Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Mulailah dari Kiera


__ADS_3

Edrea yang mendengar berita tersebut tentu saja langsung terdiam di tempatnya, Edrea yang melihat berita tersebut antara bingung sekaligus tidak percaya akan berita yang baru saja ia dengar. Sedangkan dari arah kamar Kiera yang baru saja selesai beberes dan mandi, lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea berada. Ada sedikit perasaan bingung ketika melihat Edrea malah duduk dengan termenung menatap ke arah televisi, membuat Kiera lantas mempercepat langkah kakinya untuk melihat apa yang terjadi kepada Edrea saat ini.


"Apa ada sesuatu Re?" tanya Kiera sambil menatap ke arah Edrea dengan tetapan yang bertanya.


Edrea yang mendengar pertanyaan barusan tentu saja langsung perlahan-lahan menoleh dan menatap ke arah sumber suara, raut wajah Edrea kini bahkan sudah pucat pasi. Membuat Kiera semakin bingung akan apa yang sebenarnya terjadi kepada Edrea saat ini, Kiera yang melihat wajah Edrea yang begitu pucat lantas langsung mendekat ke arah Edrea kemudian bertanya apa yang terjadi kepadanya.


"Lidia meninggal Ki... Lidia meninggal..." ucap Edrea kemudian dengan air mata yang berlinang melalui sudut matanya, membuat Kiera yang memang tidak tahu apa-apa lantas kebingungan akan ucapan dari Edrea barusan.


***


Rumah sakit


Setelah melihat kondisi jenazah Lidia yang seperti itu, Edrea terlihat melangkahkan kakinya dengan lemas keluar dari kamar mayat kemudian menyenderkan tubuhnya pada tembok ruangan tersebut. Sambil mengusap rambutnya dengan kasar Edrea mulai mengambil posisi berjongkok. Apa yang terjadi pada Lidia benar-benar menyisakan luka tersendiri bagi Edrea, sebuah kesempatan yang harusnya dapat ia ambil untuk menyelamatkan nyawa Lidia nyatanya malah Edrea sia-siakan dan berakhir dengan kematian Lidia secara tragis. Edrea menutup mulutnya dengan rapat sambil terus merutuki kebodohannya yang sama sekali tidak bisa membantu apapun juga.


Hingga sebuah derap langkah kaki terdengar menggema di telinga Edrea, membuat Edrea langsung mendongak dan menatap ke arah sumber suara. Edrea yang melihat kedatangan Mira secara mendadak tersebut lantas hanya menghela napasnya dengan panjang kemudian kembali menundukkan kepalanya seakan enggan untuk mengatakan apapun kepada Mira. Melihat tingkah Edrea yang seperti itu membuat Mira lantas mengambil posisi jongkok tepat di hadapan Edrea sambil menatap Edrea dengan tatapan yang menelisik.


"Ayolah Re... Ini bahkan bukan kematian yang pertama kalinya kamu lihat. Bukankah seharusnya kamu bisa lebih tegar?" ucap Mira dengan nada yang lirih namun berhasil membuat Edrea menghela napasnya dengan panjang.


"Aku tahu, tapi kematian yang aku saksikan semua adalah kematian yang wajar dan memang sudah semestinya. Hanya saja untuk Lidia... tangan kirinya hilang Mir dan itu karena kecerobohan ku yang malah asyik mengobrol tanpa mengingatkannya akan hal itu." ucap Edrea dengan nada yang sendu.

__ADS_1


Mendengar jawaban tersebut Mira lantas tersenyum kemudian mengarahkan Edrea agar menatap ke arah matanya secara dalam-dalam.


"Tatap aku Re, jika memang tangan sahabat mu hilang maka tugas mu adalah mencarinya. Jika sahabat mu dalam kekurangan seharusnya kamulah yang menutupi hal tersebut, bukankah begitu?" ucap Mira mencoba menyemangati Edrea agar tidak terus terpuruk.


Edrea yang mendengar perkataan dari Mira barusan lantas terlihat terdiam, Edrea mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Mira karena bagaimana pun juga sudah seharusnya Edrea bangkit dan coba menyelesaikan segalanya bukan malah terpuruk seperti ini.


"Kamu benar, tapi aku harus memulainya dari mana?" tanya Edrea dengan tatapan yang bingung.


