Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Jangan membenci Sang Pencipta


__ADS_3

"Apa maksud dari perkataan Ibu barusan?" tanya Barra dengan tatapan yang bingung membuat Ibu lagi-lagi kembali tersenyum.


Ibu yang mendengar pertanyaan dari Barra barusan lantas menunjuk ke arah meja dimana semua makanan terhidang di sana saat itu, membuat Barra yang sama sekali tidak mengerti akan maksud dari arah tunjuk Ibu lantas kembali menatap ke arah ibu dengan tatapan yang bertanya-tanya seakan menunggu penjelasan dari Ibu tentang maksud dari teka-teki yang baru saja Ibu berikan.


"Semua hidangan makanannya yang ada di sini ibarat jawaban dari penantian mu selama ini, Bukankah kamu sudah lama menunggu? Kemarin adalah jawaban dari cara yang selalu kau pertanyakan selama ini, jika sudah begitu apa lagi yang kau risaukan saat ini?" ucap Ibu kemudian dengan nada yang lembut.


Barra yang mendengar perkataan dari Ibu barusan tentu saja langsung terdiam seketika mencoba untuk mencerna setiap kata demi kata yang keluar dari mulut Ibu. Sesuatu jawaban yang sama sekali tidak Barra mengerti apa maksudnya, membuat Barra lantas menghela napasnya dengan panjang sambil terus mencerna namun sayangnya ia sama sekali tidak menemukan jawaban dari pertanyaannya.


"Pingsannya Edrea bukanlah tanpa sebab, di saat bibir kalian saling bertaut dengan rasa yang bergejolak di dalam diri kalian perlahan-lahan semua energi yang berada di dalam tubuh Edrea terserap dan berpindah ke dalam tubuh mu. Bukankah kamu ingin merubah akhir dari kisah kalian bertiga? Inilah jawabannya, kamu tentu tahu bukan apa yang harus kamu lakukan di saat takdir tersebut datang mendekat?" ucap Ibu kemudian yang lantas membuat Barra terkejut ketika mendengar perkataan Ibu barusan.


Barra yang mendengar penjelasan dari Ibu barusan tentu saja seakan merasa tak percaya bahwa jawaban yang Ibu maksud adalah kejadian yang ia alami kemarin sewaktu Barra dan juga Edrea bercumbu dalam keromantisan. Barra termenung sejenak memikirkan segala halnya secara perlahan, meski ia telah menemukan jalan keluar dari pertanyaannya setelah sekian lama dan sekian generasi. Nyatanya sama sekali tak membuat hatinya tenang begitu mengetahui akan hal ini.


Lagi dan lagi Barra di tuntut untuk memilih antara ia yang hidup atau Edrea yang hidup, keduanya sama sekali bukanlah sebuah pilihan yang benar dan tentu saja sama sekali tidak ingin Barra pilih salah satu diantaranya. Barra menghembuskan napasnya dengan kasar seakan tidak terima akan takdir yang terus mempermainkannya seperti ini. Apa Sang Penguasa begitu membencinya? Hingga sampai akhir pun Barra terus merasa di permainkan seperti ini.


"Bukan ini yang aku inginkan Bu... Aku ingin aku dan Edrea bisa saling berpegangan tangan hingga tua dan merasakan segalanya seperti layaknya pasangan pada umumnya." ucap Barra kemudian sambil bangkit dari tempat duduknya hendak berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


Mendengar perkataan frustasi yang berasal dari Barra membuat Ibu kembali tersenyum seakan mengerti akan kegundahan dalam diri Barra saat ini. Ibu yang melihat Barra berlalu pergi begitu saja lantas ikut bangkit dari posisinya sambil menatap punggung Barra.


"Janganlah berburuk sangka pada Sang Pencipta, percayalah bahwa apa yang ia gariskan adalah kebaikan untuk kita semua." ucap Ibu dengan nada setengah berteriak mencoba untuk mengingatkan Barra agar tidak berjalan semakin jauh dan membenci Sang Pencipta.


