
"Terima kasih banyak nak, ingatlah ini nak terkadang kenyataan di masa lalu sangatlah menyakitkan... tapi bukankah tujuan dari reinkarnasi adalah untuk memperbaiki kehidupan di masa lalu? masa sekarang ada karena masa lalu. Jadi jika kamu di beri kesempatan ada di masa sekarang maka itu adalah satu kesempatan untuk mu merubah kehidupan pahit mu di masa lalu. Jangan hanya terjebak akan kenangan pahit di masa lalu nak." ucap nenek nenek tersebut yang lantas membuat raut wajah Edrea berubah seketika.
"Bagaimana nenek bisa tahu?" ucap Edrea kemudian dengan manik mata yang kebingungan menatap ke arah nenek nenek penjual buah tersebut.
Sang nenek yang mengetahui wajah terkejut Edrea, hanya menanggapinya dengan tersenyum kemudian sambil menunjuk ke arah atas seakan seperti memberi isyarat kepada Edrea, namun Edrea tidak mengerti apa maksud dari isyarat nenek tersebut, hingga membuat Edrea semakin kebingungan akan maksud dari ucapan nenek nenek tersebut.
"Apa maksud nenek? Rea benar benar tidak mengerti." ucap Edrea dengan raut wajah yang penasaran menunggu jawaban dari nenek itu.
Hanya saja sebuah panggilan yang tidak asing di pendengarannya, lantas terdengar dan langsung membuat Edrea menoleh dengan seketika ke arah sumber suara.
"Rea" panggil Kiera dari arah lorong kampus sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea tengah berada saat ini.
Edrea yang melihat panggilan itu berasal dari Kiera, lantas kembali menolehkan kepalanya hendak kembali bertanya kepada nenek nenek tersebut, namun sayangnya nenek nenek itu sudah menghilang dari hadapannya, membuat Edrea lantas langsung celingukan ke sana ke mari mencari keberadaan nenek nenek penjual buah yang baru saja berbicara dengannya.
"Kamu sedang mencari apa?" tanya Kiera ketika melihat wajah bingung Edrea yang menatap ke sana ke mari seperti tengah mencari sesuatu.
"Aku sedang mencari seorang nenek nenek." ucap Edrea dengan tatapan yang masih bingung.
"Jangan bercanda, sedari tadi kamu di sini seorang diri mangkanya aku datang dan memanggil mu hendak bertanya apa yang sedang kamu lakukan di sini." ucap Kiera yang langsung bergidik ngeri ketika mendengar ucapan Edrea barusan yang terkesan horor bagi Kiera.
"Ha?" ucap Edrea ketika mendengar jawaban dari Kiera yang malah membuatnya semakin bingung.
"Sudahlah... sepertinya kamu lelah, sebaiknya kita ke kantin saja sekarang dan beli minum... ayo." tarik Kiera kemudian dengan buru buru karena melihat tingkah Edrea yang semakin terlihat aneh.
Pada akhirnya Edrea hanya bisa bangkit dan mengikuti arah tarikan dari Kiera yang membawanya menuju ke arah kanton kampus untuk membeli minuman seperti ucapan Kiera sekaligus menenangkan pikiran.
__ADS_1
Sedangkan tanpa keduanya sadari di sudut lorong kampus seorang nenek nenek yang tadi menjual buah kepada Edrea tengah menatapnya sambil tersenyum, tubuh nenek nenek tersebut yang semula bungkuk perlahan lahan berubah menjadi tegap dan berganti menjadi sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik walau sudah termakan usia, ya dia adalah sosok yang ditemui Barra beberapa waktu yang lalu, siapa lagi kalau bukan Ibu.
"Sedikit campur tangan dari ku tidak akan terlalu berpengaruh terhadap jalan cerita mereka, bukan? aku rasa tidak..." ucap Ibu sambil tersenyum dan menatap ke arah kepergian Kiera dan juga Edrea.
