
Edrea dan juga Barra yang tengah melangkahkan kakinya menyusuri area taman kota, begitu melihat ada banyak orang tengah mengerubungi sesuatu lantas membuat Edrea langsung menatap sekilas ke arah Barra. Edrea yang penasaran akan apa yang terjadi kemudian berlarian mendekat ke arah kerumunan tersebut, membuat Barra yang melihat Edrea berlari lantas ikut menyusul kepergian Edrea mendekat ke arah dimana kerumunan tersebut berada.
Edrea melangkahkan kakinya mencoba membelah kerumunan tersebut, hingga ketika ia sudah sampai di area bagian paling depan langkah kaki Edrea lantas terhenti seketika disaat ia melihat seorang mayat yang hanya tersisa tulang dan kulitnya saja nampak sudah tergeletak di bawah tanah dengan posisi mata terbuka dan juga mulut yang menganga lebar. Melihat hal tersebut membuat Edrea terdiam seketika, Edrea jelas tahu perbuatan siapa itu hanya saja bukankah Fano telah lepas dari jerat sosok siluman ular hitam? Lalu siapa lagi pelakunya saat ini?
Edrea yang menyadari bahwa Barra sudah sampai tepat di sebelahnya lantas langsung menolehkan kepalanya secara perlahan ke arah Barra kemudian terdiam sejenak, membuat Barra lantas menghela napasnya dengan panjang begitu melihat ekspresi wajah Edrea setelah melihat mayat tersebut.
"Bar..." panggil Edrea dengan nada yang lirih.
**
Di area depan Supermarket
Barra yang baru saja keluar dari Supermarket sambil membawa dua air mineral di tangannya, lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea berada dan mengambil duduk di sebelah Edrea. Di putarnya penutup botol air mineral tersebut kemudian Barra berikan kepada Edrea.
"Minumlah terlebih dahulu untuk menenangkan pikiran mu." ucap Barra kemudian.
Mendengar perkataan Barra barusan membuat Edrea lantas menghela napasnya dengan panjang kemudian secara perlahan-lahan mulai mengambil botol air mineral tersebut dan meminumnya.
"Apa menurut mu ini perbuatan Fano? Bukankah kita waktu itu sudah menyelamatkan Fano?" ucap Edrea kemudian.
Mendapat pertanyaan tersebut dari Edrea, membuat Barra lantas terdiam sejenak. Barra mengambil napasnya secara perlahan kemudian menatap ke arah Edrea dengan tetapan yang menelisik, membuat Edrea lantas langsung kebingungan akan maksud dari tatapan Barra kepadanya barusan.
__ADS_1
"Aku rasa bukan, ini adalah murni ulah dari jelmaan siluman ular hitam yang telah mencuri tubuh Fano dan membuatnya menjadi cangkang untuk dirinya berkembang sekaligus memperdalam ilmu kanuragannya." ucap Barra dengan nada yang datar membuat Edrea lantas menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar penjelasan dari Barra barusan, setidaknya dengan mendengar itu Edrea menjadi lebih lega dan tidak lagi berpikir bahwa Fano adalah pelakunya.
"Lalu bagaimana?" tanya Edrea kemudian dengan raut wajah yang penasaran membuat Barra kemudian langsung tersenyum menatap ke arahnya.
Diusapnya rambut Edrea secara perlahan membuat Edrea yang terkejut akan sikap Barra barusan lantas menjadi salah tingkah.
"Tak perlu di pikirkan semua sudah ada porsinya, di masa yang akan datang aku berharap kamu bisa mengurangi rasa simpati yang ada di dalam diri kamu, belajarlah untuk mencintai dirimu dahulu baru orang lain." ucap Barra dengan nada yang lembut dan berhasil membuat pipi Edrea memerah.
"Apa sih kamu..." ucap Edrea kemudian melengos sambil kembali meminum air mineral tersebut seakan mencoba untuk menetralkan perasaannya saat ini.
