Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Cocok menjadi cenayang


__ADS_3

Ruangan Dekan


Edrea yang baru saja sampai di depan pintu ruangan, lantas langsung menghentikan langkah kakinya sebentar. Pikirannya kali ini kembali memutar memori tentang dirinya yang beberapa waktu yang lalu juga di panggil ke ruang dekan ketika penemuan mayat tua keriput pertama kalinya.


Edrea menghembuskan nafasnya berulang kali, sambil mencoba mengusir segala kemungkinan buruk jika kejadian beberapa waktu lalu terulang kembali.


"Semoga saja kali ini berbeda..." ucap Edrea dalam hati sambil mulai mengetuk pintu ruangan dekan secara perlahan.


Tok tok tok


"Masuk" ucap sebuah suara yang berasal dari dalam ruangan mempersilahkan Edrea untuk masuk ke dalam.


Sesuai arahan dari suara yang terdengar dari dalam, Edrea perlahan lahan membuka pintu ruangan tersebut dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


**


Ada sedikit raut wajah terkejut ketika Edrea mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam, di mana pada sofa ruangan tersebut seseorang yang tak asing di ingatannya, nampak tengah duduk dan menatap ke arahnya dengan raut wajah yang penasaran.


"Sialan... ternyata benar kata orang, kembali ke masa lalu bukanlah merubah segalanya, melainkan membuat semuanya kembali terulang namun dengan cara yang berbeda." ucap Edrea dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya berpura pura memasang wajah tenang seakan akan baru bertemu dengan Jaya.


"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Edrea kepada Fahri yang terlihat tengah memasang wajah yang serius pada kursi kebesarannya.


"Bukan saya yang ingin bicara dengan mu melainkan dia..." ucap Fahri sambil menunjuk ke arah sofa dengan ekor matanya, membuat Edrea lantas dengan spontan langsung berbalik badan dan melirik siapa yang tengah di maksud oleh Fahri saat ini.


"Sudah ku duga..." ucap Edrea sambil memutar bola matanya dengan jengah.

__ADS_1


Sedangkan Jaya yang melihat Edrea mulai menatap ke arahnya, lantas langsung bangkit dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea.


Bak sebuah kaset lama yang di putar kembali, Jaya yang melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea, lantas meminta sebuah ruangan kosong atau tidak di pakai untuk ia gunakan ketika berbicara dengan Edrea.


***


Ruangan sebelah


Keheningan terjadi di antara keduanya, membuat Edrea merasa tidak nyaman berada di tempat ini berlama lama dengan Jaya. Sedangkan Jaya yang sedari tadi diam, hanya mengetuk ketukan jari tangannya saja secara berulang kali tanpa membuka pembicaraan sama sekali, membuat Edrea di buat semakin kesal akan tingkah dari Jaya.


"Jika saya boleh tahu... ada keperluan apa ya bapak memanggil saya hingga ke sini?" ucap Edrea memulai pembicaraan karena gemas akan tingkah Jaya yang sedari tadi hanya diam dan tidak bersuara.


Jaya yang mendapat pertanyaan tersebut, langsung menghentikan gerakan tangannya kemudian bangkit dan melangkahkan kakinya secara perlahan memutari meja tersebut.


"Entahlah saya juga bingung, saya merasa pertemuan kita kali ini seperti layaknya dejavu... entah saya yang mengigau atau pikiran saya yang aneh... saya juga bingung." ucap Jaya yang lantas membuat Edrea langsung menghela nafasnya dengan kasar.


"Bapak bisa aja... kitakan gak saling kenal, tidak mungkin tiba tiba bisa saling terikat bukan?" ucap Edrea mencoba untuk berdalih.


Mendengar jawaban dari Edrea barusan, membuat Jaya lantas menghela nafasnya dengan panjang kemudian kembali duduk dan langsung menatap Edrea dengan tatapan yang penuh menelisik.


