
Di area depan Cafe
Setelah Barra, Mira dan juga Edrea memutuskan untuk berpisah di sana, Edrea malah memutuskan untuk menunggu sebentar di area depan Cafe hingga Indri pulang, jujur saja Edrea masih benar benar kepo dan penasaran akan sosok yang mengikuti Indri tadi ketika berpapasan dengannya.
"Mungkin menunggu di sini sebentar saja kali ya? lagi pula ini sudah sore, aku yakin sebentar lagi pelayan itu akan pulang dan menyelesaikan shiftnya." ucap Edrea sambil mendudukkan dirinya di bangku taman yang terletak tidak jauh dari area Cafe tersebut.
Satu jam kemudian...
Dua jam kemudian...
.
.
.
.
.
Hingga beberapa jam kemudian Edrea menanti kepulangan Indri, namun hingga pukul sepuluh malam Indri tak kunjung pulang juga membuat Edrea mulai bosan menunggu dan tampak menguap sedari tadi tanpa henti. Antara bosan dan juga mengantuk berkumpul menjadi satu, belum lagi nyamuk yang terus terusan mengerubutinya berebut darah miliknya, membuat Edrea kian kesal dan ingin menyerah saja.
Edrea yang mulai lelah menunggu lantas langsung bangkit dari posisinya, sambil menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal hendak protes namun tidak tahu protes dengan siapa. Hingga kemudian sebuah langkah kaki yang terdengar riuh di sertai lampu Cafe yang mulai terlihat padam, lantas mengurungkan niatannya yang hendak beranjak pergi dari sana.
__ADS_1
Edrea yang melihat Indri sudah mulai berpisah dengan teman temannya dan melangkahkan kakinya menyusuri area trotoar, membuat Edrea lantas langsung melangkahkan kakinya menyusul Indri dan mengikutinya secara perlahan dengan sembunyi sembunyi. Dalam langkah kakinya yang mengikuti Indri secara perlahan, Edrea mulai menatap Indri dengan tatapan yang menelisik seakan mencoba untuk mencari apa yang aneh pada gadis di hadapannya ini.
Selangkah demi selangkah terus Edrea lalui dengan pikiran yang melamun mencoba mencari tahu apa yang salah, hingga ketika langkah kaki Indri yang kian cepat membuat Edrea semakin tertinggal jauh dari Indri, sehingga membuat Edrea langsung mengambil langkah kaki yang besar untuk menyusul langkah kaki Indri yang kian menjauh.
"Apa dia menyadari kehadiran ku? mengapa langkah kakinya kian cepat?" ucap Edrea pada diri sendiri sambil terus melangkahkan kakinya menyusul Indri.
Keduanya terus mempercepat langkah kaki mereka masing masing, di mana Indri yang merasa seperti sedang di kejar seseorang sehingga ia terus mempercepat langkah kakinya, sedangkan Edrea yang mengira Indri hendak kabur lantas mengambil langkah kaki besar dan berusaha untuk menyusul Indri, Hingga ketika Indri sampai di depan rumah kontrakannya, Indri terlihat terburu buru membuka pintu rumah kontrakannya namun sayangnya ia sama sekali tidak menemukan kuncinya di manapun. Edrea yang melihat Indri seperti orang yang ketakutan, lantas berniat untuk mengatakan pada Indri bahwa dirinya sama sekali tidak berniat jahat sama sekali kepada Indri.
"Hei..." panggil Edrea kemudian namun terpotong karena tiba tiba sekelebat bayangan datang dan langsung menariknya untuk berteleportasi sedikit menjauh dari tempatnya berada semula.
Sedangkan Indri yang terkejut ketika mendengar sebuah suara barusan, lantas tanpa sengaja menjatuhkan tasnya dan membuat barang barangnya berserakan, dengan gerakan yang ketakutan sambil mengambil beberapa barangnya yang berserakan, Indri mulai memberanikan diri menatap ke arah sumber suara untuk melihat siapa gerangan pemilik suara tersebut.
Helaan nafas lantas terdengar dari mulut Indri ketika ia melihat ke arah belakangnya dan tidak ada siapapun di sini. Melihat ini sudah mulai tidak beres, Indri kemudian mempercepat gerakannya dan membuka pintu kontrakannya dengan bergegas lalu masuk ke dalamnya.
