Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Akan ku tunjukkan


__ADS_3

Langkah kaki Edrea yang semula ringan dan penuh dengan senyum, langsung terhenti seketika di saat bayangan yang tak asing mendadak melintas tidak jauh dari tempatnya berada.


"Jangan bilang akan ada korban baru lagi!" pekik Edrea dalam hati menerka nerka.


Edrea yang yakin bahwa yang ia lihat barusan adalah Fano, lantas langsung berlarian mencoba untuk mengejar Fano berharap tidak akan lagi ada korban yang berjatuhan kali ini.


"Semoga saja aku belum terlambat..." ucap Edrea dalam hati sambil mempercepat langkah kakinya menyusul Fano yang menuju ke arah tangga darurat.


Edrea mulai menaiki satu persatu anak tangga sambil sesekali melirik ke arah atas dan melihat ke lantai mana Fano melangkahkan kakinya, kemudian baru kembali melangkah. Hingga beberapa menit menaiki anak tangga dengan nafas yang ngos ngosan, dengan spontan Edrea langsung masuk ke dalam rooftop dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari keberadaan Fano di sana namun ternyata tidak ada apapun, membuat Edrea lantas langsung mengerutkan keningnya dengan bingung karena jelas jelas ia melihat Fano masuk ke dalam rooftop tadi.


"Apa kau sedang mencari ku?" ucap sebuah suara dengan nada yang berbisik tepat di telinganya.


Edrea yang mendengar suara bisikan tersebut, tentu saja dengan spontan langsung berbalik badan dan mencari sumber suara, namun sayangnya ketika ia berbalik badan yang ia lihat hanya kekosongan dan tidak ada siapa pun di sana. Sadar Edrea kini tengah di permainkan oleh Fano, Edrea mencoba untuk mulai mempertajam pandangannya dan berusaha untuk mendeteksi Fano.


"Apa mau mu sebenarnya ha?" teriak Edrea sambil menoleh ke sana ke mari mencari keberadaan Fano.


Entah ini halusinasinya atau sebuah energi milik Barra yang semakin menguat, tepat ketika Edrea memusatkan penglihatannya dan mencari keberadaan Fano, ia melihat Fano tengah tersenyum ke arahnya dalam posisi tidak jauh dari tempatnya berada, namun dalam gambaran hitam putih yang Edrea sendiri tidak tahu mengapa bisa seperti itu.


Fano melesat mendekat ke arah Edrea, sedangkan Edrea yang melihat hal tersebut hanya terdiam dan pura pura tidak melihatnya walau sebenarnya ia kini bahkan sudah merasa takut dan juga deg degan akan kehadiran Fano.


"Aku mau dirimu!" bisik Fano lagi yang membuat Edrea langsung melotot seketika.


Edrea yang kini sudah tahu letak posisi Fano, mendengar bisikan itu kembali di ucapkan oleh Fano, membuat Edrea langsung dengan spontan berbalik badan dan langsung memukul area dada Fano dengan menggunakan energinya. Hingga Fano yang tidak mengira Edrea akan melakukan serangan tiba tiba, lantas langsung terpental cukup jauh dan jatuh dengan posisi terlentang.

__ADS_1


**


Fano berusaha bangkit dari posisinya secara perlahan dan menatap ke arah Edrea, seulas senyum terbit dari wajahnya walau ia kini tengah kesakitan, ketika melihat manik mata ular terlihat samar di dalam manik mata milik Edrea.


"Kenapa kau tersenyum?" ucap Edrea yang tidak mengerti akan ekspresi yang di berikan oleh Fano barusan.


"Aku tersenyum karena apa yang sudah aku tanam dalam dirimu kini sudah mulai berkembang dengan pesat, tidakkah kau sadar kita mempunyai kesamaan saat ini? kau pikir penglihatan mu barusan berasal dari energi milik Barra? jika itu yang ada di pikiran mu tentu saja jawabannya adalah tidak!" ucap Fano dengan tersenyum menyeringai sambil bangkit berdiri.


"Apa maksud dari ucapan mu barusan?" tanya Edrea dengan tatapan yang bingung sekaligus tidak mengerti akan arah pembicaraan dari Fano barusan.


