Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Di mana arwah Steven?


__ADS_3

Stasiun pemberhentian


Max yang baru saja mendapat sinyal lantas terlihat melangkahkan kakinya memasuki ruangan Barra dengan perlahan. Ketika jarak di antara keduanya hanya berjarak beberapa centi saja barulah Max menghentikan langkah kakinya sambil memberikan iPad yang sedari tadi ia bawa kepada Barra.


Barra yang melihat hal tersebut lantas langsung mengambil iPad pemberian Max dan mulai membaca rincian informasi yang terletak dalam iPad tersebut.


"Saya ingin meminta ijin kepada anda untuk melakukan proses penjemputan tuan." ucap Max menjelaskan maksud dan tujuannya.


"Penyebab kematiannya hanya karena kelelahan saja, aku rasa tidak akan ada masalah yang berarti. Jika kamu butuh teman pergilah bersama Arya namun jika kamu merasa mampu lakukan tugas tersebut sendiri, aku sudah memberikan ACC dan kamu sudah bisa memulai prosesnya." ucap Barra sambil menggeser iPad tersebut dan memberikannya kembali kepada Max.


"Baik tuan terima kasih atas pengertiannya." ucap Max sambil sedikit menunduk ke arah Barra kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan Barra dan mulai bergerak melakukan proses penjemputan arwah.


***


Galeri seni


Kiera yang sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam lantas terus menarik tangan Edrea agar mempercepat langkah kakinya memasuki area Galeri seni. Edrea yang memang sedang tidak mood hanya mengikuti arah tarikan Kiera dengan raut wajah yang cemberut.


Perlahan tapi pasti langkah kaki keduanya mulai terlihat memasuki Galeri seni tersebut. Edrea yang semula masuk dengan raut wajah yang cemberut begitu masuk ke dalam raut wajahnya langsung berubah seketika. Sesuatu yang aneh mendadak Edrea rasakan ketika langkah kaki Kiera kian membawanya masuk ke dalam. Di dalam suasana yang terasa asing Edrea melihat beberapa gumpalan asap berwarna hitam keabuan nampak berada di setiap pengunjung Galeri seni tersebut, seakan seperti sedang berusaha menarik para pelanggan untuk melihat ke satu tempat namun Edrea tidak tahu di mana itu.


"Lihatlah Rea! Bukankah lukisan-lukisan di sini sangat indah?" ucap Kiera bertanya sambil terus menarik tangan Edrea agar mengikuti langkah kakinya.


Edrea yang memang sedang tidak fokus ditanya seperti itu oleh Kiera, hanya bisa mengangguk tanpa mendengarkan ucapan Kiera sama sekali. Kiera yang melihat ada yang salah dengan Edrea kemudian menoleh dan melihat apa yang tengah di lakukan oleh sahabatnya itu. Hingga ketika Kiera berbalik badan ia malah melihat Edrea tengah sibuk memandangi sekitar seperti tengah mencari sesuatu namun Kiera tidak tahu apa itu.

__ADS_1


"Kamu mendengar ku tidak sih Ki?" ucap Kiera dengan nada yang kesal.


Sedangkan Edrea yang mendengar ucapan Kiera barusan langsung mengangguk sekilas ke arah kiera kemudian kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar, membuat Kiera hanya bisa mendengus dengan kesal ketika melihat tingkah Edrea barusan.


"Em Ki, kamu selesaikan tugas mu aku akan berkeliling untuk melihat-lihat sebentar." ucap Edrea sambil melepas gandengan tangannya dan mulai berlalu pergi meninggalkan Kiera.


Kiera yang ditinggal begitu saja oleh Edrea tentu saja bingung sekaligus tidak habis pikir dengan tingkah sahabatnya itu yang terkesan aneh.


"Ah sudahlah, terserah kepadanya yang jelas dia mau menemani ku ke sini saja sudah untung." ucap Kiera kemudian sambil menatap punggung Edrea sebentar kemudian mulai bergerak dan mencari bahan untuk tugas dari pak Reno.


**


Edrea yang mulai penasaran akan asap berwarna hitam keabuan yang menuntun beberapa pelanggan di Galeri seni ini, lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya mengikuti arah perginya asap tersebut. Namun yang membuat Edrea semakin tertarik akan asap tersebut yaitu ketika ia mencoba untuk mengikuti kemana perginya, asap tersebut selalu saja menghilang dan terbawa angin seakan akan seperti tahu jika Edrea tengah mengikutinya.


"Ah benar benar sial! awas saja ya kalau sampai aku menemukan mu..." ucap Edrea kemudian dengan nada kesal sambil kembali melanjutkan langkah kakinya mencari asal dari asap berwarna hitam keabuan itu.


**


Sementara itu di sudut ruangan yang masih terletak di Galeri seni, sesosok hantu pria tengah tersenyum dengan senang menatap ke arah Edrea yang terlihat mondar-mandir mencari asal dari asap yang ia ciptakan untuk membuat beberapa pelanggan datang dan mendekat ke arah lukisannya. Sosok itu senang ketika melihat Edrea yang bersusah payah ke sana ke mari sehingga ia sedari tadi mengerjai Edrea dan terus membuatnya berputar.


Tidak akan ku biarkan dia mengetahuinya sebelum lukisan ku terjual dengan harga yang tinggi.


***

__ADS_1


Sementara itu setelah mendapat ijin dari Barra tadi, Max memutuskan untuk mengikutsertakan Arya dalam tugas ini. Setidaknya untuk menjadikannya teman dikala suntuk ketika proses penjemputan arwah berlangsung.


Setelah melakukan teleportasi, keduanya sampai di sebuah Apartment studio yang tidak terlalu luas dan hanya berisi satu kamar saja di dalamnya. Dengan langkah yang perlahan Arya dan juga Max lantas terlihat memasuki area unit Apartment studio itu dengan cara menghilang kemudian kembali lagi muncul di area dalam unit Apartment studio tersebut.


Arya dan juga Max terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan kamar di mana ketika mereka masuk ke dalamnya, ruangan kamar tersebut sudah penuh dengan cat yang berserakan di mana mana, membuat Max sedikit memperhatikan langkah kakinya karena takut sepatu barunya menginjak cat yang masih basah di lantai kamar tersebut.


Keduanya kemudian lantas menghentikan langkah kakinya ketika mereka sampai di sebuah kursi gaming yang dalam posisi memunggunginya. Dengan gerakan yang cepat Max yang mengira sosok arwah yang akan ia jemput berada di hadapannya, lantas langsung menjentikkan jarinya dan memunculkan iPad di tangannya dan bersiap melakukan proses penjemputan kepada sosok arwah tersebut.


"Steven Fernando, meninggal akibat kelelahan dalam bekerja, masa kehidupan mu di dunia ini kini sudah berakhir saatnya kamu ikut dengan kami dan menebus segala perbuatan baik dan buruknya yang telah kamu lakukan selama masa hidup mu!" ucap Max kemudian mematikan iPad di tangannya dan mengembalikannya ke tempat semula.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


Melihat tidak ada respon apapun dari Steven, Arya dan juga Max lantas langsung saling pandang satu sama lain seakan bertanya tanya apa yang telah terjadi hingga Steven tidak kunjung bersuara juga.


Arya yang tidak sabar menunggu Steven bersuara lantas dengan spontan memutar kursi gaming dihadapannya dengan sekali gerakan. Ketika kursi itu berbalik dan menghadap mereka berdua, betapa terkejutnya mereka ketika ternyata yang ada di sana hanyalah jasad Steven saja sedangkan rohnya sama sekali tidak ada di sana.


"Di mana Steven?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2