
Setelah menyelesaikan segala kegiatan yang tertera di dalam event tersebut dengan waktu yang singkat mungkin, panitia event memutuskan untuk mengakhiri event kali ini dan pulang lebih awal.
Beberapa mahasiswa bahkan terdengar mengeluh kesal karena rencana camp mereka yang semula di adakan selama 3 hari 3 malam harus berakhir lebih cepat hanya karena insiden hilangnya Edrea dan juga Fano kemarin malam.
"Baiklah semua masuk ke dalam Bus satu persatu dan pastikan tidak ada barang apapun yang tertinggal termasuk sampah sekalipun." ucap Aldo memberikan arahan kepada para mahasiswa.
"Yah... benar benar menyebalkan... mengapa harus pulang sekarang sih?" teriak salah seorang mahasiswa dengan kesal sambil melangkahkan kakinya memasuki Bus.
"Benar... ini bahkan tidak sesuai jadwal yang telah di tentukan..." sahut yang lainnya lagi.
"Sudahlah jangan mengeluh karena kami panita berusaha semaksimal mungkin agar event ini tidak jadi batal dan tetap berjalan, jika kalian masih menginginkan event seperti ini di adakan kembali setidaknya patuhi aturan dan larangan yang kami berikan untuk kalian." ucap Aldo dengan nada yang setengah berteriak sambil menyindir Edrea dan juga Fano yang kebetulan saat itu berada tidak jauh dari posisinya.
"Hah benar benar gak asik..." teriak para mahasiswa hampir secara bersamaan di dalam Bus.
Sedangkan Edrea mendengar yang lainnya protes, bukannya menanggapi malah langsung menutup wajahnya dengan topi yang ia gunakan dan bersiap untuk pergi tidur. Kiera yang melihat Edrea lebih banyak diam dari tadi pagi hanya bisa menghela nafasnya panjang tanpa bisa berbuat apa apa lagi.
***
Keesokan paginya di kampus
Edrea yang tengah suntuk serta bosan akan mata kuliah kali ini, lantas memilih untuk absen dan melipir ke arah gudang belakang mencoba untuk mencari udara segar dan merefresh pikirannya di sana, setidaknya mungkin tempat itu akan sangat nyaman jika di gunakan untuk menyendiri.
Edrea yang memang tidak terlalu memperhatikan jalanan di depannya lantas tanpa sengaja menabrak seseorang. Hanya saja ketika Edrea baru saja mengucapkan kata maaf, pria yang ditabraknya malah berlalu pergi begitu saja tanpa menghiraukannya.
"Bukankah itu Fano? apa yang dia lakukan di sini?" ucap Edrea bertanya tanya sambil masih menatap kepergian Fano hingga menghilang dari pandangannya.
"Sudahlah, mungkin dia juga sedang mencari udara segar sama seperti yang aku lakukan sekarang." ucap Edrea kemudian.
Edrea yang tidak ingin terlalu berpikir akan kemunculan Fano yang tiba tiba di sini, lantas berniat hendak kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah gudang. Namun lagi lagi langkahnya lantas terhenti ketika melihat Arya dan dua petugas Stasiun pemberhentian terlihat melangkahkan kakinya dengan lebar menuju ke arah sama yang akan ia tuju.
__ADS_1
"Arya? apa yang kamu lakukan?" ucap Edrea yang langsung membuat Arya terkejut karena Edrea bisa melihatnya.
"Kamu bisa melihat kita?" tanya Arya dengan tatapan bingung, namun langsung terjawab detik itu juga ketika Arya mencium energi milik Barra berada tepat di tubuh Edrea.
"Ah tuan Barra membagi energinya padamu rupanya, tidak heran kamu bisa melihat kita." ucap Arya kemudian.
"Lalu apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Edrea lagi karena Arya belum menjawab pertanyaannya barusan.
Arya yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung dengan spontan memberikan iPad kepada Edrea dan berlalu pergi dari sana. Edrea yang menerima iPad tersebut tentu saja terkejut bukan main akan informasi yang baru saja ia baca pada layar iPad tersebut.
