Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Aku akan membantu mu


__ADS_3

"Ardi Laksmana, lahir di Bandung 15 Januari 1992, waktu kematian 13.05 akibat kecelakaan." ucap Edrea dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh sosok arwah di hadapannya yang sudah di pastikan bahwa itu adalah arwah Ardi.


"Aku tidak bisa pergi..." ucap Ardi dengan nada yang tercekat.


"Waktu mu di dunia sudah berakhir, saatnya kamu untuk pergi dan beristirahat dengan tenang." ucap Edrea lagi.


Ardi yang mendengar kembali ucapan dari Edrea barusan lantas langsung mendekat dan bersimpuh kepada Edrea meminta untuk dikasihani, Ardi benar benar tidak bisa pergi sekarang dan meninggalkan dua bidadari hatinya begitu saja tanpa pamit.


"Ku mohon bantu aku." ucap ardi lagi dengan nada yang memohon sambil bersimpuh kepada Edrea, membuat Edrea lantas terkejut akan hal itu.


"Aku..." ucap Edrea dengan nada yang tercekat, ia bahkan sekarang bingung harus mengatakan apa pada arwah Ardi.


"Aku tidak akan meminta lebih hanya berpamitan saja, ku mohon..." ucap Ardi lagi kembali meyakinkan Edrea akan permintaannya.


"Baiklah aku akan membantu mu asalkan kau menuruti segala perkataan ku dan berjanji akan ikut dengan ku setelah masalah mu selesai." ucap Edrea memperingati, ini adalah pertama kalinya hatinya tersentuh untuk menolong arwah Ardi apalagi setelah membaca profil Ardi tadi.


"Baik, aku janji..." ucap Ardi sambil bangkit berdiri dan menatap ke arah Edrea dengan senyum yang mengembang.


"Dengarkan aku, jalan lah dengan biasa saja secara perlahan ke persimpangan jalan dan tunggu aku di sana, aku akan menyusul mu." ucap Edrea menunjuk ke arah simpang jalan sebelum tanjakan maut yang menyebabkan kecelakaan beruntun tersebut.


Ardi yang mendengar instruksi dari Edrea barusan lantas langsung mengangguk dan mulai berjalan menuju ke arah yang di tunjuk oleh Edrea barusan. Sedangkan Edrea yang sudah melihat Ardi mulai melangkahkan kakinya sesuai instruksinya, lantas langsung menatap ke arah kanan dan kirinya memastikan tidak ada yang melihatnya kali ini, kemudian mulai melangkah ke arah yang sama seperti Ardi.


Barra yang melihat segala gerak gerik Edrea lantas agak sedikit terkejut ketika melihat kepergian Edrea dan juga Ardi ke arah yang berlawanan dengan instruksinya tadi. Barra menghela nafasnya panjang ketika tebakannya tentang Edrea kembali benar dan terjadi lagi.


"Tidak bisa kah setidaknya dia menuruti ucapan ku sekali saja? dasar si pembuat masalah!" ucap Barra pada diri sendiri sambil terus menatap kepergian Edrea dan juga arwah Ardi hingga menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Seorang pengawal arwah yang bertugas memastikan semuanya berjalan dengan lancar, lantas terlihat mendekat ke arah Edrea ketika ia juga melihat Edrea dan juga arwah Ardi bergerak menjauh dari yang seharusnya.


"Tuan... saya meminta ijin untuk mengejar pelayan anda yang bergerak menjauh dari tempat yang seharusnya." ucap Fino dengan nada yang sopan meminta ijin kepada Barra sebelum akhirnya bergerak mengejar Edrea.


"Tidak perlu, biarkan saja dia pergi aku yang akan mengurusnya... kau lanjutkan saja tugas mu." ucap Barra dengan nada yang datar namun dengan tatapan yang tetap fokus ke arah depan.


"Baik tuan" ucap Fino sambil menunduk kemudian langsung berlalu pergi dan melanjutkan tugasnya.


