Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Mulai berubah


__ADS_3

Ruangan Barra


Tak tak tak


Suara langkah kaki seseorang yang terdengar memasuki ruangan Barra, lantas membuat Max dan juga Edrea dengan spontan menoleh ke arah sumber suara. Edrea yang melihat kedatangan Mira, lantas hanya melirik sekilas kemudian kembali menenggelamkan wajahnya pada lututnya, membuat Max yang ada di sana lantas hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang ketika melihat ke arah Edrea.


Mira yang baru saja datang, langsung mengkode Max untuk keluar dari sana dan memberikannya ruang untuk berbicara berdua bersama dengan Edrea saat ini. Max yang melihat kode dari Mira yang menyuruhnya untuk pergi kemudian mengangguk dengan pelan dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan Barra untuk memberikan waktu berdua kepada Mira dan juga Edrea.


Setelah kepergian Max dari sana, Mira lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Edrea sambil menatap lurus ke arah tembok, membuat Edrea yang menyadari kehadiran Mira lantas langsung menoleh ke arah Mira dan menatapnya dengan tatapan yang bertanya tanya akan maksud dari perilakunya saat ini.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Edrea kemudian sambil mengusap air matanya dengan kasar dan mengambil posisi duduk di lantai karena kakinya yang mulai kram.


Mira yang mendapat pertanyaan tersebut, lantas hanya tersenyum sekilas ke arah Edrea kemudian kembali menatap lurus ke arah depan.


"Aku hanya sedang memahami mu saja, ternyata jika di pikir pikir mempunyai rasa simpati berlebih pada seseorang mempunyai sisi positif dan negatifnya ya?" ucap Mira kemudian yang lantas membuat Edrea menatapnya dengan tatapan yang bingung akan arah pembicaraan Mira.


Edrea yang mendengar ucapan Mira tidak menjawab atau menyanggah ucapannya, yang di lakukan Edrea hanya diam melirik Mira sekilas kemudian kembali menatap lurus ke depan seakan enggan untuk mengeluarkan suaranya. Sedangkan Mira yang tidak mendengar jawaban apapun dari Edrea lantas menghela nafasnya dengan panjang, mungkin imagenya yang buruk dengan Edrea membuat Edrea selalu menaruh curiga ketika Mira mendekat ke arah Edrea dan memberikannya perhatian.


"Kau tahu? sejak dulu aku sudah terkenal dengan sifat dingin dan arogan membuat Barra selalu saja berisik dan terus terusan mengomeli ku setiap waktu, walau aku melakukan pekerjaan ku dengan benar. Aku tidak tahu sejak kapan sifat ini mendarah daging padaku tapi yang jelas aku menyukai watak ku yang saat ini karena menurut ku segala sesuatunya lebih mudah di atur jika kita bersikap tegas dan arogan, bukankah seseorang yang dingin dan juga arogan selalu di takuti dan menjadi penguasa? hal itu lah yang membuat ku semakin membentuk manset ku untuk terus mempertahankan sifat ini." ucap Mira mulai bercerita, membuat Edrea dengan spontan langsung menatap dengan serius ke arah Mira.

__ADS_1


Edrea yang sedari tadi sedih karena kematian Sari, kini perlahan lahan mulai teralihkan dengan kisah hidup Mira. Edrea yang tidak pernah berbicara panjang bersama dengan Mira, mendengarnya bercerita seperti ini entah mengapa membuat hatinya tenang, seakan seperti ada daya tarik sendiri agar Edrea mau mendengarkan cerita Mira dan berbagi dengannya.


