Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Sebuah penglihatan masa lalu


__ADS_3

Di sebuah tempat di Stasiun pemberhentian di mana tempat tersebut biasanya digunakan untuk bertapa atau memulihkan kekuatan, terlihat Barra tengah menempa sesuatu siang dan malam. Sudah berhari-hari Barra berada di dalamnya melakukan sesuatu hal yang Max tidak tahu apa itu.


Mira yang ingin bertemu dengan Barra lantas menghentikan langkah kakinya ketika ia sama sekali tidak menemukan Barra di ruangannya. Dengan langkah kaki yang bergegas Mira mulai melangkahkan kakinya ke ruangan Max untuk bertanya di mana keberadaan Barra saat ini.


"Apa kau tahu di mana Barra?" tanya Mira sambil menunjuk ke ruangan sebelah di mana tempat ruangan Barra berada.


"Tuan sedang tidak bisa diganggu, jika ada sesuatu kamu bisa mengatakannya kepadaku." ucap Max yang menatap dengan raut wajah penasaran ke arah Mira.


"Kemana dia hingga tidak ingin diganggu?" tanya Mira sambil mendekat ke arah Max dengan memasang raut wajah yang juga penasaran.


"Ke suatu tempat" ucap Max dengan nada yang singkat sedangkan Mira yang mendengarkan ucapan Max sama sekali tidak mengobati rasa penasarannya malah semakin menambahnya.


**


Di dalam sebuah ruangan terlihat Barra terus memberikan energi miliknya pada sebuah bambu runcing berwarna kuning keemasan, yang terlihat menjadi transparan begitu bambu runcing tersebut tercampur dengan energi milik Barra yang sudah ia kumpulkan selama berhari-hari.


Sebuah kilauan cahaya muncul dan menerangi ruangan tersebut yang berasal dari bambu runcing yang sedang di tempa oleh Barra menggunakan energi miliknya, seiring dengan cahaya itu Barra langsung terduduk di tanah dengan wajah yang begitu pucat. Sepertinya Barra terlalu memaksakan dirinya untuk memusatkan segala energi miliknya dan mengumpulkannya pada bambu tersebut.


Ditatapnya bambu buatannya itu dengan senyum yang tipis.


"Setidaknya aku sudah bersiap jika memang Siluman ular hitam itu akan datang, meski senjata ini tidak bisa membunuhnya tapi setidaknya senjata ini bisa menyerap semua energi dan melumpuhkannya." ucap Barra sambil tersenyum karena segala jerih payahnya akhirnya terbayarkan juga.


***

__ADS_1


Mansion milik Ibu


Ibu yang sedari tadi tengah merangkai bunga-bunga kesayangannya, lantas terhenti ketika jari tangannya tertusuk oleh sebuah duri yang berasal dari bunga mawar. Ibu yang melihat ada noda darah pada jari tangannya lantas terlihat menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa, hingga setitik darah tersebut menetes ke tanah dan mengeluarkan sebuah asap, membuat Ibu langsung menghela nafasnya dengan panjang.


Sambil mendudukkan bokongnya pada kursi, Ibu menatap kosong ke arah depan kemudian tersenyum sekilas seakan Ibu mengetahui jika sesuatu akan terjadi sebentar lagi.


"Memang ini bukanlah akhir dari masa lalu tapi sebuah fakta mengejutkan akan diketahui oleh Barra yang mungkin akan merubah cara pandangnya pada Siluman ular tersebut. Aku berharap sesuatu yang baik akan terjadi." ucap Ibu dengan nada yang lembut kemudian kembali bangkit dan meneruskan kegiatannya merangkai bunga, setelah membalut jari tangannya dengan plester.


***


Di sebuah hutan


"Apa yang sedang kau tunggu Bar? Ayo keluarkan belati mu dan akhiri segalanya hari ini!" teriak Edrea dengan tawa yang menantang, namun berhasil membuat Barra tertegun seketika karena pada akhirnya ia tahu apa yang hilang dari dirinya selama ini.


Sepertinya Barra benar-benar lupa dengan belati antik yang menjadi alat di mana ia menghabisi nyawa nyimas dan juga Siluman ular tersebut di masa lalu. Setelah beratus-ratus tahun lamanya Barra menyimpan belati tersebut, tepat ketika kedatangan Edrea sebagai pelayannya belati itu mendadak hilang ketika Edrea tanpa sengaja menyentuh belati tersebut disaat menemukan ruang rahasianya.