***
Saat ini di ruangannya tengah terlihat Barra sedang mondar-mandir kearah kanan dan kiri selama beberapa waktu, Barra mencoba memikirkan segala hal yang akan terjadi selanjutnya mengingat kemarin malam adalah malam bulan sabit itu artinya beberapa hari lagi adalah bulan purnama penuh, Barra berdecak dengan kesal sambil terus melangkahkan kakinya ke arah kanan dan kiri layaknya sebuah setrikaan. Diusapnya raut wajahnya dengan kasar sambil memikirkan kemungkinan yang akan terjadi pada malam bulan purnama penuh.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar belum siap." ucap Barra sambil terus melangkahkan kakinya ke arah kanan dan kiri tanpa henti.
Ketika Barra tengah sibuk mondar-mandir, Mira yang sedari tadi mengetuk pintu ruangan Barra namun tidak ada jawaban apapun lantas memutuskan untuk masuk secara perlahan ke arah ruangan Barra. Di saat langkah kaki Mira baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam, Mira yang melihat Barra mondar-mandir seperti itu lantas langsung mengerti dengan tatapan yang bingung dan juga pertanyaannya akan apa yang sedang dilakukan Barra saat ini.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Mira kemudian sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Barra berada.
Mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas membuat Barra menghentikan langkah kakinya dengan seketika. Barra yang menatap ke arah sumber suara dan melihat Mira sudah berdiri di sana lantas langsung mengernyit seketika.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak bisa..." ucap Barra hendak protes namun sudah lebih dulu di potong oleh Mira.
"Mengetuk pintu lebih dulu maksud mu? Aku bahkan sudah melakukannya berulang tapi kamu sama sekali tidak mendengarkannya." ucap Mira dengan nada yang kesal karena setiap ia masuk selalu saja hal tersebut yang dibahas oleh Barra.
Mendengar protesan dari Mira barusan lantas membuat Barra langsung menghela napasnya dengan panjang. Baru setelah itu Barra kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah kursi kebesarannya dan mengambil posisi duduk di sana, kemudian menatap ke arah Mira dengan tatapan yang bertanya seakan menunggu apa yang membuat Mira datang menemuinya di sini.
"Baiklah sekarang katakan ada apa?" tanya Barra kemudian.
"Tidak ada, aku hanya ingin memberikan laporan tentang proses pemberangkatan saja." ucap Mira kemudian sambil meletakkan map yang ia bawa tepat di hadapan Barra.
Barra yang sedang tidak mood melakukan pekerjaan saat ini kemudian terlihat menggeser map tersebut dan menyuruh Mira untuk keluar dari ruangannya secepatnya. Sedangkan Mira yang melihat bahwa Barra mengusirnya begitu saja, lantas hanya bisa menatap tak percaya ke arah Barra saat ini.
"Kau mengusir ku?" tanya Mira kemudian yang langsung membuat Barra mendongak menatap ke arahnya.
"Tidak, namun untuk saat ini aku sedang tidak ingin diganggu." jawab Barra dengan nada yang datar membuat Mira langsung melongo dengan seketika.
Mira yang kembali mendapat kata pengusiran dari Barra barusan, lantas hanya bisa menatap Barra dengan tatapan yang tidak percaya. Mira yang tahu ada sesuatu yang terjadi kemudian mulai menatap ke arah Barra lagi dengan tatapan yang menelisik mencoba untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi dengan Barra saat ini. Jika melihat dari wajahnya saja Mira sungguh bisa menebaknya bahwa Barra tengah ada dalam masalah yang besar saat ini, namun masalah apa itu Mira sama sekali tidak mengetahuinya.
"Apakah sesuatu sedang terjadi belakangan ini Bar?" tanya Mira kemudian dengan rambut wajah yang penasaran, membuat Barra lantas langsung mendongak dengan seketika disaat mendengar pertanyaan dari Mira barusan.
Bersambung
__ADS_1