Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Pemuda tampan berbaju kerajaan


__ADS_3

Setelah mengantar sosok roh tersebut ke Stasiun Pemberhentian, Barra kemudian kembali bergegas menuju dunia manusia untuk menemui Ibu. Jujur saja Barra benar-benar penasaran akan maksud dari perintah Ibu yang menyuruhnya untuk membiarkan sosok arwah itu mengambil Indri.


Dengan langkah kaki yang perlahan Barra mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion Ibu dengan gerakan yang bergegas. Ditatapnya seluruh ruangan mansion untuk mencari keberadaan Ibu di sana, hingga sebuah suara lantas terdengar di telinganya yang lantas membuat Barra langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Apa kamu mencari ku, Bar?" tanya sebuah suara.


Barra yang melihat suara tersebut berasal dari Ibu lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ibu hendak langsung menanyakan tentang sosok arwah tersebut.


"Apa maksud Ibu?" ucap Barra langsung pada intinya.


Sedangkan Ibu yang mendengar pertanyaan dari Barra barusan hanya tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan dan menuang teh pada sebuah cangkir kemudian menggesernya ke arah Barra, membuat Barra semakin bingung akan tingkah Ibu yang malah menyuguhkannya minuman bukannya menjawab pertanyaannya barusan.


"Bu bisakah..." ucap Barra namun terpotong karena ucapan Ibu barusan.


"Duduklah dan minum ini." ucap Ibu dengan tersenyum lembut.


Mendengar Ibu kembali menawarkan Barra untuk meminum tehnya, pada akhirnya Barra lantas melangkahkan kakinya dan mengambil duduk di meja makan kemudian meminum teh tersebut seteguk setelah itu menaruhnya kembali ke meja makan. Ditatapnya raut wajah Ibu yang terlihat teduh itu dengan tatapan bertanya, setelah meminum teh barusan entah mengapa perasaan Barra yang tadinya seperti gelisah dan bertanya-tanya perlahan-lahan mulai mereda dan sedikit lebih tenang.


"Apa kamu sudah lebih tenang saat ini?" tanya Ibu kemudian yang langsung di balas Barra dengan anggukan kepala.


Melihat jawaban tersebut Ibu kemudian bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya ke arah mini bar mengambil beberapa kue kering untuk di berikan kepada Barra.


"Kamu tahu Bar? terkadang beberapa hal tidak akan tampak hanya dari kulitnya saja, butuh pemahaman dan juga pikiran yang dingin untuk bisa melihat sesuatu lebih mendalam lagi." ucap Ibu kemudian.

__ADS_1


Barra terdiam mendengar perkataan dari Ibu seakan mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Ibu. Sedangkan Ibu yang melihat Barra hanya diam lantas tersenyum dan kembali duduk di hadapan Barra.


"Kembali lah ke Stasiun Pemberhentian dan antar kedua arwah tersebut untuk menaiki gerbong hijau yang akan mengantarkan mereka naik ke atas." ucap Ibu kembali memberikan perintah.


Barra yang mendapat perintah tersebut tentu saja terkejut, pasalnya gerbong kereta berwarna hijau di gunakan untuk para arwah pilihan dan juga spesial, bagaimana mungkin tiba-tiba Ibu menyuruhnya untuk memberangkatkan kedua arwah tersebut dengan gerbong kereta berwarna hijau?


Ibu yang tahu Barra akan menolak kembali perintahnya lantas kembali berbicara yang membuat Barra dengan spontan mendongak ke arah Ibu.


"Akan ada yang kamu pelajari dari kasus ini Bar, percayalah padaku dan lakukan semuanya..." ucap Ibu lagi.


Pda akhirnya Barra hanya bisa melaksanakan perintah dari Ibu barusan, dengan langkah yang ragu ragu Barra kemudian mulai melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman Ibu dan kembali menuju ke Stasiun Pemberhentian untuk melaksanakan perintah dari Ibu barusan.