Nama : Saga Saputra
Ttl : Jakarta, 20 Januari 2000
Kode : Putih
Sebab kematian : Menjadi tumbal atau di serap energi kehidupannya hingga tidak tersisa.
"Astaga!" pekik Edrea sambil menutup mulutnya dengan rapat ketika ia melihat jasad Saga sudah berubah menjadi tua dan keriput hingga hanya tersisa tulang dan juga kulit yang tetap menempel di tubuhnya.
"Siapa yang melakukan hal ini?" ucap Edrea dengan tatapan yang bingung.
Tidak hanya Edrea yang merasa bingung serta aneh akan kejadian ini, bahkan arwah Saga pun terlihat menatap raganya dengan tatapan yang sendu seakan tidak percaya bahwa hal ini bisa terjadi padanya.
Beberapa petugas nampak melangkahkan kakinya dan mulai terlihat menuntun arwah Saga untuk mulai bergerak dan pergi menuju ke Stasiun pemberhentian, hingga kini hanya menyisakan Edrea dan juga Arya di sana.
"Hal ini bisa saja terjadi karena keserakahan manusia." jawab Arya kemudian akan pertanyaan dari Edrea sebelumnya.
"Maksud mu?" tanya Edrea lagi yang tidak mengerti akan maksud dari ucapan Arya barusan.
__ADS_1
"Singkatnya mereka orang yang memiliki ilmu atau tengah mencari ilmu hitam akan mengambil energi orang orang yang masih hidup dan menyerapnya hingga habis, tidak hanya orang yang mencari ilmu siluman ataupun arwah pendendam juga bisa melakukan hal itu untuk memperpanjang hidupnya." jelas Arya atas pertanyaan dari Edrea.
Edrea yang mendengar penjelasan tersebut langsung terdiam seketika, pikirannya seakan berkelana mengingat ingat kembali bahwa tadi ia benar benar bertemu dengan Fano sebelumnya.
"Bukankah tadi Fano sebelumnya ke sini? gak mungkin kan kalau Fano yang melakukannya?" ucap Edrea dalam hati bertanya tanya tentang sesuatu yang akan menjadi kemungkinannya.
Arya yang sudah tidak lagi mendapat pertanyaan dari Edrea lantas hendak berlalu pergi dari sana namun di tahan oleh Edrea.
"Bawa aku bersamamu, ada yang harus aku cari tahu..." pinta Edrea kepada Arya.
"Bukankah tuan Barra belum meminta mu untuk datang? bagaimana kalau aku yang kena marah?" ucap Arya kemudian.
"Aku akan berusaha untuk tidak muncul di hadapannya, ku mohon boleh ya? ya ya?" ucap Edrea lagi dengan nada yang memohon.
"Tidak bisa... kau tahu sendiri bagaimana tuan kalau sedang marah? yang ada aku malah kena makan nantinya?" ucap Arya dengan nada yang kekeh.
"Aku akan bersembunyi, bantulah aku sekali saja..." pinta Edrea lagi.
Arya yang lagi lagi mendengar permintaan Edrea lantas langsung terdiam seketika seakan berpikir dan menimbang keputusan apa yang akan ia ambil saat ini.
****
Stasiun pemberhentian
Edrea terlihat tengah melangkahkan kakinya keluar dari Apartment dengan langkah yang perlahan, semua pertanyaannya telah terjawab sudah walau sebenarnya masih ada beberapa hal yang mengganjal di dalam hatinya.
"Apa mungkin ingatan arwah dapat di percaya? mungkinkah meraka hanya berhalusinasi saja?" ucap Edrea bertanya tanya akan jawaban yang ia terima barusan dari arwah Saga.
"Sebenarnya itu tergantung dengan bagaimana kamu menyikapinya, kamu bisa percaya atau juga bisa tidak, bukankah tidak ada yang mempengaruhi mu untuk percaya akan ucapan mereka?" ucap sebuah suara tepat di belakang Edrea yang lantas membuat langkah kaki Edrea terhenti seketika karena terkejut.
__ADS_1
Bersambung