Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Aku pasti sudah gila


__ADS_3

"Astaga Rea... apa yang kamu lakukan!" pekik Sita yang terkejut akan pemandangan yang tersaji di hadapannya saat ini.


Sedangkan Edrea yang mendengar teriakan Sita, lantas dengan spontan langsung menoleh ke arah sumber suara dengan potongan bagian belakang tikus yang masih tersisa di mulutnya, sedangkan ekor tikus terlihat menjulur keluar dari mulutnya. Sita yang melihat pemandangan di hadapannya tentu saja terkejut bukan main, rasa mual seperti perutnya yang di aduk aduk mulai terasa menyeruak memenuhi perut Sita ketika melihat Edrea menelan bulat bulat tikus hidup tersebut.


"Apa yang kamu lakukan Rea!" teriak Sita sambil melangkahkan kakinya bergegas menuju ke arah di mana Edrea berada saat ini.


Dipukulnya punggung cucunya itu dengan spontan secara berulang kali bermaksud agar Edrea memuntahkan gigitan demi gigitan tikus hidup yang ada di mulutnya. Sambil menangis dengan tersedu sedu Sita berusaha mengeluarkan daging tikus mentah dari mulut Edrea dengan berbagai cara. Namun yang di lakukan Edrea sedari tadi hanya diam saja dan menatap ke arah Sita dengan pandangan yang kosong.


"Ada apa sebenarnya dengan kamu Rea? hik hik hik." ucap Sita sambil terus mengguncang tubuh Edrea dengan masih menangis tersedu.


Edrea yang semula hanya diam saja, perlahan lahan manik matanya berubah kembali normal ketika mendengar tangisan Sita di sebelahnya. Dengan perasaan kebingungan Edrea lantas menatap sekeliling dan pandangannya tertuju pada ekor tikus yang masih menjulur di mulutnya, membuat Edrea langsung mual seketika dan dengan spontan memuntahkan isi daging di dalam mulut dan juga perutnya.


Sita yang melihat Edrea sudah mulai sadar, kemudian menepuk punggung Edrea pelan berusaha membantunya mengeluarkan daging yang sudah terlanjur tertelan ke dalan tubuhnya. Hingga beberapa menit mengeluarkan segala isi perutnya, dengan perlahan Edrea mulai menolehkan kepalanya ke arah Sita dengan raut wajah yang bingung, membuat manik mata keduanya terkunci dan saling menyelami manik mata masing masing.


"Apa yang terjadi Oma? aku..." ucap Edrea dengan memasang raut wajah yang bingung sambil menatap sekitaran dan juga bajunya yang sudah basah dengan noda darah tikus yang terlihat hampir mengering di sana.


Sedangkan Sita yang melihat raut wajah bingung cucunya itu, lantas langsung dengan spontan memeluk tubuh Edrea dan menepuknya dengan perlahan, seakan mengatakan kepada Edrea bahwa semua baik baik saja dan tidak ada yang terjadi. Namun apa yang di lakukan Sita pada Edrea sama sekali tidak menjawab pertanyaan demi pertanyaan di benak Edrea yang sedari tadi terus berputar ketika baru menyadari apa yang telah ia lakukan itu.


***

__ADS_1


Keesokan harinya di kampus


Edrea terlihat melangkahkan kakinya dengan perlahan menyusuri area kampus hendak menuju ke arah kelasnya, namun langkah kakinya lantas terhenti ketika mendengar suara tidak asing tengah memanggilnya dari arah kejauhan sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea.


Edrea menoleh ke arah sumber suara dan menatap ke arah Kiera yang terlihat berlarian menuju ke arahnya. Kiera kemudian lantas langsung merangkul tangan Edrea sambil tersenyum dan mengajaknya untuk melanjutkan langkah kakinya, membuat Edrea yang kini sedang banyak pikiran, hanya mengikuti tarikan tangan Kiera saja tanpa banyak protes sedikitpun.


