
Setelah kepergian Max dari ruangannya, tanpa pikir panjang lagi Barra langsung bangkit dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya hendak berlalu pergi dari ruangannya. Entah mengapa Barra mendadak sangat penasaran akan apa yang saat ini tengah di lakukan oleh Mira dan juga Edrea.
Sambil melangkahkan kakinya Barra kemudian menjentikkan jarinya dan berteleportasi ke sebuah tempat di mana Mira dan juga Edrea tengah berada untuk menjalankan misi mereka yang seharunya sudah selesai sejak tadi.
**
Jalan tol
Barra yang baru saja melakukan teleportasi, lantas langsung mengedarkan pandangannya menatap ke arah sekeliling mencoba untuk mencari keberadaan Mira dan juga Edrea di sana. Hingga kemudian pandangannya lantas terhenti pada dua orang yang sedang ia cari sedari tadi. Seulas senyum terlihat terukir indah di wajah tampan Barra, ketika melihat apa yang terjadi saat ini sesuai dengan apa yang ada di dalam ekspetasi Barra sedari tadi.
Barra yang sedari tadi melihat segala sesuatu yang terjadi di sana, lantas mencoba untuk diam dan memperhatikan segala sesuatunya dari jauh, Barra ingin melihat kesungguhan Mira yang mengatakan akan mencoba untuk menghibur Edrea bersamanya. Setelah melihat segala hal yang terjadi di jalan tol tempat terjadinya kecelakaan tersebut, ada satu hal yang membuat Barra tersentuh akan perubahan sikap Mira pada Edrea.
Awalnya Barra mengira rasa simpati Mira pada Edrea hanyalah sebuah bualan semata, namun setelah melihat kejadian hari ini, Barra menyadari bahwa Mira ternyata benar benar tulus akan perasaannya kepada Edrea tanpa di buat buat atau bahkan hanya kamuflase semata.
Barra yang baru saja melihat keduanya melangkahkan kakinya menjauh dari tempat kejadian, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dan Mira hendak menyapa dua saudara yang berbeda generasi itu.
"Jadi apa yang kita lihat tadi hanya merupakan sebuah gambaran semata? mengapa kamu tidak bilang sedari awal? apa ini yang menurut mu senang senang? aku bahkan sama sekali tidak menikmatinya karena tidak tahu apa apa!" ucap Edrea pada akhirnya dengan nada yang kesal namun malah membuat Mira terkekeh ketika mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu kan tadi sudah ku minta diam dan bersenang senang, mengapa kamu tidak mendengarkan ku?" ucap Mira sambil tersenyum dengan santainya yang lantas membuat Edrea melongo ketika mendengar kata kata dari Mira barusan.
Di saat Mira dan Edrea tengah membicarakan masalah pria yang menabrak lari Pricilia, sebuah suara berat yang tidak asing di pendengaran keduanya, lantas mulai terdengar dan langsung menghentikan pembicaraan mereka sejenak.
"Apa kalian berdua sudah selesai dalam bermain?" ucap sebuah suara yang lantas langsung menghentikan tawa Mira dengan seketika.
Baik Mira dan juga Edrea, lantas dengan spontan menoleh ke arah sumber suara ketika keduanya merasa tidak asing dengan suara tersebut.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini Bar?" tanya Mira yang lantas langsung merubah raut wajah Barra yang semula berseri lantas menjadi terlihat lebih serius.
Sedangkan Mira yang mengetahui akan maksud dari raut wajah yang di tunjukkan oleh Barra kini, hanya memutar bola matanya dengan jengah. Mira jelas tahu sebentar lagi Barra pasti akan mengomel dan terus mennyerocos karena Mira telah menggunakan kesempatan untuk arwah yang baru saja ia jemput. Keduanya lantas saling pandang satu sama lain seakan sedang melalukan adu saling tatap, yang membuat Edrea menatap keduanya dengan kebingungan karena Mira dan Barra sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata apapun dan hanya saling pandang dengan serius.
Mendengar ucapan Edrea barusan, lantas membuat Mira dan juga Barra langsung dengan spontan menoleh ke arah Edrea dengan tatapan yang tidak biasa, sedangkan Edrea yang di tatap oleh keduanya hanya bisa tersenyum garing sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Mira menghela nafasnya panjang kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dan langsung merangkul pundaknya.
"Jika kau lapar maka aku akan mentraktir mu sesuatu yang enak, ayo pergi sekarang!" ajak Mira dengan senyum yang mengembang namun malah membuat Barra mengerutkan keningnya karena merasa di acuhkan oleh keduanya dan tidak ikut di ajak.
Edrea yang mendengar Mira akan mentraktirnya tentu saja langsung bersemangat dan mengangguk dengan senyum yang mengembang. Membuat Mira yang melihat hal itu lantas langsung menarik Edrea untuk mulai jalan dan berlalu dari sana untuk mengisi perut keduanya. Barra yang melihat kepergian keduanya tentu saja semakin heran karena tidak ada yang mengajaknya sama sekali, hingga kemudian Barra yang melihat jarak keduanya semakin jauh, lantas mulai melangkahkan kakinya menyusul langkah kaki keduanya.
__ADS_1
"Apa kalian akan meninggalkan ku begitu saja dan tidak mengajak ku?" teriak Barra kemudian yang langsung membuat keduanya menoleh.
"Mengapa kami harus mengajak mu? bukankah kau tadi datang sendiri jadi pergi harus sendiri dong!" ucap Mira kemudian yang lantas mengundang tawa Edrea melihat tingkah keduanya.
Edrea benar benar tidak menyangka bahwa Mira dan juga Barra memiliki sisi seperti ini, padahal dulu ketika awal awal pertemuan mereka, baik Mira dan juga Barra sama sama menunjukkan sifat yang sedingin kulkas dan tentunya sama sekali tidak tersentuh, tapi semakin ke sini kedua orang itu semakin terlihat hangat dan bersahabat walau terkadang masih sangat cerewet dan bawel.
"Jangan bercanda... aku ini pemimpin di Stasiun Pemberhentian, tidakkah kalian sedikit memberikan rasa hormat kepadaku?" ucap Barra lagi dengan nada yang kesal.
Mira yang mendengarkan gerutuan Barra hanya menatapnya sekilas kemudian menjulurkan lidahnya seakan tengah mengejek Barra saat ini, membuat gelak tawa langsung terdengar dari mulut Mira dan juga Edrea, sedangkan Barra yang mendengar tawa keduanya itu malah memasang wajah cemberut namun tetap melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Edrea dan juga Mira.
**
Hanya saja tanpa ketiganya sadari dari arah kejauhan, sosok Fano terlihat tengah mengintai ketiganya dengan tatapan yang menghunus tajam. Fano yang melihat ketiganya bahagia tentu saja tidak terlalu senang karena tujuan sosok ular hitam yang mendiami tubuh Fano adalah memisahkan Barra dan juga Edrea yang memiliki wajah mirip seperti gadis di masa lalu. Fano berdecak dengan kesal ketika melihat segala cara yang ia lakukan tetap tidak bisa membalaskan dendamnya kepada kedua orang itu.
"Aku tidak bisa terus membiarkan kedua orang itu bersenang senang seperti itu karena kedatangan ku ke sini adalah untuk mengulang masa lalu yang seharusnya terjadi!" ucap Fano dengan menatap tajam ke arah kepergian ketiganya hingga ketiga orang itu menghilang dari pandangannya.
"Tunggu pembalasan dendamku, Barra!"
__ADS_1
Bersambung