Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Cepat pergi istirahat


__ADS_3

"Ada apa kalian semua berkumpul di sini?" ucap sebuah suara yang lantas membuat semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara ketika mendengarnya.


Dari arah pintu masuk terlihat Barra dan juga Mira tengah melangkahkan kakinya dengan perlahan mendekat ke arah merdeka berempat. Melihat kedatangan Mira dan juga Barra di ruangan tersebut membuat Arya dan juga Max lantas saling pandang satu sama lain. Arya dan juga Max yang kian melihat langkah kaki Barra mendekat kemudian mulai sedikit menundukkan kepalanya seakan tengah memberi hormat kepada Barra. Membuat Andi yang sedikit aneh ketika melihat keduanya memberi hormat hanya bisa menatap bingung akan segala situasi yang sedang terjadi saat ini.


"Sebenarnya ada apa ini semua?" ucap Andi bertanya-tanya kepada yang lain dengan tatapan bingung.


Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba dari Andi di tengah keheningan yang terjadi di ruangan tersebut, membuat semua orang lantas langsung menatap ke arahnya dengan spontan. Barra yang memperhatikan wajah bingung dari Andi lantas hanya menghela napasnya dengan panjang kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Max dan juga Arya berada.


"Bagaimana aku menjelaskannya kepadamu ya? Intinya semua perjalanan mu selama ini tengah berakhir. Sekarang waktunya kamu untuk pergi dan mempertanggung jawabkan segala perbuatan mu selama kamu hidup di dunia ini baik berupa kebaikan maupun berupa kejahatan, semua yang kau lakukan akan mendapat balasannya." ucap Barra kemudian dengan nada yang terlihat lebih bersahabat ketimbang sebelumnya.


Andi yang mendengar perkataan dari Barra barusan lantas raut wajahnya langsung berubah menjadi sendu. Ditatapnya sekilas Edrea yang kini juga tengah menatap ke arahnya, membuat Edrea yang mengerti akan arti dari tatapan tersebut, lantas membalasnya dengan senyuman yang tulus seakan mengatakan kepada Andi bahwa semua akan baik-baik saja.


"Aku akan menjaga pemberian mu ini, terima kasih untuk segala kenangan yang telah kamu berikan di masa lalu Andi, bagaimana pun juga kamu akan selalu menjadi orang yang berkesan di hidup ku." ucap Edrea kemudian sambil memegang erat kotak perhiasan pemberian dari Andi barusan.


Setalah mendengar perkataan dari Edrea, raut wajah Andi perlahan-lahan mulai berubah menjadi berseri. Sepertinya Andi sudah lega karena ia tidak lagi mempunyai beban ataupun perasaan bersalah kepada Edrea. Dengan langkah kaki yang perlahan Max dan juga Arya mulai menuntun Andi agar mengikuti langkah kaki keduanya yang akan membawa Andi menuju ke Stasiun Pemberhentian.

__ADS_1


Edrea yang melihat kepergian Andi bersama dengan Arya dan juga Max hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang sendu. Apapun yang terjadi dengannya dan juga Andi sebisa mungkin Edrea akan menganggapnya hanya sebagai masa lalu yang manis. Lagi pula selama keduanya menjalin kisah kasih di sekolah Andi sama sekali tidak pernah menyakiti perasaannya, meski kemudian sesuatu tak terduga terjadi dan membuat hubungan keduanya merenggang. Namun terlebih dari itu Edrea tetap merasa bahagia pernah mengenal Andi di hidupnya.


"Selamat jalan Andi, aku harap kamu memperoleh kehidupan yang lebih baik di atas sana." ucap Edrea dalam hati sambil terus menatap kepergian Andi hingga menghilang dari pandangannya.


Sementara itu Barra dan juga Mira terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea tepat setelah kepergian Max dan juga Arya yang membawa arwah Andi pergi bersama dengan mereka. Sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Edrea berada, Barra yang melihat Edrea terus saja menatap ke arah pintu masuk ruangannya lantas berdecak dengan kesal sambil memutar bola matanya dengan jengah.


