Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Energi negatif


__ADS_3

Sementara itu setelah menghabiskan waktu dengan keheningan di Cafe, baik Barra maupun Edrea saat ini terlihat tengah melangkahkan kakinya menyusuri area taman kota menikmati suasana malam hari yang begitu terasa aneh bagi keduanya. Edrea yang sama sekali tidak mengerti akan sikap dari Barra yang mendadak berubah seperti ini hanya bisa sesekali melirik ke arah Barra dengan tatapan yang bertanya. Entah mengapa dan di pikirkan seperti apapun tetap saja bagi Edrea ini terasa begitu aneh.


Sambil terus melangkahkan kakinya mengikuti jalanan sekitar, Edrea yang sudah tidak tahan lagi lantas terlihat menghentikan langkah kakinya membuat Barra yang melihat hal tersebut dengan spontan ikut menghentikan langkah kakinya. Kedua manik mata mereka bertemu dalam sepersekian detik dengan keheningan. Hingga kemudian suara Edrea yang terdengar menyapa telinga Barra lantas membuyarkan tatapan keduanya.


"Sekarang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?" ucap Edrea kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja membuat Barra langsung terdiam dengan seketika. Bayangan tentang takdir yang begitu kejam berada di depan matanya, membuat Barra ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama dengan Edrea. Memang nampak terkesan mendadak hanya saja Barra rasa tidak ada salahnya jika mencobanya sekarang, bukan? Barra menghembuskan napasnya dengan kasar secara perlahan kemudian tersenyum menatap ke arah Edrea, membuat Edrea lantas langsung mengernyit dengan seketika begitu melihat ekspresi wajah Barra yanag malah tersenyum menatap ke arahnya.


"Tidak ada yang terjadi, aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan mu, apa itu salah?" ucap Barra kemudian sambil melangkahkan kakinya melewati Edrea dengan perlahan.


Sedangkan Edrea yang mendapat jawaban tersebut dari Barra tentu saja sedikit bingung sekaligus tidak mengerti akan alasan konyol yang di buat oleh Barra barusan.


"Jangan bercanda Bar? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Apa kau ingin pergi ke suatu tempat dalam waktu dekat ini?" ucap Edrea kemudian sambil mengejar langkah kaki Barra.


Mendengar pertanyaan yang terus keluar dari mulut Edrea, lantas langsung menghentikan langkah kaki Barra begitu mendengar pertanyaan terakhir dari Edrea barusan. Barra terdiam di tempatnya seakan bingung ingin menjawab apa pertanyaan dari Edrea barusan. Hingga kemudian Edrea yang curiga karena Barra terus terdiam sedari tadi lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Barra berada, membuat Barra yang melihat langkah kaki Edrea kian mendekat lantas langsung menjadi salah tingkah.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan kau menyukai ku ya?" tebak Edrea dengan asal meskipun sebenarnya Edrea berharap bahwa Barra akan menjawabnya dengan kata iya.


Barra yang kembali menadapat pertanyaan dari Edrea barusan lantas langsung tersenyum kemudian mengusap kepala Edrea dan melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Edrea.


"Anggap saja begitu..." ucap Barra kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Edrea yang langsung memasang raut wajah termenung seketika.


"Apa!" pekik Edrea kemudian yang terkejut akan perkataan Barra yang tiba-tiba seperti itu.


***


Di saat ular tersebut tengah sibuk mencari mangsa yang pas untuk ia serap energinya, dari arah utara terlihat seorang pria tengah melangkahkan kakinya


dengan perlahan mendekat ke arah semak-semak di dekat ular tersebut sambil sibuk menelpon seseorang.


"Bagaimana bisa kita kecolongan lagi? Tender ini sangatlah besar! Kau kira gaji mu saja cukup untuk menutupi kerugian perusahaan?" pekik Pria itu dengan nada yang meninggi sambil terus berbicara dengan seseorang di telpon.

__ADS_1


Mendengar teriakan dan juga makian yang keluar dari mulut Pria itu, lantas membuat ular itu mendesis cukup keras. Sepertinya ular tersebut sudah menemukan mangsa yang pas untuknya saat ini. Pria tersebut yang sama sekali tidak merasakan sesuatu tengah mengintainya saat ini. Tanpa Pria itu sadari semenjak ia meneruskan langkah kakinya dari tempatnya berhenti sebelumnya, sosok ular hitam jelmaan nampak menggeliat mengikutinya sambil bersembunyi di balik semak-semak menunggu situasi yang tempat untuknya mulai beraksi dan menyerap segala energinya.


Sedangkan Pria itu yang memang sudah sedari awal kesal akan kenyataan bahwa perusahaannya kalah tender, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya di sudut taman kota dimana situasinya saat itu nampak begitu sepi dan hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang menikmati keindahan taman di malam hari.


Pria itu nampak berhenti sejenak sambil mengeluarkan satu batang rokok dan bersiap untuk menyalakannya, hingga kemudian sebuah bunyi seperti sesuatu yang melintas di area semak-semak belakangnya, membuat Pria itu lantas menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyalakan rokoknya. Ditatapnya area semak-semak di belakangnya seakan mencoba untuk mencari sumber suara barusan. Ketika Pria itu tengah sibuk menatapi ke area semak-semak, semak-semak di belakangnya nampak semakin bergerak dengan kuat sehingga membuat Pria itu langsung mengernyit dengan seketika disaat melihat semak belukar tersebut yang bergoyang-goyang entah karena angin atau malah sesuatu hal yang lain.


Pria itu menelan salivanya dengan kasar ketika goyangan dari semak-semak tersebut kian kuat. Sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan Pria itu tanpa sadar terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah semak-semak tersebut. Sampai kemudian ketika jarak antara Pria itu dengan semak-semak hanya tinggal beberapa centi meter saja seekor hewan besar nan panjang mendadak menariknya kemudian mematuknya tepat di area leher. Pria tersebut yang sedari semula tidak bersiap akan serangan secara mendadak tersebut, begitu ular itu mematuknya tidak ada yang bisa ia lakukan selain berteriak kesakitan karena merasa seperti ada sesuatu yang di tarik keluar secara paksa dari dalam tubuhnya. Membuat perasaan yang begitu sakit mendadak mendera memenuhi seluruh bagian tubuhnya.


"Aaaaaaa" teriaknya dengan begitu keras hingga pada akhirnya lenyap dan tidak lagi bersuara.


Sosok siluman ular hitam tersebut berhasil menyerap semua energi negatif yang ada di dalam tubuh pria itu. Perlahan tapi pasti sosoknya yang semula ular hitam mendadak berubah menjadi manusia seutuhnya dengan pakaian serba hitam. Sosok Angkara yang saat ini telah berubah sepenuhnya menjadi manusia nampak tersenyum menatapi ke arah jasad yang saat ini telah terbujur kaku di tanah dengan tubuh yang hanya tersisa tulang belulangnya saja.


"Tinggal sedikit lagi kekuatan ku terkumpul, akan aku pastikan ketika itu kau sudah tamat di tangan ku Barra!" ucap Angkara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2