
Keesokan harinya
Edrea yang sudah penasaran akan Fano, lantas berangkat pagi pagi menuju ke kampus berharap Fano memiliki kelas pagi sehingga ia bisa bertemu dengan Fano.
Beberapa menit berkendara, Edrea yang baru sampai di kampusnya lantas langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas menyusuri lorong kelas menuju ke arah lapangan basket, hingga sebuah suara yang melengking mulai terdengar di pendengaran Edrea lantas menghentikan langkah kakinya.
"Rea!" panggil Kiera yang berada tidak jauh dari posisinya.
Edrea yang mendengar panggilan tersebut lantas langsung memutar bola matanya dengan jengah, jujur saja Edrea masih sedikit kesal kepada Kiera karena Kiera tidak pernah bisa jujur akan perasaannya sendiri, sehingga membuat Edrea malah terkesan seperti orang bodoh ketika mencurahkan segala perasaannya kepada Fano. Bukankah harusnya Kiera berkata jujur dari kemarin? mungkin jika Kiera berkata dengan jujur tentang perasaannya sikap Edrea kepadanya tidak akan seperti sekarang ini.
"Ada apa?" tanya Edrea dengan malas.
"Kamu di panggil ke ruang Dekan sekarang hhhh" ucap Kiera sambil mengatur nafasnya yang ngos ngosan karena berlarian ke arah Edrea barusan.
"Aku? untuk apa?" tanya Edrea dengan tatapan yang bingung namun Kiera malah langsung menggeleng dengan cepat ketika mendengar ucapan dari Edrea barusan.
"Aku tidak tahu pastinya apa? hanya saja beberapa mahasiswa melihat dua orang anggota kepolisian memasuki ruangan dekan. Mungkin ini ada hubungannya dengan penemuan mayat laki laki tua di gudang belakang kemarin, apa kamu mengenali sosok mayat tersebut?" ucap Kiera dengan raut wajah yang penasaran.
"Entahlah bisa juga iya bisa juga tidak" jawab Edrea dengan nada yang singkat seakan tidak ingin menjelaskan secara detailnya kepada Kiera saat ini.
"Aku tinggal ke ruang dekan dulu ya... thanks infonya." imbuh Edrea lagi kemudian berlalu pergi begitu saja meninggalkan Kiera yang menatap kepergiannya dengan tatapan yang sendu.
"Inilah yang aku takutkan jika kamu mengetahuinya Rea... aku tidak ingin hubungan kita terus renggang seperti ini." ucap Kiera dalam hati sambil terus menatap ke arah punggung Edrea hingga menghilang dari pandangannya.
***
Ruang Dekan
Tok tok tok
__ADS_1
"Masuk" ucap sebuah suara yang berasal dari dalam ruangan tersebut, membuat Edrea lantas mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Permisi... apa benar bapak sedang mencari saya?" tanya Edrea dengan nada yang sopan.
"Bukan saya tapi mereka" tunjuk Fahri selaku Dekan di kampus Edrea.
"Selamat pagi, bisa minta waktu nya sebentar?" tanya salah seorang petugas polisi yang langsung berdiri begitu melihat kedatangan Edrea di sana.
"Boleh pak..." ucap Edrea dengan nada yang lirih sambil mengangguk secara perlahan.
"Apakah di sini ada ruang kosong yang bisa saya gunakan pak?" tanya petugas polisi tersebut kepada Fahri.
"Tentu, ada di ruangan sebelah... anda bisa menggunakannya." ucap Fahri dengan tersenyum ramah, namun malah membuat Edrea langsung menelan salivanya dengan kasar ketika mendengar permintaan dari petugas polisi tersebut.
**
Ruang sebelah
Keheningan nampak terjadi memenuhi ruangan itu, membuat Edrea langsung merasakan hawa tegang ketika berada di ruangan tersebut.
Salah satu petugas polisi nampak mengeluarkan sebuah foto yang berisi tentang foto jenazah Saga kemarin, Edrea nampak terdiam ketika melihat petugas polisi itu terlihat menyodorkan foto itu di hadapan Edrea.
"Apa kamu sudah mengetahui tentang mayat di dalam foto ini?" tanya petugas polisi tersebut dengan name tag Jaya di dadanya.