Fano yang mendengar pertanyaan dari Edrea barusan hanya tersenyum kemudian melesat dan berhenti tepat di belakang Edrea. Tangan milik Fano perlahan lahan mulai meraba area tengkuk Edrea yang kala itu terbuka dengan jelas karena Edrea menguncir rambutnya ala kuncir kuda.


Hawa dingin mendadak langsung merasuk ke dalam tubuh Edrea ketika tangan milik Fano menyentuh area lehernya, Edrea terpejam beberapa menit dengan perasaan aneh yang ia rasakan di sekujur tubuhnya.


"Rea apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Kiera dengan nada yang ngos ngosan, membuat Edrea langsung terkejut seketika karena kehadiran Kiera yang tiba tiba di sana.


"Aku... aku hanya ingin menenangkan diri saja." ucap Edrea mengalihkan pembicaraan karena melihat keringat Kiera yang kini bercucuran seperti habis lari maraton.


"Kau benar benar sekate kate ya... aku jauh jauh lari ke sini karena melihat mu berlarian naik ke tangga darurat... aku kira kau ingin bunuh diri tadinya!" ucap Kiera dengan nada yang kesal sekaligus ngos ngosan.


"Aku tidak segila itu kali... apa yang kamu pikirkan hingga mengira aku akan bunuh diri coba?" ucap Edrea sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kiera dan langsung menggandeng tangan sahabatnya itu.


"Entahlah aku juga tidak tahu... mungkin itu hanya gerakan reflek saja ketika melihatmu naik ke tangga darurat tadi." ucap Kiera sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Sudahlah... lebih baik kita ke kantin saja aku lapar!" ajak Edrea kemudian yang lantas di balas dengan anggukan kepala oleh Kiera.


Keduanya kemudian lantas melangkahkan kakinya pergi dari rooftop hendak menuju ke arah kantin, tanpa keduanya sadari sedari tadi Fano tengah mengintai keduanya dalam jarak radius yang tidak jauh dari posisi Edrea dan juga Kiera berada. Seulas senyum terbit dari wajah Fano ketika melihat kepergian Edrea dan juga Kiera dari sana.


"Sepertinya permainan kali ini akan cukup seru..." ucap Fano dengan senyum yang menyeringai menatap ke arah punggung keduanya yang sudah tidak lagi terlihat oleh Fano.


****


Malam harinya


Edrea yang tiba tiba saja merasakan rasa haus yang sangat sangat teramat dengan tubuh yang lemas, lantas langsung turun dari mobilnya dan mendatangi penjual asongan untuk membeli satu air mineral berniat untuk menghilangkan rasa haus yang melanda dirinya saat ini.


"Mas tolong air mineralnya satu..." ucap Edrea sambil memberikan selembar pecahan seratus ribuan, kemudian langsung membuka tutup botol itu dengan tidak sabaran dan meminumnya hingga tandas.


Pedagang asongan yang melihat Edrea minum dengan rakusnya malah menatap Edrea dengan tatapan yang nakal.


"Haus banget ya neng?" ucap pedagang tersebut yang lantas membuat Edrea langsung menatap ke arahnya.


Edrea yang kembali melihat ada aura aneh yang menutupi sekitaran tubuh pedagang tersebut, lantas mulai menjulurkan lidahnya seakan ingin untuk menghisap aura di sekitaran pedagang itu. Hingga tanpa sadar, karena dorongan rasa haus yang tidak kunjung terobati Edrea malah seakan seperti tengah terhipnotis dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah pedagang asongan tersebut.


Pada akhirnya Edrea benar benar lepas kendali dan tidak lagi bisa mengontrol rasa haus yang tidak kunjung berkesudahan, membuat manik mata Edrea samar samar mulai berubah warna menjadi hijau layaknya mata ular, sambil terus sesekali menjulurkan lidahnya.


"Ap... apa yang akan neng lakukan... neng..." ucap pedagang asongan tersebut dengan raut wajah yang ketakutan ketika melihat manik mata Edrea yang terus berganti ganti sedari tadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2