"Apa kau akan sampai besok menatap ke arah kepergiannya? Tidakkah kau lelah terus berdiri seperti itu?" ucap Barra dengan nada yang ketus yang langsung membuyarkan lamunan Edrea saat ini.


Mira yang mendengar perkataan ketus dari Barra barusan tentu saja langsung tersenyum kecil. Dinasehati bagaimanapun namanya cemburu pasti tetap akan cemburu dan hal itulah yang saat ini terjadi kepada Barra. Diliriknya sekilas Edrea yang terlihat tengah menatap bingung ke arah Barra yang nampak memasang wajah jutek tersebut. Hingga kemudian Mira yang sudah tidak tahan lagi ketika melihat tingkah keduanya, lantas langsung mendekat ke arah Edrea dan langsung membisikkannya sesuatu.


"Jangan bercanda Mir, seorang tuan angkuh sepertinya tidak mungkin menyukai ku." pekik Edrea yang lantas membuat Mira langsung menatap tajam ke arah Edrea karena tidak bisa menjaga mulutnya dengan benar.


"Hentikan pembicaraan tidak faedah kalian berdua, kalian pikir aku tidak bisa mendengarnya apa?" ucap Barra dengan nada yang ketus.


Sedangkan Mira dan juga Edrea yanng mendengar perkataan Barra barusan hanya bisa saling pandang antara satu sama lain sambil sibuk menggerutu tidak jelas, membuat Barra yang melihat tingkah laku keduanya lantas berdehem cukup keras dan langsung membuat keduanya terdiam seketika.

__ADS_1


Begitu deheman dari Barra terdengar menggema memenuhi ruangan tersebut, membuat situasinya menjadi hening dan juga canggung. Baik Edrea maupun Mirra lantas terlihat langsung menutup mulutnya dengan rapat begitu mendengar kode dari Barra. Membuat Barra lantas menghela napasnya dengan panjang begitu melihat tingkah keduanya yang seakan mirip dengan bocah tersebut.


"Kamu kembali ke ranjang mu dan istirahat agar nanti malam tubuh mu menjadi lebih fit ketika pulang nantinya." ucap Barra memberikan perintah kepada Edrea.


Sedangkan Edrea yang mendengar perintah dari Barra barusan, lantas langsung melangkahkan kakinya tanpa suara kembali ke brankar pasien untuk merebahkan dirinya di sana dan beristirahat seperti perintah dari Barra barusan.


Ditatapnya kotak perhiasan yang masih Edrea genggam dengan erat ketika ia sudah dalam posisi berbaring, bagaimana pun juga gelang ini adalah pemberian terakhir dari Andi sebelum kepergiannya, membuat Edrea lantas menjadi tidak enak karena harus bertemu sekaligus berpisah untuk selamanya dengan Andi setelah bertahun-tahun lamanya mereka berdua tidak bertemu.


Disaat Edrea sibuk memandangi kotak perhiasan tersebut, sebuah tangan kokoh mendadak merampas kotak tersebut hingga membuat Edrea terkejut seketika disaat mendapati tangan seseorang mengambil pemberian Andi untuk yang terakhir kalinya tersebut. Sambil menatap kesal ke arah pemilik tangan itu, Edrea yang hendak marah karena kelakuan seseorang tersebut, lantas langsung terdiam seketika setelah mengetahui bahwa pemilik tangan tersebut adalah Barra.


Sambil mencebikkan mulutnya, Edrea terlihat menatap kesal ke arah Barra karena mengambil pemberian Andi tanpa seijin dirinya.


"Sudah jangan protes, cepat pergi istirahat dan jangan pikirkan apapun saat ini!" ucap Barra memberikan perintah kepada Edrea, membuat Edrea hanya bisa menatap dengan tajam ke arah Barra karena Barra selalu saja berbuat sesuka hatinya.


"Tapi Bar..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2