***
Kantin
Kiera terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea yang tengah duduk dengan termenung di kursi sedari tadi, di bukanya penutup minuman yang masih bersegel tersebut kemudian Kiera berikan kepada Edrea.
"Minumlah ini Rea..." ucap Kiera sambil menyodorkan sebotol minuman yang sudah di buka penutupnya.
"Terima kasih." ucap Edrea sambil mulai meminumnya secara perlahan.
"Apakah kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Kiera kemudian setelah melihat Edrea sudah mulai membaik.
"Ada apa sih Rea kamu menatap ku seperti itu?" tanya Kiera dengan tatapan yang bingung.
"Apa kamu baik baik saja Ki? kemarin kamu pulang dengan selamat bukan? kamu..." ucap Edrea membabi buta namun langsung terhenti seketika karena Kiera memotong ucapannya.
"Tunggu sebentar, memangnya apa yang terjadi padaku kemarin?" tanya Kiera dengan raut wajah yang bingung membuat Edrea langsung terdiam seketika ketika mengetahui Kiera tidak mengingat apapun tentang kejadian kemarin.
"Apa ini karena ulah dari Max untuk menjaga rahasia Stasiun Pemberhentian agar tetap aman dan tidak di ketahui oleh manusia?" ucap Edrea dalam hati bertanya tanya.
"Re.. Rea..." pekik Kiera yang lantas membuyarkan segala lamunan dari Edrea barusan.
__ADS_1
"Oh ya... apa Ki?" tanya Edrea dengan nada yang gelagapan.
"Ah sudahlah kau selalu saja begitu..." ucap Kiera kemudian dengan nada yang cemberut membuat Edrea lantas tersenyum.
"Ah baiklah baiklah aku minta maaf..." bujuk Edrea kemudian sambil menyentuh hidung Kiera secara perlahan dengan gemas, membuat Kiera langsung terkejut karena sudah lama sekali Edrea tidak pernah melakukan hal itu, terakhir kali keduanya bercanda tepat sebelum pergi ke hutan waktu itu.
"Ada apa?" tanya Edrea kemudian ketika melihat wajah kaget Kiera.
"Apa kamu sudah memaafkan ku Rea?" tanya Kiera kemudian dengan nada yang hati hati takut Edrea akan kembali marah jika ia mengingatkannya kembali.
Edrea yang mendengar ucapan Kiera barusan hanya menghela nafasnya dengan panjang kemudian menatap ke arah Kiera dengan tersenyum tipis.
"Ya sudahlah.. lagi pula itu sudah berlalu lama, sebaiknya kita lupakan saja semua kejadian hari itu. Sekarang saatnya kita untuk kembali menjadi Edrea dan juga Kiera yang dulu, bukankah begitu Ki?" ucap Edrea dengan senyum yang mengembang menatap ke arah Kiera.
"Ah jadi terharu.. sini peluk.." ucap Kiera dengan gemas sambil membuka kedua tangannya dengan lebar seakan memberi kode kepada Edrea untuk masuk ke dalam pelukannya.
Edrea yang mengerti akan kode tersebut lantas langsung masuk ke dalam pelukan Kiera, keduanya saling berpelukan dengan eratnya di tengah tengah suasana kantin yang tengah ramai pagi itu dengan beberapa mahasiswa yang sedang sarapan pagi sebelum memulai kelas mereka.
Ketika keduanya sedang asyik berpelukan, raut wajah Edrea yang tadinya cerah mendadak menjadi berubah ketika ia tidak sengaja melihat sosok hantu berambut panjang yang sama dengan yang ia lihat kemarin malam di kamarnya.
Sosok tersebut nampak menatap ke arahnya dengan tatapan yang sendu namun masih dengan rupa yang sama seperti semalam.
Tolong aku....
Tolong aku....
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya ingin di lakukan oleh sosok itu? mengapa terus saja meminta tolong padaku?" ucap Edrea dalam hati bertanya tanya.
Bersambung