
Di sebuah jalan tol tempat kecelakaan terjadi, terlihat Mira, Edrea dan juga Wili melangkahkan kakinya dengan secara perlahan mendekat ke arah di mana jasad gadis tersebut tergeletak dengan bersimbah darah. Jika melihat dari posisinya, sepertinya akan lama jasad gadis itu di evakuasi mengingat jalan tol ini jarang sekali di lewati orang orang.
Edrea yang melihat kondisi jasad yang mengenaskan, hanya bisa menahan dirinya karena tidak tega akan kematian tragis yang menimpa gadis itu, hingga ketika ketiganya sampai tepat di depan jasad gadis itu, ketiganya lantas langsung menghentikan langkah kaki mereka dan menatap ke arah arwah gadis itu yang tengah menatap ke arah jasadnya dengan tatapan yang sendu namun tidak bisa berbuat apa apa.
"Pricilia Anggraeni, usia 21 tahun, masa kehidupan mu di dunia sudah berakhir, kamu sudah melakukan yang terbaik selama ini... sekarang saatnya kamu ikut dengan ku dan menuju ke tempat yang lebih baik lagi." ucap Mira yang lantas membuat arwah Pricilia menoleh seketika.
Mendengar ucapan Mira barusan, dengan perasaan yang berat sosok arwah Pricilia nampak bangun dan langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mira dan juga Edrea, membuat Edrea yang memang dasarnya selalu saja merasakan rasa simpati yang berlebih, menatap ke arah wajah sendu Pricilia membuatnya menjadi tidak tega.
"Sebagai bentuk bonus untuk mu, katakan padaku apa yang ingin kamu lakukan untuk membalas perbuatan penabrak mu yang melarikan diri itu?" ucap Mira dengan nada yang santai namun malah membuat Wili dan juga Edrea saling pandang satu sama lain.
Edrea yang mendengar ucapan Mira tentu saja terkejut, selama proses penjemputan arwah yang ia lakukan baik ketika bersama Max, Arya atau bahkan Barra sekalipun tidak ada yang mengatakan hal seperti yang Mira lakukan saat ini, kecuali Barra yang memintanya untuk memilih hukuman apa yang cocok untuk pembunuh tepat ketika pertemuan pertama kalinya dengan Barra sekaligus tugas pertamanya.
Tidak hanya Edrea saja, Wili yang juga mendengar kata bonus keluar dari mulut Mira ikut terkejut, karena pasalnya Mira sama sekali tidak pernah menggunakan sesi itu bahkan untuk arwah dengan hidup yang sangat sangat tragis sekalipun.
Mendengar ucapan Mira, arwah Pricilia nampak terdiam sejenak kemudian menatap ke arah Mira dengan tatapan yang dalam seakan ragu, apakah ucapan Mira benar benar bisa di percaya atau tidak.
__ADS_1
"Bisakah aku untuk egois saat ini? aku... aku benar benar tidak rela akan kematian ku yang secara tiba tiba ini, aku.. ingin dia juga merasakan hal yang sama yang seperti aku rasakan." ucap arwah Pricilia sambil menundukkan kepalanya karena ia sendiripun juga tidak terlalu yakin dengan permintaannya itu yang terkesan sangatlah jahat, hanya saja ketika melihat kepergian pengemudi tersebut ketika melihatnya masih hidup, membuat perasaan marah dan juga kesal lantas menumpuk menjadi satu dan membentuk pikiran kejam di otak arwah Pricilia saat ini.
"Tentu saja bisa, hanya saja pikirkanlah terlebih dahulu matang matang karena apa yang sudah kau minta tidak akan bisa di tarik kembali." ucap Mira lagi yang lantas membuat Edrea semakin di buat bingung dan khawatir ketika mendengar obrolan Mira dan juga sosok arwah Pricilia.
Arwah Pricilia yang mendengar jawaban dari Mira, lantas langsung membuatnya mendongak dan menatap ke arah Mira dengan tatapan yang sumringah dan langsung dengan spontan menganggukkan kepalanya tanda setuju. Edrea yang tidak yakin dengan cara ini, dengan spontan langsung mendekat ke arah Mira dan mencoba membisikkannya sesuatu.