Setelah kepergian Fino dari hadapannya, Barra lantas memijat pelipisnya sebentar kemudian menghela nafasnya dengan panjang. Barra kemudian lantas menjentikkan tangannya dan langsung berteleportasi pergi dari sana ke suatu tempat.


**


Sementara itu Edrea dan juga Ardi lantas melangkahkan kakinya dengan terburu buru menuju arah yang di tunjuk oleh Ardi, bodohnya Edrea yang melupakan bahwa ia masih dalam posisi yang tidak terlihat oleh manusia hingga Edrea kesulitan untuk mencari tumpangan karena memang tubuhnya yang tidak terlihat, sehingga pada akhirnya Edrea dan juga Ardi memilih berjalan kaki menuju ke tempat tujuan.


Ketika Edrea dan juga Ardi melintasi jalan pintas menuju pemukiman rumah Ardi, keduanya lantas di kejutkan dengan kehadiran Barra yang muncul dengan tiba tiba di hadapan keduanya, membuat langkah kaki Edrea dan juga Ardi terhenti seketika.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Ardi ketika melihat kemunculan Barra dengan tiba tiba yang lantas membuat Edrea mengangguk seakan mengiyakan pertanyaan dari Ardi barusan.


"Bar... aku mohon kali ini saja ijinkan aku untuk membantunya..." ucap Edrea dengan nada yang memohon ketika melihat tatapan tajam dari Barra barusan.


Barra yang mendengar ucapan Edrea barusan lantas langsung tersenyum dengan sinis ke arah Edrea.


"Kau tahu apa yang akan kau tanggung jika membantu arwah kabur dari penjemputannya?" ucap Barra dengan tersenyum sinis.


"Aku akan menanggungnya.." ucap Edrea dengan nada yang ragu ragu seakan mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik baik saja.

__ADS_1


Barra yang mendengar jawaban ragu ragu dari Edrea barusan, lantas langsung melesat dan berhenti tepat di hadapan Edrea dengan jarak hanya beberapa centimeter saja, membuat Edrea lantas terkejut akan kehadiran Barra yang tiba tiba seperti itu.


"Pergilah dulu Ar.. aku akan menyusul mu..." ucap Edrea dengan spontan tepat ketika Barra berada di hadapannya.


"Tapi..." ucap Ardi tidak yakin akan keputusan Edrea barusan.


"Pergi" teriak Edrea lagi, membuat Ardi yang mendengar teriakan tersebut lantas terkejut dan dengan spontan berlarian pergi meninggalkan Edrea di sana bersama dengan Barra.


Barra yang melihat Ardi hendak pergi tentu saja tidak tinggal diam begitu saja dan hendak mengejar Ardi. Hanya saja sesuatu yang tidak terduga tiba tiba di lakukan oleh Edrea ketika Barra hendak melangkahkan kakinya pergi dari sana.


"Berhenti!" teriak Barra hendak mengejar kepergian Ardi.


Tanpa di duga, Edrea yang melihat Barra hendak pergi, lantas dengan spontan langsung menarik tengkuk Barra dan mencium bibir Barra dengan mata yang terpejam, membuat Barra yang mendapat kejutan tersebut lantas terdiam mematung sambil melotot karena saking terkejutnya akan tindakan dari Edrea barusan.


Namun ketika bibir Edrea dan juga bibir milik Barra bertemu, angin di sekitaran sana lantas berhembus dengan kencang hingga menerbangkan dedaunan kering di sekitaran mereka.


Nginggggggggg........


Bunyi itu terdengar dengan jelas dan nyaring di telinga keduanya, membuat Edrea lantas dengan spontan membuka matanya karena terkejut. Di tengah tanda tanya yang besar di benak Edrea, dengan tiba tiba Barra lantas mendorongnya menjauh namun kali ini dengan tenaga yang kecil dan tidak sekuat sebelumnya, hingga Edrea langsung mundur beberapa langkah dan jatuh terduduk karena dorongan dari Barra barusan.


"Ah..." teriak Barra dengan posisi langsung berjongkok sambil memegangi kepalanya seperti tengah kesakitan.


"Barra!" pekik Edrea.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2