
Stasiun pemberhentian
Barra yang baru saja sampai terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Max, jika tidak salah kira karena tugas kali ini cukup banyak, Barra yakin saat ini Max pasti tengah menggerutu di ruangannya karena kepergian Barra yang tiba tiba tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
Dengan menghela nafasnya panjang Barra bersiap mendapat omelan dari Max sambil memegang gagang pintu ruangannya itu, dengan pelan tapi pasti Barra mulai membuka pintu ruangan Max dan masuk ke dalamnya dengan memasang wajah yang cool.
"Bagaimana ha..." ucap Barra namun menggantung karena ketika ia masuk kondisi ruangan Max kosong dan tak berpenghuni.
Melihat hal tersebut, Barra kemudian lantas mengerutkan keningnya dengan bingung karena bisa bisanya Max menghilang padahal tugas dan laporan menumpuk dan harus segera di selesaikan. Barra mengedarkan pandangannya ke sekitar karena jujur ia masih penasaran akan Max yang malah meninggalkan ruangannya di saat ia pergi. Barra yang tidak ingin hanya berspekulasi sendiri, pada akhirnya memutuskan melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Arya, siapa tahu Arya mengetahui kepergian Max.
Di langkahkan kakinya menyusuri lorong demi lorong menuju ke arah ruangan Arya, hingga ketika langkah kaki Barra sampai di depan pintu ruangan Arya, sebuah suara yang tidak asing di pendengarannya lantas menghentikan gerakan Barra yang hendak membuka pintu ruangan Arya.
"Barra?" ucap sebuah suara yang langsung dengan spontan membuat Barra berbalik badan ketika mendengarnya.
Barra menatap ke arah Mira yang kini juga sedang menatap ke arahnya, Mira nampak kebingungan ketika melihat Barra berdiri di depan pintu ruangan Arya padahal Arya sedang tidak ada di sini.
"Apa kamu mencari Arya?" tanya Mira kemudian.
"Iya, apa kamu melihatnya?"
__ADS_1
"Aku dengar tadi Arya dan Max pergi melaksanakan tugas penjemputan arwah dengan langkah kaki yang terburu buru dan juga raut wajah yang tegang, apa kamu tahu siapa yang mereka jemput hingga ekspresi wajah mereka seperti itu?" ucap Mira mengingat ingat.
Barra yang mendengar ucapan Mira barusan lantas terdiam sejenak, jika sampai Max dan Arya seperti yang di ceritakan oleh Mira, sudah bisa di pastikan bahwa arwah yang mereka jemput kali ini adalah seseorang yang mereka kenal. Barra yang mulai penasaran akan sosok arwah ini, lantas langsung melangkahkan kakinya kembali ke ruangannya tanpa mengatakan apa apa lagi kepada Mira maupun menanggapi ucapannya, membuat Mira hanya bisa mendengus dengan kesal ketika melihat tingkah Barra yang seperti itu.
"Benar benar kebiasaan lama!" ucap Mira dengan kesal sambil menatap kepergian Barra hingga punggungnya tidak lagi terlihat pada pandangan Mira.
**
Ruangan Barra
Dari pintu masuk ruangannya, terlihat Barra tengah melangkahkan kakinya masuk secara terburu buru menuju ke meja kerjanya. Sebuah iPad yang sengaja di letakkan di mejanya membuat fokus Barra langsung tertuju ke arah sana, Barra yakin Max pasti meninggalkan sebuah informasi untuknya sebelum pada akhirnya memutuskan untuk pergi menjalankan tugas penjemputan arwah.
Dengan perlahan Barra mulai berselancar pada iPad yang di tinggalkan oleh Max di mejanya, satu persatu data diri dan juga riwayat hidup sosok arwah tersebut tak luput dari Barra, Barra yang kenal akan sosok arwah yang akan di jemput oleh Max dan Arya, lantas menghela nafasnya dengan panjang kemudian meletakkan iPad tersebut kembali ke mena kerjanya.