"Apa kau yakin Barra tidak akan marah dengan ini?" ucap Edrea dengan nada setengah berbisik, namun malah membuat Mira tersenyum ketika mendengarnya.
"Bukankah kau ingin bersenang senang? ini adalah waktunya bersenang senang untuk apa kau memasang raut wajah yang serius begitu? tersenyumlah dan nikmati itu adalah kuncinya..." ucap Mira lagi yang membuat Edrea langsung terdiam dan tidak lagi menyanggah sesuatu yang di ucapkan oleh Mira.
Setelah kesepakatan terjadi antara Mira dan juga arwah Pricilia. Mira dan Edrea kemudian bergerak mencoba untuk menyusul si penabrak gadis itu sedangkan Wili yang mengurus segala prosesi penjemputan sekaligus mengantar sosok arwah Pricilia menuju ke Stasiun pemberhentian sebelum keberangkatannya tiba.
Mira dan Edrea terlihat melangkahkan kakinya menyusuri jalan tol tersebut sambil menatap lurus ke arah depan, membuat Edrea yang tidak tahu apapun, hanya bisa mengikuti langkah kaki Mira dan segala hal yang tengah ia lakukan tanpa protes atau mengatakan sepatah kata apapun.
Rasa trauma akibat dari kepergian Sari, membuat Edrea seakan tidak lagi ingin memberikan harapan palsu kepada para arwah yang ia jemput atau bahkan terlalu bersemangat dalam menjalankan misinya, karena bagi Edrea kini, semua hal yang ia lakukan dan kerjakan dengan terlalu bersemangat akan tetap mengantarkan para arwah menuju ke alam selanjutnya, walau ia berusaha untuk mencegah atau memperbaiki manset dan pemikiran para arwah yang akan ia jemput, namun nyatanya keputusan tetap ada pada tangan mereka, baik itu akan berakhir dengan sesuatu kebaikan atau bahkan sebuah keburukan.
__ADS_1
Mira menghentikan langkah kakinya di tengah tengah jalan raya kemudian mengambil posisi berjongkok, seulas senyum terlihat terpancar dari wajah Mira ketika ia seakan akan tengah menemukan sesuatu lewat sentuhannya barusan.
"Apa kau sudah siap untuk bersenang senang?" tanya Mira kemudian yang lantas membuat Edrea menatap ke arah Mira dengan tatapan yang bingung karena Mira selalu saja mengulang kata bersenang senang dan membuat Edrea bertanya tanya, tentang apa sebenarnya yang sedang ingin Mira tunjukkan kepada Edrea lewat kata bersenang senang.
"Apa kau sudah menemukan lokasinya?" tanya Edrea kemudian yang di balas Mira dengan anggukan kepala.
Mira yang sudah yakin akan posisi dari si penabrak tersebut, lantas langsung menggenggam tangan Edrea dengan erat dan bersiap untuk berteleportasi ke sebuah tempat di mana si penabrak itu berada saat ini.
"Bersiaplah" ucap Mira dengan lirih kemudian mulai berteleportasi.
Tepat setelah Mira mengatakan hal tersebut, tubuh keduanya lantas langsung berpindah tempat ke sebuah mobil pribadi edisi terbatas, di mana seorang pria kini tengah terlihat sedang mengemudikan mobilnya dengan raut wajah yang gelisah. Edrea yang baru saja di bawah berpindah tempat, lantas langsung terkejut karena tubuhnya yang tiba tiba muncul di kursi penumpang bagian belakang mobil tersebut.
Mira kemudian terlihat menunjuk ke arah kursi pengemudi dan memberikan isyarat kepada Edrea untuk diam dan jangan berisik, baru setelah itu Mira kembali berteleportasi ke kursi penumpang di bagian depan tepat di sebelah pengemudi, yang langsung membuat si pengemudi itu terkejut dan menginjak pedal remnya secara mendadak.
"Halo" ucap Mira dengan santainya.
__ADS_1
Bersambung