
Kantin
Terlihat Edrea tengah menatap kosong ke arah depan, menatap beberapa mahasiswa yang tengah berlalu lalang di area kantin untuk membeli snack dan juga beberapa makan berat lainnya. Pikiran Edrea benar-benar melayang memutar kembali ingatannya ketika pagi tadi ia bertemu dengan Fano di koridor. Entah mengapa Edrea merasa tatapan Fano benar-benar kosong seakan seperti bukan Fano yang seperti biasanya.
Edrea menghela nafasnya dengan panjang ketika ingatan tentang Barra yang mengatakan bahwa Fano hanya dijadikan cangkang oleh Siluman ular hitam tersebut, membuat Edrea pada akhirnya mulai memahami maksud dari perkataan Barra kepadanya.
"Apakah kamu sedang memikirkan tentang Siluman ular hitam Rea?" ucap Kiera dengan tiba-tiba yang baru saja mengambil duduk di depan Edrea dengan membawa nampan berisi dua mangkuk bakso lengkap dengan es teh di nampan tersebut.
Edrea yang sedari tadi melamun, mendengar tentang Kiera yang tiba-tiba mengatakan seputar Siluman ular hitam, lantas langsung mendongak menatap ke arah Kiera. Membuat Kiera yang mendapat tatapan tersebut tentu saja bingung akan maksud dari tatapan Edrea kepadanya.
"Apa belakangan ini Fano terlihat aneh?" tanya Edrea kemudian yang lantas membuat Kiera semakin bingung karena pertanyaan Edrea benar-benar aneh menurutnya.
"Fano ya? Em... sepertinya sih ia karena akhir-akhir ini aku lihat Fano tidak terlalu sering berinteraksi ataupun tersenyum sinis seperti biasanya, hanya duduk diam dan melamun saja. Untuk hal yang lainnya aku tidak tahu, apa ada sesuatu Rea?" tanya Kiera kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Sebenarnya..." ucap Edrea namun terpotong ketika Edrea tanpa sengaja melihat Fano melintasi koridor.
"Aku pergi dulu ya Ki... nanti aku jelaskan kepadamu!" ucap Kiera sambil bangkit berdiri dan berlalu pergi dari sana.
Kiera yang melihat kepergian Edrea dari sana tentu saja kaget dan ikut bangkit. Niat hati Kiera memang hendak mengejar langkah kaki Edrea yang berlalu dari sana, hanya saja Kiera terlalu sayang jika harus meninggalkan dua mangkuk bakso yang masih belum tersentuh di hadapannya.
__ADS_1
"Sepertinya aku selesaikan dulu urusan perut baru setelah itu aku akan menelpon Edrea." ucap Kiera pada akhirnya memutuskan.
***
Sementara itu Edrea yang melihat Fano tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah parkiran lantas mulai mengikutinya perlahan menuju ke arah mobil Fano. Ketika langkah kaki Fano mulai memasuki mobilnya, Edrea yang tengah bersembunyi di balik mobil yang terparkir di sana langsung berlari sambil menundukkan tubuhnya bergegas masuk ke dalam mobil miliknya sebelum Edrea kehilangan jejak Fano.
"Ais sial... seharusnya tadi aku langsung masuk ke mobil saja, dasar bodoh kau Rea!" ucap Edrea merutuki kebodohannya sambil terburu-buru masuk ke dalam mobil dan langsung menancap gas menyusul kepergian mobil Fano dari parkiran.
Edrea melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota mengikuti mobil Fano yang bergerak sangat pelan di depannya, membuat Edrea yang sedari tadi mengikuti laju mobil Fano lantas terlihat beberapa kali menguap karena harus mengikuti laju mobil Fano yang begitu lambat membelah jalanan Ibu kota.
Hingga ketika kurang lebih berkendara selama satu jam kemudian, mobil milik Fano terlihat masuk ke sebuah plataran rumah model Bungalow yang cukup besar. Edrea yang mengetahui Fano masuk ke dalam rumah bermodel Bungalow tesebut, lantas memarkirkan mobilnya sedikit agak menjauh dari plataran rumah tersebut agar tidak ketahuan oleh Fano bahwa ia tengah mengikutinya sedari tadi.