Kiera menceritakan banyak hal di sepanjang langkah kaki keduanya yang menyusuri lorong, namun Edrea sama sekali tidak menanggapinya dan hanya menatap kosong ke arah depan memutar kembali ingatannya tentang kejadian demi kejadian yang di alaminya dan terasa sangat aneh sekali seakan seperti bukan dirinya sama sekali.


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" ucap Edrea dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Kiera yang terus menggandeng tangannya sedari tadi.


"Apa kau sudah dengar tentang kelas hari ini Rea? kalau kata yang lain sih akan ada pembedahan anatomi ular sungguhan, bagaimana menurut mu?" tanya Kiera sambil menatap ke arah Edrea karena sedari tadi Kiera sama sekali tidak mendengar suara dari sahabatnya itu.


"Ada apa Ki?" tanya Edrea yang lantas membuat Kiera mengerutkan keningnya dengan bingung ketika mendengar ucapan dari Edrea barusan.


"Aku bahkan sudah mengomel hingga mulutku hampir berbusa tapi tidak ada satupun yang kamu dengar, bukankah kamu keterlaluan Rea?" ucap Kiera dengan nada yang kesal menatap ke arah Edrea.


Edrea yang melihat sahabatnya merajuk, lantas langsung memasang muka sok polos kemudian menggandeng kembali tangan Kiera dan mulai membujuknya kembali.


"Janganlah merajuk... aku minta maaf ya.. ya?" ucap Edrea sambil mengerlingkan matanya yang lantas membuat Kiera langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika melihat kelakuan Edrea barusan.

__ADS_1


Pada akhirnya keduanya kemudian lantas melanjutkan langkah kaki mereka kembali menuju ke arah kelas, walau Kiera tengah memasang muka yang masih cemberut karena Edrea yang mengacuhkannya sedari tadi. Edrea yang melihat raut wajah di tekuk sahabatnya itu hanya bisa tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya pelan.


***


Laboratorium


Seperti yang telah di katakan oleh Kiera tadi, kelas kali ini di mulai dengan materi anatomi tubuh ular. Beberapa mahasiswa nampak sudah bersiap dan memakai baju lab mereka. Sebuah penjelasan pembukaan tentang materi kali ini mulai terdengar menggema di ruang lab tersebut, beberapa siswa nampak mendengarkan dengan seksama dan mencatat inti dari materi tersebut. Hingga setelah tahapan deskripsi sudah selesai, barulah dosen tersebut mengeluarkan satu kotak kaca yang berisi ular di dalamnya di mana bagian mulut ular tersebut sudah di berikan selotip atau isolasi agar tidak sampai menggigit atau bahkan mengeluarkan bisa mereka.


Dosen mulai menjelaskan bagian bagian tubuh ular sebelum mulai melakukan pembedahan, agar para mahasiswanya bisa melihatnya dengan jelas dan merangkum materi yang ia sampaikan. Beberapa mahasiswa nampak maju dan merapat ke arah meja lab dosen tersebut, termasuk dengan Edrea dan juga Kiera yang terlihat ikut melangkahkan kakinya mendekat untuk menyaksikan prosesi pembedahan bagian bagian ular itu.


Ada sedikit perasaan aneh ketika Edrea mendekat dan melihat manik mata ular tersebut yang entah mengapa terlihat begitu menyedihkan bagi Edrea. Edrea menggelengkan kepalanya perlahan dan mencoba mengembalikan kesadarannya karena berpikir bahwa ular tersebut sedang meminta tolong padanya lewat tatapan mata itu.


"Sepertinya aku sudah mulai gila, hingga melihat manik mata ular itu saja kasihan." ucap Edrea dengan senyuman yang tipis.


Edrea terus meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah sebuah halusinasi semata, hingga kemudian sebuah suara yang menggema jelas di telinganya membuat Edrea lantas tertegun ketika mendengar suara tersebut.


Tolong aku....


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2