
Edrea yang langsung berteleportasi ke kamarnya, lantas langsung merebahkan tubuhnya begitu saja ke ranjang empuk kesayangannya, sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut yang terbentang rapi di kasurnya. Pikiran Edrea melayang jauh memutar kembali segala kenangan tentang Barra dan juga dirinya, entah mengapa mendengar ucapan Barra yang tidak bisa memilih dan terus berkelit membuat hatinya menjadi terluka. Sejak awal Edrea bahkan sudah membatasi dirinya agar tidak jatuh hati pada sosok Barra namun ternyata sikap Barra yang begitu manis, perlakuan kecilnya yang menggetarkan hati membuat benteng di hati Edrea perlahan lahan mulai terkikis dan hancur.
Edrea yang mengira bahwa Barra juga merasakan hal yang sama dengannya, lantas malah terbang semakin tinggi dan menembus cakrawala membawa perasaan cinta yang kian membesar di hatinya. Edrea kembali meneteskan air matanya di balik selimut yang kini menutupi area wajahnya dalam posisi tengkurap. Dalam tangis yang tersedu Edrea mulai merutuki kebodohannya yang tidak bisa menjaga hatinya agar tetap pada pendiriannya.
"Sepertinya aku yang bodoh karena menganggap perlakuannya sangat spesial, hingga aku melupakan bahwa aku dan dia tentu dua hal yang berbeda hiks hiks..." ucap Edrea dengan nada yang tersendat karena menahan isak tangisnya.
Edrea yang terus saja meluapkan kesedihannya, lantas mendadak mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya yang terus terdengar menggema, hingga dengan seketika menghentikan tangisannya ketika mendengar suara tak asing dari balik pintu kamarnya barusan.
Tok tok tok
"Rea apakah kamu di dalam?" ucap Sita sambil mengetuk pintu kamar Edrea lagi karena ketika Sita melewati kamar Edrea barusan Sita seperti mendengar suara orang yang sedang menangis, membuat Sita lantas langsung dengan spontan mengetuk pintu kamar Edrea karena khawatir akan keadaan cucunya itu.
Edrea yang mendengar suara Sita dari arah luar pintu kamarnya, lantas langsung memperbaiki posisinya sambil mengusap dengan kasar air mata yang membasahi pipinya. Edrea mencoba berdehem dengan pelan dan memperbaiki nada suaranya yang sengau karena menangis sedari tadi.
"Iya Oma.. Rea ada di dalam, kenapa Oma?" tanya Edrea kemudian mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Apa kamu mau makan es krim bersama Oma? sepertinya kita sudah lama tidak bercerita bersama." tawar Sita kemudian.
Entah mengapa, walau Sita telah mendengar suara Edrea barusan rasanya tetap saja masih belum bisa menenangkan hati Sita yang jelas jelas yakin bahwa tadi Sita mendengar Edrea menangis di kamarnya. Sita benar benar khawatir akan cucunya itu sehingga mencoba untuk menawarkan es krim kepada Edrea karena Sita tahu bahwa Edrea sangat menyukai es krim.
"Lain kali saja Oma, hari ini soalnya Edrea capek banget mau tidur sebentar." ucap Edrea dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Apa kamu yakin Rea?" tanya Sita kembali memastikannya.
"Iya Oma" ucap Edrea lagi dari dalam kamarnya.
Sedangkan Sita yang kembali mendengar suara cucunya barusan, lantas hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar kemudian berlalu pergi dari sana. Mungkin saat ini Edrea sedang ingin sendiri, hal itulah yang membuat Sita pada akhirnya memilih untuk pergi dan memberikan waktu kepada Edrea untuk menenangkan dirinya saat ini.
**
Stasiun Pemberhentian
"Tidak bisakah kamu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk?" ucap Max dengan nada yang kesal.
"Katakan apa? awas saja jika sampai berita yang kau bawa sama sekali tidak penting." ucap Max dengan nada yang ketus.
Mendengar ucapan Max barusan, lantas langsung membuat Arya memberikan iPad yang sedari tadi ia pegang kepada Max. Dengan gerakan yang malas Max mulai menerima iPad tersebut dan melihat apa yang kini hendak di tunjukkan oleh Arya kepadanya. Beberapa detik berselancar pada iPad pemberian Arya, Max lantas terkejut ketika melihat sebuah pesan penjemputan arwah seseorang yang tentu saja ia kenal semenjak kehadiran Edrea di Stasiun Pemberhentian ini. Max yang tidak terlalu yakin dan mengira ini hanya sebuah tipuan, lantas kembali membaca satu persatu profil serta biodata dari arwah yang akan Arya jemput itu.
"Apa kau yakin ini bukanlah berita palsu?" tanya Max dengan mata yang masih menatap intens ke arah layar iPadnya.
"Apa kau kira aku akan seheboh ini jika hanya ingin mengerjai mu?" ucap Arya yang lantas membuat Max langsung menatapnya tajam karena Arya malah membalas pertanyaannya dengan pertanyaan kembali.
Max yang malas berdebat dengan Arya, lantas kemudian melangkahkan kakinya dengan bergegas meninggalkan ruangannya hendak memberi tahu kabar ini kepada Barra, hanya saja baru beberapa kali melangkah panggilan dari Arya lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan spontan.
__ADS_1
"Mau kemana kau?" tanya Arya dengan nada yang setengah berteriak ketika melihat Max yang melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya sendiri.
"Tuan Barra harus tahu akan informasi ini!" ucap Max yang lantas membuat Arya malah menghela nafasnya dengan panjang ketika mendengar ucapan Arya barusan.
"Jika tuan Barra ada di ruangannya tentu aku tidak akan datang ke sini dan memberikan laporan itu kepadamu, bukankah begitu Max?" ucap Arya dengan nada yang menyindir.
Sedangkan Max yang mendengar sindiran dari Arya barusan, bukannya menjawab dengan kesal malah langsung terdiam seribu bahasa seakan tengah berpikir kemana perginya Barra saat ini. Hingga pada akhirnya Max yang baru teringat akan tugas dan juga laporan yang mendadak menumpuk di mejanya kini akhirnya mengerti penyebabnya.
"Tuan benar benar keterlaluan..." ucap Max dengan nada yang menggerutu kesal, namun sayangnya tidak bisa terdengar oleh Arya yang kini hanya menatap ke arah Max tanpa mengatakan hal apapun lagi.
****
Di sebuah taman terbuka hijau yang terletak di sekitar pinggiran kota, terlihat Barra tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah sebuah pohon beringin besar yang terlihat berdiri kokoh di sudut taman tersebut. Barra menghentikan langkah kakinya tepat di pohon besar itu kemudian merabanya secara perlahan.
"Kau sudah kembali tumbuh besar rupanya, walau perubahan zaman terus berkembang, tapi kau tetap bertahan meski terganti dengan tunas tunas yang baru." ucap Barra dengan nada yang lirih sambil tersenyum simpul menatap ke arah pohon tua tersebut.
Bayangan kenangan di masa lalu mendadak terlintas begitu saja di benaknya, tempat ini adalah tempat di mana Barra dan juga gadis berwajah mirip dengan Edrea bertemu dan juga bermain bersama. Hanya saja seiring berjalannya waktu hutan yang asri dan tak terjamah oleh tangan manusia, perlahan lahan berubah mengikuti perkembangan zaman.
"Apa kau mau bernostalgia dengan datang kemari?" ucap sebuah suara yang lantas langsung membuat Barra menoleh dengan seketika.
Bersambung
__ADS_1