia dapat setelah sekian lama ia mencari jawaban yang pas akan pertanyaannya.
Barra menghela napasnya dengan panjang kemudian menatap ke arah Max dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Memangnya pergi kemana dia?" tanya Barra kemudian dengan raut wajah yang penasaran namun bercampur dengan sendu, membuat Max yang melihat ekspresi wajah dari Barra barusan lantas sedikit mengernyit dengan tatapan yang bingung.
"Edrea pergi bersama dengan Mira, sepertinya ada sebuah misi yang harus Mira selesaikan. Apakah anda baik-baik saja dengan hal itu?" ucap Max kemudian yang lantas membuat Barra kembali menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar penjelasan dari Max barusan.
"Biarkan saja mereka pergi, lagi pula aku sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun saat ini." ucap Barra sambil memijit pelipisnya dengan pelan.
"Apa telah terjadi sesuatu tuan?" tanya Max kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
__ADS_1
Bersambung