"Baiklah kalau menurut mu itu hanyalah pemikiran ku saja, tujuan ku meminta mu datang ke mari karena aku ingin menanyakan satu hal padamu... bagaimana kamu bisa tahu bahwa Firmansyah adalah dalang di balik peristiwa bunuh diri salah satu mahasiswa di kampus ini?" ucap Jaya kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Edrea.


Sedangkan Edrea yang mendengar ucapan Jaya barusan, tentu saja terkejut karena tadinya ia mengira Jaya akan kembali menanyainya tentang penemuan mayat untuk yang kedua kalinya, tapi ternyata bukan?


"Loh... jadi bukan karena mayat itu aku di panggil kemari?" ucap Edrea dalam hati sedikit merasa kebingungan.

__ADS_1


"Jadi.. bisakah kamu jelaskan padaku tentang kronologinya?" tanya Jaya kemudian.


"Sebelumnya saya minta maaf karena saya tidak bisa menjawab pertanyaan dari bapak, bukan karena saya berbohong atau apa... hanya saja saya tidak berada di lokasi kejadian saat itu, bukankah segala bukti bukti yang saya serahkan kemarin sudah cukup menjawab semua pertanyaan bapak bapak?" ucap Edrea yang lantas membuat Jaya langsung terdiam memikirkan kembali ucapan Reno kemarin.


"Jika kamu tidak berada di sana, bagaimana kamu bisa mengetahui segalanya? bukankah itu sedikit aneh?" tanya Jaya kembali dengan raut wajah yang penasaran.


Edrea yang kembali mendapat pertanyaan tersebut namun dengan tata bahasa yang berbeda, lantas mulai memutar otaknya memikirkan jawaban apa yang akan ia gunakan untuk membungkam mulut polisi ini namun tidak membuatnya curiga. Hingga sebuah ide mendadak terlintas di benaknya, membuat Edrea langsung tersenyum dengan tipis ketika terpikir ide tersebut.


"Apakah bapak pernah mendengar tentang mereka yang tidak terlihat? saya adalah satu dari berjuta juta makhluk di dunia yang di berikan kemampuan untuk melihat mereka, apakah bapak di rumah sering merasa tidak bisa tidur dan gelisah seperti ada orang lain di rumah bapak?" ucap Edrea kemudian yang langsung membuat Jaya melotot ketika mendengar ucapannya.


"Ja... jangan bercanda kamu..." ucap Jaya kemudian, namun Edrea malah memposisikan tubuhnya condong ke arah depan kepada Jaya seakan hendak membisikkan sesuatu.


"Ada arwah anak kecil yang ikut pulang bersama bapak ketika bapak bertugas beberapa hari yang lalu." ucap Edrea dengan nada yang berbisik, membuat Jaya langsung menelan salivanya dengan kasar karena terkejut Edrea mengetahuinya.


"Se... sebaiknya kita sudahi saja kali ini, kamu boleh pergi sekarang." ucap Jaya kemudian membuat Edrea lantas langsung menahan senyumnya ketika melihat perubahan ekspresi yang di tunjukkan oleh Jaya barusan.


***


Setelah keluar dari ruangan tersebut Edrea benar benar tersenyum dengan puas karena berhasil mengerjai Jaya barusan, sebenarnya Edrea tidak tahu apa sosok anak kecil itu benar benar menghantui Jaya atau tidak, hanya saja sebelum masuk ke ruangan sebelah, Edrea seperti melihat bayangan sekelebat sosok arwah anak kecil yang entah dari mana asalnya.


"Sepertinya aku cocok juga jadi seorang cenayang..." ucap Edrea dalam hati masih sambil senyum senyum tidak jelas.


Langkah kaki Edrea yang semula ringan dan penuh dengan senyum, langsung terhenti seketika di saat bayangan yang tak asing mendadak melintas tidak jauh dari tempatnya berada.


"Jangan bilang akan ada korban baru lagi!" pekik Edrea dalam hati menerka nerka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2