
"Sebenarnya siapa yang tengah kamu khawatirkan antara aku atau sosok gadis yang berwajah seperti ku di masa lalu?" ucap Edrea kemudian dengan pandangan yang kosong, membuat Barra dengan spontan langsung menoleh ke arahnya karena terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Edrea barusan.
Pikiran Barra mendadak menjadi bercabang ketika pertanyaan itu lolos dadi mulut Edrea begitu saja. Mulut Barra terkunci seakan tidak bisa mengatakan apa apa. Antara gadis di masa lalu dengan Edrea merupakan satu jiwa namun di masa yang berbeda. Hanya saja ketika Edrea bertanya mana yang lebih ia khawatirkan, bukankah itu merupakan sebuah pilihan yang sulit?
Jujur saja Barra mulai memandang berbeda kepada Edrea karena Edrea adalah reinkarnasi dari gadis di masa lalu, namun Barra tidak pernah menyadarinya apakah rasa yang ada saat ini di dalam dirinya adalah murni karena Edrea atau percampuran dari efek ketika Barra melihat sosok Edrea yang sangat mirip dengan gadis di masa lalu. Bukankah itu sungguh tidak adil bagi Edrea?
Di saat rasa yang ada pada Edrea tercurah karena perhatian kecil yang di tunjukkan oleh Barra, namun kenyataannya Barra tidak benar benar melakukannya karena Edrea melainkan untuk gadis berwajah mirip dengannya.
"Apa yang sedang kamu katakan? saat ini yang terpenting kita harus bisa mengubah apa yang terjadi di masa lalu agar tidak berakhir sama, kamu tentu sudah melihat ending dari kisah itu bukan?" ucap Barra mencoba mengalihkan pertanyaan Edrea.
Sedangkan Edrea yang mendengar ucapan Barra barusan lantas langsung tersenyum dengan sinis. Barra yang tidak memberikan jawaban untuknya saja sudah benar benar terlihat bahwa apa yang ada di kepala Edrea benar benar sebuah kenyataannya, lalu mengapa Edrea sangat bodoh dan tetap saja menaruh hati pada sosok setengah manusia itu?
"Apa salahnya dengan akhir yang sama Bar lagi pula aku bukanlah sosok gadis itu, jadi kalau aku mati di tangan mu karena siluman ular hitam, lalu apa peduli mu?" ucap Edrea kemudian yang lantas membuat Barra langsung menoleh ke arahnya.
"Apa yang sedang kau bicarakan ha? jangan berbicara melantur seperti itu karena ini bukan saat yang tepat untuk pikiran gila mu itu!" ucap Barra dengan nada yang kesal.
__ADS_1
Edrea yang mendengar ucapan Barra benar benar merasa seperti tertampar kenyataan, segala hal yang bersangkutan dengan Barra termasuk perhatian perhatian kecil yang Barra berikan kepadanya hanyalah sebuah ilusi semata yang tidak pernah benar benar nyata untuknya. Padahal Edrea sudah merasa melambung tinggi ke awan ketika sosok Barra yang semula dingin mendadak menjadi begitu perhatian padanya dan lebih bersahabat, apakah Edrea salah jika menganggap hal itu sebagai sebuah hal yang istimewa?
Edrea kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra dan berhenti tepat ketika jarak keduanya hanya tersisa beberapa centi saja. Di tatapnya manik mata Barra dengan berkaca kaca seakan saat ini Edrea tengah menahan tangisnya yang bercampur dengan rasa kekecewaan akan sebuah fakta yang baru saja ia ketahui dari mulut Barra sendiri.
"Jika kau tidak suka dengan ucapan ku yang melantur cukup abaikan saja, ini adalah hidup ku... mati atau tidaknya aku itu bukanlah urusan mu, camkan itu Bar!" ucap Edrea sambil menatap tajam ke arah Barra yang nampak terkejut ketika mendengar ucapan Edrea sekaligus ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Edrea.