Dari dalam mobilnya Edrea melihat Fano mulai turun dari mobilnya kemudian masuk ke dalam rumah tersebut dengan perlahan. Melihat hal tersebut Edrea terdiam di tempatnya seakan tengah mencoba berpikir keras keputusan apa yang akan ia ambil di saat-saat seperti ini. Digigitnya bibir bagian bawahnya ketika Edrea kembali teringat akan ucapan Barra yang melarang keras dirinya agar tidak coba-coba mencari tahu keberadaan jiwa Fano meski apapun yang terjadi.
Dengan langkah kaki yang perlahan dan juga mengendap Edrea mulai melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah tersebut sambil sesekali bersembunyi dan menatap sekitaran. Ketika langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu utama rumah tersebut, Edrea kemudian kembali menatap ke arah kanan dan kiri. Setelah memastikan semuanya aman dan tidak ada siapapun di sana, barulah Edrea mulai berteleportasi masuk ke dalam rumah tersebut menggunakan kemampuannya.
**
Ruang tamu
__ADS_1
Edrea yang berhasil masuk ke dalam rumah milik Fano lantas langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar di mana ketika masuk ke dalam ruang tamu, Edrea disuguhi pemandangan rumah yang dalam keadaan gelap tanpa penerangan maupun cahaya mentari yang masuk melalu jendela rumah tersebut, benar-benar tertutup rapat oleh tirai dan hanya beberapa ventilasi udara yang kecil saja dapat memberikan pencahayaan lewat sinar matahari dari luar ruangan.
"Apa Fano belum bayar listrik? Gelap amat nih rumah..."gerutu Edrea sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri setiap ruangan yang ada di sana.
Edrea terlihat terus membawa langkah kakinya masuk menyusuri setiap ruangan yang ada di rumah tersebut. Hingga langkah kaki Edrea lantas terhenti ketika dihadapannya terlihat semacam ruang peristirahatan untuk melepas lelah, di mana pada ruangan tersebut terlihat Fano tengah menyandarkan tubuhnya sambil menatap kosong tepat ke arah sebuah lukisan dengan panorama gua di dalam hutan yang lebat, benar-benar mengerikan bagi Edrea jika ia melihat sekilas ke arah lukisan tersebut.
Edrea menatap terus ke arah Fano sambil berpikir dimana kira-kira Siluman ular hitam itu menyembunyikan jiwa Fano. Mungkin ada sekitaran 5 sampai 10 menitan Edrea tetap dalam posisinya, hingga kemudian pandangan matanya terhenti pada sebuah lukisan yang terus ditatap oleh Fano sedari tadi tanpa berpindah tempat sedikitpun, sehingga membuat beberapa spekulasi muncul di kepalanya tentang keberadaan jiwa Fano.
"Ini hanya firasatku saja atau memang ada yang berbeda dari lukisan itu?" ucap Edrea nampak sedang berpikir.
Edrea nampak kembali terdiam sejenak mencoba untuk berpikir, hingga sebuah ide mendadak terlintas di benaknya yang lantas membuat seulas senyum terlihat jelas di wajah cantik Edrea. Edrea yang tidak ingin membuang waktu lagi kemudian mulai berteleportasi kembali ke depan pintu utama rumah Fano.
**
Halaman rumah Fano
Edrea yang baru saja berteleportasi keluar lantas terlihat menatap ke sekeliling seperti tengah mencari sesuatu dan pandangannya terhenti pada sebongkah batu besar yang berada tidak jauh dari sebuah pohon yang tertanam di sana. Melihat hal tersebut, Edrea yang tidak ingin membuang waktu lagi langsung mengambil batu tersebut dan bersiap melemparnya ke arah kaca rumah Fano.
"Semoga saja cara ini berhasil." ucap Edrea kemudian melempar batu ditangannya dengan keras.
__ADS_1
Cetar...
Bersambung