
Di sebuah ruangan dengan ukuran 5x10 meter, terlihat Edrea tergeletak di lantai dengan kedua tangannya yang di ikat dengan kuat. Dari arah pintu masuk terlihat Dora dan juga satu orang laki-laki tengah menyeret sebuah tabung dengan ukuran cukup besar ke dalam ruangan tersebut. Diletakkannya tabung tersebut tepat di sebelah Edrea.
"Sekarang kau boleh pergi, katakan kepada pusat bahwa kita punya barang bagus." ucap Dora dengan senyum yang mengembang.
"Baik bos" ucap pria tersebut.
Setelah kepergian pria itu dari ruangan tersebut, Dora nampak melangkahkan kakinya menuju ke arah sebuah tiang dimana di sana terletak sebuah kamera pengawas kecil yang sepertinya memang sengaja di pasang di sana.
"Sempurna" ucap Dora setelah membenarkan letak kamera tersebut agar lebih baik lagi.
Ketika Dora sedang sibuk dengan kamera pengawas tersebut, tanpa Dora sadari perlahan-lahan Edrea mulai terlihat membuka matanya. Edrea mencoba untuk memfokuskan pandangannya yang terlihat sedikit kabur ketika ia membuka matanya. Edrea terdengar sedikit meringis ketika merasakan sakit di area tengkuknya. Hingga membuat Dora yang semula sibuk dengan kamera pengawas, mendengar sebuah suara lantas langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Seulas senyum terbit dari wajah Dora ketika ia melihat Edrea mencoba untuk bangun dengan susah payang. Dengan langkah yang perlahan Dora mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Edrea berada dan mengambil posisi berjongkok di sana untuk menyamai posisi Edrea saat ini.
Dora menepuk pipi Edrea beberapa kali, membuat Edrea membuang napasnya dengan kasar ketika merasakan tepukan tersebut di area pipinya.
"Kau itu benar-benar hama yang mengganggu, aku bahkan hampir mendapatkan mereka tapi kau malah merusak segalanya." ucap Dora dengan raut wajah yang kesal.
Mendengar ucapan Dora barusan Edrea sedikit tidak mengerti karena ia masih mengira bahwa Dora juga korban dalam hal ini. Sampai pada akhirnya ketika melihat senyuman di wajah Dora dan juga beberapa perkataan yang keluar dari mulutnya, perlahan-lahan membuat Edrea mulai mengerti bahwa Dora bukanlah korban disini melainkan adalah seorang pelaku.
__ADS_1
"Ap..apa yang kamu inginkan sebenarnya?" ucap Edrea sambil berusaha membuka ikatan tangannya yang begitu erat dan terasa menyakitkan.
"Sialan, jika tangan ku di ikat seperti ini, bagaimana aku bisa menggunakan kekuatan ku?" ucap Edrea dalam hati sambil terus berusaha melepaskan ikatannya.
Dora yang mendapat pertanyaan tersebut kembali tertawa kemudian bangkit dari tempatnya dan mengambil langkah perlahan mendekat ke arah sebuah meja untuk mengambil masker. Masker tersebut bentuknya sangatlah aneh seperti masker yang dikhususkan untuk menutupi seluruh wajahnya dari polusi ataupun gas, seperti layaknya di film-film. Edrea yang melihat Dora mengambil masker tersebut tentu saja bingung akan maksud dari tingkah laku Dora, sampai kemudian pandangannya terhenti pada sebuah tabung gas dengan ukuran yang besar di ruangan tersebut.
"Jangan gila kamu, hidup kita masih begitu indah untuk melakukan hal ini. Kita keluar sama-sama dari sini, aku janji aku akan membantu mu." ucap Edrea kemudian ketika melihat Dora mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana tabung gas tersebut berada.
"Sayangnya kau salah, aku sama sekali tidak berniat untuk mati melainkan melihat kematian menjemput mu. Kau tahu ini bukan? Karbon monoksida..." ucap Dora dengan raut wajah seperti orang gila, namun berhasil membuat perubahan raut wajah Edrea yang terkejut ketika mendengar ucapan dari Dora barusan.
"Apa maksud mu? Mengapa kau melakukan ini?" ucap Edrea yang masih tidak mengerti akan segala hal yang dilakukan oleh Dora saat ini.
"Semua yang kau lakukan sudah merusak pekerjaan ku, aku sengaja mengumpulkan mereka agar bisa mendapatkan vidio kematian mereka dan menjualnya ke situs online, namun kau malah datang dan mengacaukan segalanya. Em.. Tak apa jika memang mereka pergi, namun aku tetap harus mendapatkan vidio nya bukan? Jadi karena kau ada di sini, aku mau kau yang akan menggantikan mereka untuk ku." ucap Dora dengan senyum yang mengembang.
Perlahan tapi pasti gas karbon monoksida dari tabung tersebut mulai memenuhi ruangan dan masuk ke dalam paru-paru Edrea. Perasaan sesak dan kesulitan bernapas membuat pandangan Edrea mulai berkunang-kunang dan tidak terlalu jelas.
"Bagus sekali, aku yakin vidio ini akan laris dipasaran hahaha" ucap Dora dalam hati sambil terus menatap ke arah Edrea dan melihat semua prosesnya tanpa rasa kasihan sama sekali.
Edrea terlihat menggeliat sambil berusaha untuk membuka ikatannya. Ia sudah terlalu banyak menghirup gas tersebut dan membuatnya semakin kesulitan untuk bernapas. Dalam keadaan yang sekarat Edrea terus merutuki kebodohannya karena tidak menanti kedatangan Barra dan bertindak secara bersama-sama. Lagi dan lagi ia terus saja menimbulkan kekacauan dan mungkin saat ini adalah yang lebih parah dari sebelumnya.
__ADS_1
"Bar... hhhhhh.. Tolong..." rintihnya sambil berusaha membuka mulutnya dan mencari oksigen di ruangan tersebut namun sayangnya malah semakin parah dan membuat dadanya sakit.
***
Sementara itu setelah mendapatkan data tentang kematian arwah sekitar pukul 14.30, Barra lantas melangkahkan kakinya hendak menuju ke dunia manusia dan menyusul Edrea. Barra ingin melihat apakah rencana yang dimaksud oleh Edrea benar-benar berhasil atau tidak. Hingga kemudian langkah kakinya lantas terhenti ketika Mira nampak melangkahkan kakinya secara terburu-buru ke arah Barra saat ini.
"Bar apa kau sudah tahu?" tanya Mira dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
Mendengar hal tersebut membuat Barra lantas mengernyit dengan bingung karena tidak tahu akan maksud dari perkataan Mira kepadanya.
"Tentang apa?" tanya Barra dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Mira.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Mira lantas memberikan iPad yang ia bawa sedari tadi kepada Barra, membuat Barra semakin dibuat kebingungan namun detik berikutnya menerima iPad tersebut dan langsung membaca informasi yang tertera dalam iPad tersebut.
Melihat informasi yang ada di iPad tersebut membuat bola mata Barra langsung membulat seketika, ia benar-benar tidak menyangka bahwa keadaan langsung berbalik dan tidak seperti yang ia inginkan.
"Lakukan sesuatu Bar, sebelum semuanya terjadi. pesan tersebut bersifat hologram aku yakin masih ada kesempatan sekarang jika kau pergi dan menyelamatkannya." ucap Mira dengan raut wajah yang begitu khawatir menatap ke arah Barra.
"Dasar gadis itu, tidak bisa ditinggal sebentar saja sudah membuat masalah besar dan membahayakan dirinya sendiri." ucap Barra kemudian.
__ADS_1
Bersambung
.