***
Sementara itu Edrea yang di bawa berteleportasi ke tempat yang cukup jauh, lantas langsung berusaha melepaskan genggaman tangan seseorang yang melingkar erat di pergelangan tangannya.
"Hentikan ini aku." ucap sebuah suara yang tidak asing di pendengaran Edrea.
Edrea yang tadinya hendak melawan, mendengar suara tersebut tentu saja langsung menghentikan gerakannya dan dengan spontan menatap ke arah sumber suara.
"Mira? apa yang kamu lakukan? argh... kamu merusak rencana ku..." ucap Edrea dengan kesal begitu mengetahui bahwa yang membawanya berteleportasi barusan adalah Mira.
__ADS_1
"Rencana? maksud mu mengendap endap seperti pencuri itu rencana mu? kau bisa di curigai oleh orang orang jika terus membuntutinya seperti itu, kau kira aku tidak tahu apa yang kau lakukan sejak tadi sore?" ucap Mira kemudian sambil berdecak kesal akan sikap Edrea yang aneh dan seakan terobsesi dengan Indri.
Edrea yang mendengar ucapan Mira barusan lantas terdiam sebentar, Edrea merutuki kebodohannya karena tidak menyadari bahwa Mira sedari tadi sore memperhatikan gerak geriknya. Jika tahu Mira memperhatikannya mungkin Edrea akan lebih memilih pulang dan tidak meneruskan niatan keponya itu.
"Kau tidak tahu apapun, ada yang salah dengan gadis itu dan aku tidak bisa tinggal diam begitu saja, cobalah untuk mengerti... aku sudah berusaha mengacuhkannya tapi aku sama sekali tidak bisa...." ucap Edrea pada akhirnya, berbohong pun percuma karena Mira pasti akan terus mendesak Edrea untuk mengatakannya hingga detail.
"Lagi lagi masalah sifat empati mu yang berlebihan itu, tidak bisakah kau sedikit mengacuhkannya?" ucap Mira kali ini dengan nada yang lebih rendah.
Edrea yang mendengar ucapan Mira hanya bisa menggeleng dengan kuat, perasaan empati yang berlebih terkadang sering sekali mengganggunya sekaligus mendorong Edrea untuk masuk dan ikut campur dengan urusan orang lain. Memang tidak ada yang salah dengan perasaan tersebut hanya saja terkadang sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik dan Edrea juga merasakan hal tersebut, namun sayangnya ia sama sekali tidak bisa mencegahnya jika itu menyangkut keselamatan seseorang.
Mira yang melihat ekspresi wajah Edrea itu hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang, Mira tentu tidak bisa menyalahkan Edrea begitu saja karena hal itu bukanlah keinginan Edrea sendiri, jadi jika sudah seperti ini menyalahkannya pun akan sangat sia sia.
"Lalu apa sekarang?" tanya Mira pada akhirnya.
Mendengar ucapan Mira barusan membuat Edrea langsung dengan spontan mendongak ke arah Mira dan tersenyum dengan lebar, Edrea benar benar tidak mengira bahwa Mira akan membantunya memecahkan teka teki tentang gadis itu.
"Apa kau sungguh ingin membantu ku?" tanya Edrea sekali lagi mencoba untuk memastikan bahwa barusan Edrea tidak salah dengar.
Mira mengangguk dengan perlahan yang lantas membuat Edrea mulai tersenyum ketika melihat jawaban dari Mira barusan, Edrea kemudian mulai menceritakan alasan mengapa ia sampai mengikuti Indri hingga detik ini, Mira yang mendengar cerita Edrea hanya bisa terdiam sambil mencoba mencerna ucapan Edrea sekaligus mencari solusi dari permasalahan ini. Hingga kemudian ketika Edrea dan juga Mira tengah berbincang sebuah aura gelap nampak tercium oleh Mira dan juga Edrea, membuat keduanya langsung diam seketika.
"Apa kamu juga merasakannya?" ucap Edrea kemudian.
Bersambung
__ADS_1