"Lalu... apakah sampai sekarang kau masih mempertahankannya?" tanya Edrea kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


Sedangkan Mira yang mendengar ucapan dari Edrea barusan lantas terdiam, pikiran Mira melayang jauh menarik kembali ke masa sebelum kedatangan Edrea di Stasiun Pemberhentian. Mira tidak pernah sekalipun merasa berubah dan tetap pada pendiriannya namun ketika Edrea datang dan berada di tengah tengah orang orang di Stasiun Pemberhentian, membuat Mira menjadi berpikir dua kali akan manset yang ia tanam di kepalanya. Mira yang mengira orang orang akan tunduk ketika ia berubah menjadi arogan dan tak tersentuh, nyatanya salah ketika ia melihat Edrea yang datang dengan segalanya kekurangannya, ketengilannya, kecerobohannya, dan juga kecerewetannya. Mira melihat Edrea seperti mempunyai daya tarik tersendiri untuk membuat orang orang menyukainya, hal itulah yang membuat Mira begitu membenci Edrea.


Hingga di saat sebuah fakta terkuak tentang masa lalunya dengan Edrea, membuat hati Mira yang semula keras menjadi melunak yang dapat merubah rasa benci Mira kepada Edrea menjadi kasih sayang layaknya seorang kakak kepada adiknya, apakah secepat ini berubah? jawabannya tentu saja tidak, karena perasaan benci dan juga kesal pada Edrea tetap masih ada dalam diri Mira, namun tertutup dengan perasaan kasih sayang dan juga khawatir yang lebih besar dan mampu meredam kebencian Mira terhadap Edrea.


**


Sementara itu di luar ruangan Barra,


"Apa yang sedang tuan lakukan?" tanya Max kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Tidak ada" jawab Barra dengan singkat membuat Max semakin di buat agak bingung dengan sikap Barra yang aneh menurutnya.


Hening beberapa saat, tidak ada pembicaraan apapun lagi setelah Barra menjawab pertanyaannya dengan singkat barusan, Max yang berdiri di sana menjadi serba salah dan tidak tahu harus melakukan apa di saat saat seperti ini, hingga kemudian Barra memulai pembicaraan kembali yang lantas membuat Max langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena mendengar permintaan aneh Barra barusan.


"Kau tahu Cafe di dunia manusia yang sering di datangi Arya?" tanya Barra yang lantas membuat Max langsung mengernyit seketika di saat mendengar pertanyaan Barra barusan.

__ADS_1


Max yang mendengar ucapan Barra lantas langsung mengangguk dengan spontan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, seorang Barra menanyakan Cafe kopi itu sangatlah langka, hingga membuat Max memandangnya dengan aneh.


"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang, aku ingin merasakan seenak apa kopi itu sampai sampai kau dan juga Arya terus saja mengatakannya tanpa henti." ucap Barra kemudian sambil merangkul pundak Max yang semakin membuat Max salah tingkah ketika Barra melakukannya.


"I...iya tuan..." ucap Max dengan nada yang tergugup.


***


Ruangan Barra


"Entahlah aku juga tidak tahu, tapi yang jelas semua telah berubah berkat kau..." ucap Mira kemudian dengan senyum yang mengembang.


Edrea yang mendengar ucapan dari Mira lantas semakin di buat tidak mengerti, sedangkan Mira setelah mengatakan hal tersebut lantas langsung bangkit berdiri kemudian menatap ke arah Edrea dalam dalam.


"Hidup dan mati seseorang itu merupakan takdir, jangan pernah kamu menyesali ataupun berusaha untuk mencegahnya karena kematian akan tetap terjadi walau kamu lari hingga ke ujung dunia sekalipun, bukankah Barra pernah mengatakan kata kata ini? aku rasa jika di katakan oleh ku tidak terlalu buruk bukan?" ucap Mira dengan nada yang lembut sambil tersenyum tulus ke arah Edrea, membuat Edrea lantas tertegun ketika mendengar sekaligus melihat senyuman tersebut dari wajah Mira.


"Apa ada sesuatu yang terjadi padamu? mengapa aku merasa kamu berubah?" ucap Edrea kemudian dengan tatapan yang menelisik ke arah Mira.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2