"Mulailah dari Kiera!" ucap Mira dengan nada yang datar membuat Edrea semakin tidak mengerti akan maksud dari ucapan Mira barusan.


"Kiera?" ulang Edrea sekali lagi yang lantas di balas Mira dengan anggukan kepala.


***


Edrea terlihat mondar-mandir di area tengah Apartment Kiera, perkataan Mira yang menyuruhnya untuk memulai dari Kiera benar-benar menyisakan tanda tanya bagi Edrea. Sebuah pemikiran yang gila mendadak terlintas dalam benaknya ketika Edrea malah menebak bahwa Kiera adalah pelaku pembunuhan terhadap Lidia. Edrea yang tahu pemikirannya begitu gila lantas langsung mengusir jauh-jauh pikiran tersebut dari kepalanya. Edrea menghela napasnya dengan panjang ketika ia sama sekali tidak menemukan jalan keluar pada permasalahan ini.


"Jika polisi saja masih mencari pelakunya dan tidak kunjung ketemu, apalagi aku..." ucap Edrea dengan nada yang menggerutu karena ia sama sekali tidak menemukan jalan keluar di sana.


Hingga ketika sebuah suara yang berasal dari Kiera lantas terdengar menggema di telinganya, membuat Edrea langsung menghentikan langkah kakinya yang sedari tadi mondar-mandir itu.

__ADS_1


"Kamu sudah disini Re? Aku kira kamu belum kembali." ucap Kiera yang tidak tahu jika Edrea sudah berada di sini sedari tadi.


Edrea yang mendengar perkataan dari Kiera barusan lantas tersenyum dengan kecut. Dipikirkan bagaimana pun juga Kiera pasti tetap tidak akan tahu karena kepergian dan kepulangan Edrea melalui jalur teleportasi bukan jalur umum seperti yang lainnya, sehingga tidak akan ada seseorang yang sadar akan keberadaan Edrea. Edrea yang tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini, lantas beralih menatap ke arah Kiera yang saat ini sudah berpakaian lengkap dan juga rapi.


"Kamu mau kemana?" tanya Edrea kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Kiera dari atas hingga bawah.


"Ah... Aku ingin pergi ke perpustakaan kota ada beberapa buka yang ingin aku beli untuk makalah ku." ucap Kiera menjelaskan yang lantas membuat Edrea langsung terdiam seketika begitu mendengarnya. "Apa kamu mau ikut dengan ku?" ajak Kiera kemudian.


"Sebenarnya aku ingin, tapi ada beberapa hal yang harus aku urus, apa kamu tak apa pergi sendiri?" ucap Edrea kemudian menolak tawaran dari Kiera karena jujur saja ia masih kepikiran akan perkataan dari Mira yang mengatakan bahwa ia harus memulainya dari Kiera.


Sedangkan Kiera yang mendengar jawaban dari Edrea barusan lantas ekspresi raut wajahnya langsung berubah seketika. Ada gurat ketakutan di sana namun detik berikutnya menghilang dan berganti dengan sebuah senyuman yang terlihat dipaksakan ke arah Edrea, hanya saja sayangnya Edrea sama sekali tidak menyadari akan perubahan raut wajah Kiera barusan.


"Baiklah kalau begitu, aku tinggal dulu ya Re nanti aku akan membawakan mu pasta kesukaan mu ketika pulang." ucap Kiera kemudian mencoba untuk tetap terlihat ceria sambil mulai melangkahkan kakinya keluar dari sana.


"Oke" jawab Edrea.


Edrea yang sama sekali belum menyadari tentang Kiera hanya menatap kepergian Kiera begitu saja. Baru setelah punggung Kiera tidak lagi terlihat pada pandangannya, Edrea terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah sofa dan mengambil duduk di sana. Edrea terdiam di tempatnya sambil terus berpikir dan berpikir, sampai kemudian ketika ingatan tentang perkataan Kiera yang semalam bercerita tentang sepupunya yang hilang dan juga kejadian tak mengenakan yang dialaminya ketika Kiera merasa diikuti oleh seseorang, lantas langsung terkejut dan bangkit dari posisinya ketika baru menyadarinya.


"Jangan bilang... Kiera juga menjadi incaran dari pelaku itu!" ucap Edrea dengan nada yang menerka-nerka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2