***


Mira dan Edrea yang baru saja sampai di sana, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Barra dengan langkah kaki yang bergegas. Mira yang sudah tidak sabaran kemudian membuka pintu ruangan Barra tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, membuat Barra yang juga baru saja sampai di ruangannya menjadi terkejut ketika mengetahui ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya dengan tiba-tiba.


"Bar bisa kita tanya sesuatu tentang sosok arwah yang di jemput oleh Max?" tanya Mira langsung pada intinya.


Barra yang langsung mendapat pertanyaan tersebut kemudian mendapat sebuah ide dan langsung menatap ke arah Mira dan juga Edrea bersiap memberikan perintah tanpa lebih dahulu menjawab pertanyaan Mira barusan.


"Kebetulan kalian datang, jemput lah seorang arwah pendendam di kamar 509 dan juga arwah Indri yang baru saja di jemput oleh Max, bawa mereka ke gerbong hijau!" ucap Barra memberikan perintah.


Sedangkan Mira dan juga Edrea yang mendengar perintah dari Barra barusan, tentu saja langsung saling pandang satu sama lain karena tujuan mereka yang ingin mencari tahu kejelasan tentang apa yang terjadi malah berakhir dengan mereka berdua yang mendapatkan perintah secara tiba tiba.

__ADS_1


"Tapi Bar..." ucap Mira hendak protes namun Barra langsung menyela ucapannya.


"Sudah lakukan saja nanti kalian berdua pasti akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan kalian berdua." ucap Barra dengan nada yang santai sambil mengambil posisi duduk pada kursi kebesarannya.


Pada akhirnya mau tidak mau Mira dan juga Edrea hanya bisa menuruti perintah Barra yang tiba tiba itu tanpa bisa kembali menolak. Dengan langkah kaki yang kesal keduanya kemudian terlihat melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Barra, membuat Barra lantas tersenyum ketika melihat keduanya pergi dengan raut wajah yang cemberut seperti itu.


"Ada ada saja... bahkan tingkah laku keduanya benar benar mirip." ucap Barra dengan senyum yang mengembang.


***


Tempat keberangkatan para arwah


Setelah mendapat perintah dari Barra barusan, baik Edrea maupun Mira kemudian lantas membagi tugas mereka, dimana Edrea menjemput arwah pendendam sedangkan Mira menjemput arwah Indri dan berkumpul di tempat keberangkatan. Hanya saja, Edrea yang kebagian tugas menjemput arwah pendendam di kamar 509 di kejutkan dengan sesosok pemuda tampan dengan pakaian kerajaan jaman dulu tengah duduk dengan santainya di dalam kamar Apartment yang harusnya di tempati oleh sosok arwah pendendam seperti ucapan Barra ketika memberikan perintah kepada Mira dan juga Edrea tadi.


Edrea yang terkejut akan kehadiran sosok tersebut di sana lantas dengan spontan melangkahkan kakinya mundur untuk kembali melihat nomor kamar unit Apartment yang ia masuki, takutnya Edrea telah salah masuk kamar. Namun ketika Edrea sampai di luar unit kamar yang ia masuki benar benar tertulis angka 509 dan itu artinya Edrea memasuki kamar yang benar.


Edrea menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu kemudian kembali masuk ke dalam dengan raut wajah yang bingung seakan masih tidak percaya dan mencoba mencari dimana letak kekeliruannya. Padahal jelas jelas Edrea sama sekali tidak masuk pada unit kamar yang salah, namun mengapa sosok arwah di dalamnya berbeda.


Sebuah pemikiran gila tentang sosok arwah pendendam yang kabur dari tempatnya tiba-tiba terlintas dibenaknya dan membuat Edrea dengan spontan melangkahkan kakinya dengan terburu buru mendekat ke arah sosok pemuda tampan yang memakai baju kerajaan tempo dulu itu.


"Siapa kamu?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2