Mendengar perkataan Ibu barusan membuat Barra lantas menghentikan langkah kakinya sejenak namun detik berikutnya kembali melangkahkan kakinya begitu saja tanpa ingin berbalik badan ataupun kembali mengeluh kepada Ibu karena itu semua pasti akan menjadi sia-sia dan hanya berakhir dengan kekecewaan. Sedangkan Ibu yang melihat Barra terus melangkahkan kakinya pergi tanpa berbalik badan dan menatap kepadanya, hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.


"Aku yakin bahwa Dia sedang menyiapkan jalan yang terbaik bagi Edrea maupun Barra untuk ke depannya." ucap Ibu sambil menatap kepergian Barra hingga punggung laki-laki itu tidak lagi terlihat dalam pandangannya.


***


Sementara itu di Stasiun pemberhentian


Melihat tingkah aneh dari Edrea membuat Mira lantas menjadi bingung, sambil melangkahkan kakinya kembali menyusul Edrea yang sudah terlihat semakin menjauh. Lantas langsung mencoba mengejar Edrea dan langsung menepuk pundak Edrea yang lantas membuyarkan lamunan Edrea dengan seketika begitu Edrea mendapat tepukan pundak dari Mira barusan.


"Ah kamu mengagetkan ku saja." ucap Edrea sambil mengelus dadanya secara perlahan yang terkejut akan kehadiran Mira yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Lagian kamu melamun saja dari tadi, apa ada masalah?" tanya Mira kemudian.


Mendengar pertanyaan dari Mira barusan membuat Edrea lantas menghela napasnya dengan panjang. Edrea bahkan tidak terlalu yakin akan menceritakan segalanya kepada Mira saat ini mengingat bahwa masalahnya hanyalah terletak pada dirinya yang mendadak tepar tepat setelah ia dan Barra berciuman. Diingat dari sudut pandang manapun membuat Edrea menjadi malu dan terus saja merutuki kebodohannya.


Mira yang tak kunjung mendengar jawaban apapun dari Edrea lantas langsung menggerakkan tangannya tepat di hadapan wajah Edrea, membuat Edrea lantas mendengus dengan kesal begitu melihat hal tersebut.


"Tidak ada yang terjadi, aku hanya kesal saja karena Barra sama sekali tidak memberitahu ku kemana dia pergi." jawab Edrea kemudian ala kadarnya.


"Hanya karena masalah itu, benar-benar anak muda jaman sekarang!" ucap Mira dengan senyum yang mengejek sambil menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang menggoda, membuat Edrea langsung memutar bola matanya dengan jengah begitu mendengar perkataan dari Mira barusan.


"Menyebalkan! Sudahlah... Jika kamu hanya ingin menggoda ku saja sebaiknya jangan mengusik ku! Kamu dan juga Max sama saja, sama-sama menyebalkan." ucap Edrea kemudian dengan nada yang ketus kemudian berlalu pergi meninggalkan Mira seorang diri di sana.


Sedangkan Mira yang melihat Edrea marah karena ia terus menggodanya lantas menghela napasnya dengan panjang kemudian mulai melangkahkan kakinya menyusul kepergian Edrea. Ketika jarak diantara keduanya hanya tersisa beberapa centi meter saja, barulah Mira langsung mengalunkan tangannya pada leher Edrea. Membuat Edrea langsung terkejut seketika disaat tangan Mira mendadak mengalun di lehernya dan menariknya mengikuti arah langkah kaki Mira.


"Apa yang kamu lakukan?" pekik Edrea sambil berusaha melepas pitingan tangan Mira di lehernya.

__ADS_1


"Mengajak mu pergi bersenang-senang!" ucap Mira kemudian dengan tawa kecil di akhir kalimatnya membuat Edrea lantas langsung menelan salivanya dengan kasar begitu mendengar kata tersebut keluar dari mulut Mira barusan.


Bersambung


__ADS_2