***
Sementara itu setelah Sita menyuruh Edrea untuk kembali ke kamarnya, pada akhirnya Edrea hanya bisa menuruti perintah neneknya itu dengan langkah kaki yang kesal. Entah mengapa Edrea merasa seperti ada yang aneh dengan neneknya hari ini, Edrea yang memang sedang dalam kondisi badmood di tambah dengan perlakuan Omanya yang seperti itu, membuat mood Edrea semakin turun dan menjadi tak bersemangat lagi. Edrea menghela nafasnya dengan panjang sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya.
"Tidak adakah seseorang yang ingin menghibur ku saat ini? mengapa semua orang jahat sekali padaku?" ucap Edrea dengan nada yang lirih dan ekspresi wajah lesu.
__ADS_1
Edrea menghentikan langkah kakinya tepat di depan kamarnya kemudian baru perlahan lahan memutar gagang pintu kamarnya dan masuk ke dalam, Edrea yang semula memang sedang tidak mood melihat kehadiran dua orang yang tidak asing baginya secara mendadak di kamarnya, membuat Edrea semakin di buat kesal dan langsung memutar bola matanya dengan jengah, begitu mengetahui Max dan juga Arya ada di kamarnya tanpa seijin Edrea.
"Kenapa kalian berdua di sini?" tanya Edrea dengan nada yang ketus, membuat Max dan juga Arya langsung saling pandang antara satu sama lain ketika mendengar nada bicara Edrea yang seperti itu.
"Kami sedang melakukan tugas penjemputan arwah dan..." ucap Max hendak menjelaskan namun keburu di potong oleh Edrea barusan.
"Aku sedang tidak mood menjalankan misi sekarang, sebaiknya kalian pergi dari sini dan katakan kepada Barra aku meminta cuti!" ucap Edrea sambil melangkahkan kakinya ke arah ranjang miliknya.
Max yang mendengar ucapan Edrea barusan kembali terdiam, mengucapkannya kepada Edrea saja sangat sulit malah di tambah dengan moodnya yang sedang buruk saat ini, membuat Max langsung menatap ke arah Arya dan memberikan Arya sebuah kode agar Arya yang menyampaikannya kepada Edrea, hanya saja Arya yang terlalu fokus menatap ke arah Edrea sampai tidak terlalu fokus dan tahu akan kode yang di berikan oleh Max, dan tentu saja hal itu malah membuat Max kesal karena kehadiran Arya di sini sama sekali tidak membantu.
Edrea merebahkan tubuhnya begitu saja dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, Edrea benar benar enggan untuk melaksanakan tugas saat ini dan memilih untuk pura pura tidur, berharap Max dan juga Arya langsung pergi dari kamarnya begitu melihat ia berbaring dan tidur.
Sedangkan Max yang melihat tingkah Edrea seperti itu lantas semakin di buat kesal, hingga Max kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dan langsung menyibak selimut yang menutupi tubuh Edrea begitu saja, membuat Max langsung mendapat hadiah plototan tajam dari Edrea saat ini.
"Aku tidak punya waktu untuk bermain main, aku kira kamu dalam kondisi yang tidak baik karena aku dengar kamu bertengkar dengan tuan, sehingga membuat ku bingung harus mengatakannya bagaimana kepadamu, tapi setelah aku datang langsung ke sini dan bertemu dengan mu aku rasa kau masih tetap sama ya? egois dan tidak mau mendengarkan orang lain terlebih dahulu!" ucap Max pada akhirnya karena kesal dengan tingkah Edrea.
"Kau itu tahu apa tentang ku?" teriak Edrea yang juga ikut kesal.
"Kau yang tidak tahu apa apa..." ucap Max sambil menunjuk ke arah Edrea dengan manik mata yang tajam.
__ADS_1
"Apa maksud ucapan mu?" tanya Edrea kemudian.
Bersambung