
Barra yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Edrea, lantas sedikit merasa ada yang aneh dengan Edrea saat ini. Bukan karena Edrea yang tiba tiba mengetahui kebenarannya, melainkan karena tepat ketika Edrea mendongak dan menatap ke arahnya. Manik mata miliknya sekilas berkilap dan tampak seperti manik mata ular ketika terkena cahaya rembulan, sehingga membuat Barra sedikit tersentak ketika melihatnya.
"Apakah aku sedang berhalusinasi?" ucap Barra dalam hati sambil terus memperhatikan Edrea tanpa berkedip sedikitpun.
"Bar... Bara... apa kamu mendengarkan ku?" ucap Edrea karena Barra terlihat hanya menatapnya sambil terdiam tanpa merespon ataupun menanggapi ucapannya.
"Iya iya aku dengar tidak usah berteriak seperti itu." ucap Barra kemudian tersadar dari lamunannya karena mendengar suara Edrea yang nyaring.
"Jika kamu mendengarnya, coba ulangi apa yang aku katakan barusan." ucap Edrea dengan tatapan yang menelisik seakan tidak percaya begitu saja akan ucapan Barra barusan.
Barra terdiam sejenak memikirkan ucapan Edrea barusan karena jujur saja Barra tidak terlalu mendengarnya dengan jelas kecuali kata kata menyesal yang keluar dari mulut Edrea.
"Baiklah baiklah aku memaafkan mu..." ucap Barra sambil melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana.
"Sungguh? apakah itu benar? tunggu aku Bar..." teriak Edrea sambil mengejar langkah kaki Bara yang kini sudah berada di depannya.
***
Keesokan paginya di kampus
Edrea terlihat melangkahkan kakinya dengan senyum yang mengembang menghiasi wajah cantiknya. Sebuah panggilan dari suara yang tidak asing mulai terdengar di telinganya, membuat Edrea lantas langsung dengan spontan menghentikan langkah kakinya.
"Rea" panggil Kiera yang berada tidak jauh dari tempat Edrea berdiri.
"Hai" balas Edrea dengan senyum yang mengembang, membuat Kiera yang baru saja menghentikan langkah kakinya menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang bingung.
"Tumben cerah? bagi bagi dong kalau ada kabar baik jangan di pendem sendiri." ucap Kiera dengan nada yang menyindir, membuat Edrea langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal begitu mendengar ucapan dari Kiera barusan.
"Semuanya normal dan seperti biasanya, hanya saja aku sedikit senang karena suasana kampus pagi ini begitu tenang." ucap Edrea berdalih, lagi pula tidak mungkin kan Edrea menceritakan yang sebenarnya pada Kiera tentang apa yang terjadi semalam.
__ADS_1
"Apa kau yakin? sepertinya bukan karena hal itu..." ucap Kiera dengan tatapan yang menelisik dan tidak langsung percaya begitu saja kepada Edrea.
"Sungguh... sudahlah mending kita ke kantin saja dari pada harus mendebatkan hal yang tidak perlu." ajak Edrea kemudian sambil menarik tangan Kiera agar mengikuti langkah kakinya menuju ke arah kantin.
Edrea dan juga Kiera lantas terus melangkahkan kaki mereka menuju ke arah kantin sambil bersenda gurau membahas banyak hal, hingga ketika keduanya sampai di lorong kampus Edrea yang fokus menatap ke arah Kiera, tanpa sadar menabrak seseorang hingga membuat keduanya hampir jatuh secara bersamaan jika saja Kiera tidak sigap memegangi tubuh Edrea agar tidak jatuh.
"Ah maafkan aku... aku benar benar tidak sengaja." ucap Edrea sambil berusaha memunguti beberapa buku milik seseorang yang Edrea tabrak barusan, begitu pula dengan Kiera yang juga sibuk membantunya.
Ketika Edrea sedang sibuk memunguti buku buku milik seseorang yang ia tabrak, pandangannya tanpa sengaja berpapasan dengan manik mata gadis itu. Pandangan mata gadis itu terasa aneh ketika menyapa manik mata milik Edrea, terasa kosong dan hampa seakan tengah memendam beban yang sangat berat di pundaknya.