Setelah mengatakan hal tersebut Edrea lantas langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Barra, meninggalkan Barra dengan tatapan yang tidak lepas dari punggung Edrea hingga menghilang dari pandangannya. Barra mengusap wajahnya dengan kasar ketika melihat kepergian Edrea dari ruangannya.
"Argggg benar benar sialan!" ucap Barra dengan nada yang kesal sambil menggenggam dengan erat meja kerjanya.
Sementara itu Edrea yang baru saja keluar dari ruangan Barra barusan, melangkahkan kakinya dengan bergegas menjauh dari ruangan Barra. Diusapnya air mata yang jatuh dengan cepat di pipinya ketika perasaan kecewa kembali menerpa dirinya, ucapan Barra benar benar menyakitinya, membuat Edrea tidak tahan lagi jika terus seperti ini.
"Harusnya sedari awal Barra mengatakan batasannya, jika aku sudah terlalu jauh masuk lalu bagaimana aku mencari jalan keluar? tidakkah dia terlalu kejam padaku?" ucap Edrea dengan nada yang lirih sambil menggigit bibir bawahnya menahan isak tangisnya agar tidak sampai jatuh dan terdengar oleh orang orang.
Ketika Edrea hendak melangkahkan kakinya keluar dari Stasiun Pemberhentian, dari arah tidak jauh dari tempatnya berada terlihat Mira tengah melangkahkan kakinya hendak menuju ke arah ruangan Barra untuk memberikan laporan kepadanya. Mira yang melihat Edrea baru saja keluar dari ruangan Barra, lantas memasang senyum yang mengembang hendak menyapa Edrea, hanya saja sebuah pemandangan yang tidak Mira inginkan nampak terlihat ketika Mira tak sengaja melihat raut wajah kesedihan terlukis jelas pada raut wajah Edrea.
__ADS_1
Mira yang melihat hal tersebut lantas langsung menghentikan langkahnya dan menatap ke arah langkah kaki Edrea dengan pandangan yang menelisik. Dengan langkah kaki yang bergegas Mira lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi pada Edrea saat ini.
Sedangkan Edrea yang melihat kedatangan Mira, lantas langsung dengan spontan mengusap air matanya yang kembali jatuh dan membasahi pipinya. Niat Edrea yang tadinya hanya ingin melewati Mira saja ketika berpapasan dengannya, namun nyatanya salah karena Mira berhenti tepat di hadapannya yang langsung menghentikan langkah kaki Edrea, sehingga mau tidak mau Edrea harus berbicara dengan Mira.
"Apa yang salah dengan mu Rea?" tanya Mira dengan raut wajah yang khawatir.
Edrea yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung menggeleng dengan kuat, berusaha secepat mungkin menyudahi pembicaraan ini karena Edrea sama sekali tidak mood untuk berbicara. Mira yang melihat gelengan kepala Edrea, malah semakin di buat bingung sekaligus penasaran akan apa yang benar benar terjadi kepadanya, namun sepertinya akan sangat sulit mendapatkan informasi dari Edrea saat ini ketika moodnya sedang tidak baik baik saja.
"Ada apa sebenarnya? jika kamu ada masalah kamu bisa menceritakannya padaku, tak perlu sungkan jika aku bisa aku akan membantu mu." ucap Mira dengan nada yang lembut membuat Edrea langsung mendongak ke arah Mira menatap manik mata Mira dengan tatapan yang menelisik.
Edrea yang melihat ada hal yang sama di manik mata milik Mira mirip seperti manik mata milik Barra, membuat Edrea kebingungan dan langsung mundur secara perlahan. Bayangan tentang perubahan sikap Mira padanya tiba tiba saja membuat Edrea berpikir bahwa apa yang di lakukan oleh Mira sama halnya dengan Barra, hanya sebuah ilusi semata yang tercipta karena kejadian masa lalu yang ingin keduanya perbaiki di masa sekarang.
"Apa semua yang kau lakukan juga karena ikatan masa lalu yang belum selesai? katakan padaku yang sebenarnya..." tanya Edrea dengan tiba tiba.
"Aku..."
__ADS_1
Bersambung