Edrea yang melihat Barra terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu, dengan tersenyum menyeringai lantas mulai membalikkan keadaan dan kini berganti menduduki tubuh Barra sambil mencengkram leher Barra dengan eratnya.


"Jika memang kau tidak bisa mengakhirinya, biar aku yang melakukannya!" teriak Edrea dengan kesetanan.


Setelah mengatakan hal tersebut Edrea mulai memusatkan segala energinya dan mengumpulkannya ke dalam telapak tangannya. Sebuah kilauan cahaya berwarna merah terang terlihat muncul di atas telapak tangan Edrea. Tanpa menunggu Barra melakukan perlawanan Edrea mulai mengarahkan tangan tersebut tepat ke arah dada Barra, membuat sebuah dentuman keras terdengar di sekitaran keduanya.


Sebuah darah segar berwarna kehitaman keluar dari mulut Barra, pria itu kini sedang menahan segala rasa sakit di area dadanya. Hanya saja Barra yang mulai merasa kehabisan energi, tanpa Edrea sadari tangan sebelah kanannya mulai mengeluarkan sesuatu seperti bambu kuning berwarna keemasan namun terlihat transparan begitu bambu tersebut di pegang dengan erat olehnya.

__ADS_1


"Kau tahu apa yang menarik Bar? Jika dahulu kau yang menghabisi perempuan ini kini biar aku yang mengganti kisahnya dengan dia yang menghabisi mu, bukankah hal itu lebih baik?" ucap Edrea dengan tawa yang keras.


Hanya saja pada detik berikutnya tawa keras yang berasal dari Edrea langsung lenyap seketika begitu Barra yang tanpa aba-aba langsung menancapkan bambu yang ia pegang tepat ke area dada Edrea dan mengejutkan Edrea yang tidak menyangka bahwa Barra akan melakukannya.


"Aku.. tidak uhuk akan membiarkan kamu... melakukan itu! Sampai kapan pun hanya... aku yang bisa mengubah takdirnya!" ucap Barra sambil menahan rasa sakit di area dadanya sedangkan tangannya semakin menggerakkan bambu tersebut ke arah Edrea.


Secara perlahan serangan dari Edrea kian melemah seiring dengan bambu runcing yang semakin menancap di dadanya. Ketika sebuah darah berwarna hitam keluar dari dada Edrea dan mulai membasahi tangan Barra, sebuah penglihatan yang sama sekali tidak Barra duga sebelumnya lantas terlihat berputar di kepalanya, membuat Barra langsung tertegun seketika di saat mendapat penglihatan tersebut.


Barra seakan dibawa ke sebuah kejadian di masa lalu tepat ketika ia belum lahir. Dalam penglihatannya terlihat seorang pemuda tampan yang sedang bercumbu dengan seorang putri nan cantik. Barra yang penasaran akan sosok putri tersebut lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya yang sedang asyik menikmati keindahan syurga dunia.


Perlahan tapi pasti langkah kaki Barra membawanya mendekat ke arah dipan berukuran besar tersebut, dimana seorang pemuda dan juga seorang wanita cantik terlihat sedang bercumbu dengan mesra di sana.


"Angkara hentikan kau menyakiti ku... lihatlah semuanya merah di mana-mana" ucap wanita itu dengan nada yang manja.


"Maafkan saya putri, setelah ini saya janji akan memperlakukan mu dengan lembut." ucap Angkara sambil berusaha membujuk wanitanya yang terdengar marah itu.


"Sungguh ya? Jangan berbohong!" ucap wanita tersebut sambil menatap ke arah Angkara yang langsung di balas anggukan kepala olehnya.


Barra yang seperti tak asing akan suara dari wanita tersebut terus mempercepat langkah kakinya, hingga ketika ia sampai tepat di samping dipan tersebut dan menatap ke arah samping betapa terkejutnya Barra ketika melihat tebakannya benar tentang wanita yang bersama pemuda tampan tersebut.


"Ibunda..." ucap Barra dengan nada yang lirih.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2