"Sila?" ucap Edrea ketika mengenali seseorang yang ia tabrak barusan.
Sila yang merasa namanya di panggil, lantas langsung mendongak dan memperhatikan dengan cermat ke arah Edrea.
"Em...." ucap Sila mencoba untuk mengingat ingat sosok gadis cantik dan ceria di hadapannya.
"Ah Edrea, ia aku mengingat mu.... kita berdua adalah tetangga sebelum akhirnya aku pindah rumah sekaligus pindah sekolah waktu itu kan?" ucap sila sambil mencoba untuk tersenyum ke arah Edrea.
"Apa kabar mu? aku benar benar merindukan mu... oh ya kenalin ini Kiera teman ku." ucap Edrea sambil memeluk tubuh Sila dengan bahagia dan memperkenalkan Kiera padanya.
"Baik... halo aku Sila" ucap Sila kemudian sambil tersenyum ke arah Kiera.
Ketiganya kemudian lantas melanjutkan obrolan mereka dengan obrolan santai, hingga beberapa menit kemudian Sila nampak mengakhiri obrolannya dan berpamitan kepada Edrea dan juga Kiera untuk masuk ke kelas.
"Apa kau merasa ada yang aneh dengannya Rea?" ucap Kiera sambil melirik ke arah punggung Sila yang terlihat berjalan semakin jauh meninggalkan keduanya.
"Ya kau benar, wajahnya tampak sangat pucat dan tatapannya pun kosong seakan akan ia sedang menyimpan beban yang sangat berat." ucap Edrea yang juga ikut menatap kepergian Sila dari sana.
Edrea yang sudah tidak lagi melihat Sila di pandangannya, lantas memutar kepalanya dan lagi lagi pandangannya terhenti ketika ia tidak sengaja melihat sosok Arya yang tengah memandangi Sila sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Tidak mungkin Sila akan meninggal bukan?" ucap Edrea dalam hati bertanya tanya.
"Apa ada sesuatu Rea?" tanya Kiera ketika melihat Edrea seperti tengah melamun memikirkan sesuatu.
"Ha? apa Ki?" ucap Edrea kemudian yang tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara cempreng milik Kiera.
"Kau sedang memikirkan apa?" ulang Kiera lagi karena Edrea belum menjawab pertanyaannya sedari tadi.
"Aku... aku hanya lapar karena belum sarapan saja, mangkanya aku sibuk berpikir makanan apa yang akan aku beli nanti di kantin." ucap Edrea mencoba mencari alasan yang pas agar Kiera tidak kembali bertanya tanya lagi.
"Sialan kau, ku kira kamu sedang ada masalah atau apa? benar benar menyebalkan..." ucap Kiera dengan nada yang kesal.
"Sudah tidak perlu ngambek, ayo kita ke kantin aku sudah lapar nih." ajak Edrea kemudian sambil menarik tangan Kiera agar segera berjalan menuju ke arah kantin.
****
Ruangan Barra
Barra terlihat tengah duduk dengan termenung di kursi kebesarannya, membayangkan apa yang baru saja terjadi dan ia lihat di kantor polisi tadi. Barra mempertajam ingatannya kembali, sambil terus mengingat ingat manik mata Edrea kala itu.
"Aku yakin sekali manik mata Edrea berubah seperti manik mata seekor ular waktu itu, hanya saja apa alasannya?" ucap Barra dalam hati bertanya tanya sambil terus mengetuk ketukan jarinya pada meja kerja miliknya.
Sebuah bayangan kelam di masa lalu mendadak terlintas di benak Barra, ketika ia tengah memikirkan tentang perubahan manik mata Edrea.
"Tidak mungkin kan?" pekik Barra ketika teringat tentang kejadian di masa lalu.
"Apa yang tidak mungkin menurut mu?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Barra dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.
Bersambung
__ADS_1