Edrea yang mendapat pertanyaan tersebut, lantas mulai mengatur nafasnya secara perlahan dan mencoba untuk tetap tenang karena jika tidak pasti akan muncul spekulasi baru yang akan menjeratnya sebagai pelaku dalam kematian Saga.
"Berita ini sudah menyebar bukan pak? jadi kalau saya menjawab tidak tahu rasanya itu tidaklah mungkin, bukankah begitu?" ucap Edrea dengan nada yang santai.
Mendengar jawaban dari Edrea polisi tersebut lantas tersenyum dan membenarkan posisinya.
__ADS_1
"Oh ya? tentu saja akhir akhir ini banyak berita yang bocor dan menyebar dengan cepat di kalangan masyarakat dan saya rasa itu adalah hal yang lumrah. Hanya saja bagaimana kamu menjelaskan tentang dirimu yang terlihat di area ditemukannya mayat tersebut? apakah kamu bisa menjelaskannya?" ucap polisi tersebut dengan tersenyum sinis ke arah Edrea.
Edrea yang kembali mendapat pertanyaan secara dadakan, lantas langsung terdiam memikirkan jawaban yang pas untuk memperkuat alibinya agar dirinya tidak lagi di curigai oleh pihak kepolisian.
"Siang itu saya yang sedang bosan akan mata kuliah saya hari itu berniat untuk absen dan mencari udara segar di gudang belakang kampus. Hanya saja saya tidak jadi ke sana karena tiba tiba sebuah panggilan masuk mendadak terdengar di ponsel saya. Jika anda tidak percaya anda bisa mengeceknya pada kamera pengawas." ucap Edrea.
"Lalu mengapa harus ke gudang? bukankah masih ada tempat lain untuk mencari udara segar?" tanya Jaya dengan pandangan yang menelisik.
"Tidak ada yang khusus karena saya menyukai tempat yang tenang" ucap Edrea lagi.
Ketika keduanya sedang sibuk beradu argument, petugas polisi yang lainnya tampak mendekat ke arah keduanya sambil membawa sebuah iPad, sepertinya ia ingin menunjukkan rekaman kamera pengawas dan mencocokkannya dengan alibi Edrea.
Edrea yang tadi hanya berbicara dengan asal untuk menutupi tentang Stasiun pemberhentian, lantas dengan sigap menjentikkan jari tangannya dan berusaha untuk memanipulasi rekaman kamera pengawas tersebut agar sesuai dengan ucapannya.
"Semoga saja berhasil... ku mohon..." ucap Edrea dalam hati karena jujur saja Edrea tidak pernah memakai kekuatan yang di pinjamkan oleh Barra untuk hal hal yang seperti ini karena ia tahu Edrea tidak berhak untuk menggunakannya dan berlaku seenaknya dengan kekuatan tersebut.
Raut wajah petugas polisi itu nampak terlihat bingung ketika melihat rekaman kamera pengawas tiba tiba berubah menjadi sangat sangat berbeda dengan apa yang ia lihat tadi pertama kali.
Sedangkan Jaya yang selaku petugas kepolisian yang harusnya sudah melihat beberapa barang bukti sebelum memulai proses interogasinya, lantas di buat terkejut ketika melihat rekaman kamera pengawas tersebut sama dengan alibi yang di ucapkan oleh Edrea dan memiliki bukti yang kongkrit.
"Bagaimana? apakah saya sudah bisa pergi bapak polisi?" tanya Edrea kemudian, membuat Jaya lantas terdiam karena jujur saja ia masih merasa ada yang tidak beres dengan gadis di hadapannya ini.
"Untuk kali ini saya rasa sudah cukup, kamu boleh pergi sekarang." ucap Jaya yang langsung membuat Edrea bangkit dan berlalu pergi dari ruangan tersebut tanpa banyak bicara lagi.
Jaya terlihat menatap kepergian Edrea dengan tatapan yang tidak biasa.
"Van cari tahu lebih detail tentang gadis itu dan juga petunjuk lain yang berhubungan dengan mayat yang kita temukan kemarin." ucap Jaya kepada Revan anak buah sekaligus rekan kerjanya itu yang masih terlihat bingung akan perubahan rekaman kamera pengawas tersebut.
"Siap ndan." ucap Revan.
__ADS_1
Bersambung