Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Hanya teman biasa


__ADS_3

"Ternyata dia sudah mulai bergerak!" ucap Barra dengan nada yang singkat namun berhasil membuat Max kebingungan.


"Maksud anda tuan?" tanya Max tidak mengerti sambil menatap ke arah Barra dengan raut wajah yang penasaran.


Sedangkan Barra yang mendengar pertanyaan dari Max barusan, lantas terlihat mendongak dan menatap ke arah Max dengan tatapan yang aneh sekilas kemudian kembali fokus menatap ke arah dokumen yang ada di mejanya, membuat Max yang melihat tingkah tuannya yang aneh itu malah tambah kebingungan.


"Persiapkan saja segalanya, untuk kehebohan yang terjadi di dunia manusia biarkan dulu sementara seperti itu, jika memang sudah tidak terkontrol baru kita bertindak." ucap Barra kemudian yang lantas di balas Max dengan anggukan kepala.


"Baik tuan saya permisi." ucap Max kemudian berpamitan.


Barra yang melihat kepergian Max dari ruangannya lantas terdiam sejenak. Apa yang baru saja ia lewati dengan Edrea mungkin adalah sebuah gambaran akhir yang selalu dibicarakan oleh Siluman ular hitam tersebut. Helaan nafas terdengar berhembus dari mulut Barra, sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya Barra mulai menatap lurus ke arah depan. Pikirannya benar-benar melayang membayangkan segala hal yang baru saja ia lalui di hutan itu.


Barra mengetuk-ketukan jari tangannya pada meja, kemudian berpikir tentang cara apa yang bisa ia gunakan untuk merubah takdir yang sudah di gariskan, pikiran Barra kini bahkan sudah benar-benar tumpul dan tidak tahu harus bagaimana?


"Mungkin jawabannya ada pada bulan purnama merah, aku yakin pada saat bulan purnama merah kembali, sesuatu yang lebih mengerikan pasti akan segera terjadi." ucap Barra kemudian sambil terus menatap lurus ke arah depan.


**


Tempat pemberangkatan para arwah


Edrea yang wajahnya memerah karena tingkah Barra, lantas terlihat melangkahkan kakinya menyusul ke arah Mira yang tengah berada di tempat pemberangkatan untuk menjelaskan segalanya.


Hanya saja ketika langkah kakinya sampai pada tempat keberangkatan para arwah pemandangan yang tidak biasa lantas terlihat, membuat Edrea sedikit mempercepat langkah kakinya karena penasaran akan apa yang tengah terjadi saat ini. Dengan langkah yang bergegas Edrea mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mira dan mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Apa ada sesuatu Mir? Tumben gerbong putih sampai ada dua gerbong." ucap Edrea ketika menghentikan langkah kakinya tepat di sebelah Mira.

__ADS_1


Mira yang mendengar pertanyaan dari Edrea barusan lantas menghentikan gerakannya kemudian menyerahkan iPad yang ia pegang kepada Wili dan menyuruhnya untuk mengambil alih tugasnya.


"Akhir-akhir ini begitu banyak kematian yang disebabkan oleh energi mereka yang diserap habis oleh sesuatu, jarak kematian mereka yang berdekatan membuat kami sedikit kewalahan karena belum bersiap untuk mengantisipasi hal ini." ucap Mira mencoba untuk menjelaskan kepada Edrea.


Sedangkan Edrea yang mendengar penjelasan dari Mira barusan langsung terdiam seketika. Pikirannya kini bahkan langsung tertuju kepada Fano, apa yang terjadi pada beberapa arwah yang memasuki gerbong putih sama persis dengan beberapa arwah dari teman di kampusnya. Sementara Mira yang melihat Edrea hanya diam saja tanpa menanggapi ucapannya, lantas mengerutkan keningnya dengan bingung ketika melihat tingkah Edrea yang seakan seperti tengah memikirkan sesuatu, hanya saja sayangnya Mira tidak tahu apa itu.


Mira yang melihat Edrea hanya diam kemudian lantas mendekatkan wajahnya ke arah Edrea dan mulai melambaikan tangannya beberapa kali, sehingga membuat Edrea langsung tersadar dari lamunannya begitu melihat gerakan tangan Mira di depan wajahnya.


"Apa kau mendengar ku, ha? Rea?" ucap Mira sambil menggerakkan jari tangannya berkali-kali.


Edrea yang langsung tersadar dari lamunannya lantas menggenggam jari tangan Mira kemudian tersenyum dengan simpul ke arah Mira, membuat Mira langsung menghela nafasnya dengan panjang ketika melihat ekspresi wajah Edrea yang terlihat seperti orang bodoh itu.


"Iya aku mendengar mu." ucap Edrea sambil tersenyum.


"Begini nih kalau orang sedang jatuh cinta.. diajak ngobrol malah melamun, dasar!" ucap Mira sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali, membuat wajah Edrea kembali bersemu merah ketika mendengar ucapan dari Mira barusan.


"Hanya apa?" tanya Mira dengan nada yang menggoda.


"Aku dan Barra hanya teman biasa,sama seperti kamu, Max, Arya dan yang lainnya." ucap Edrea mencoba untuk menjelaskan namun raut wajahnya yang malu-malu sama sekali tidak selaras dengan ucapannya.


Mira yang melihat raut wajah Edrea yang malu-malu kucing lantas terus saja menggodanya habis-habisan hingga membuat wajahnya semakin merah padam karena ulah Mira yang terus menggodanya tanpa henti. Edrea benar-benar kehilangan muka di depan Mira, Mira bahkan sama sekali tidak bisa ia bohongi sehingga yang bisa dilakukan Edrea sedari tadi hanya menunduk sambil tersipu malu, membuat Mira semakin gencar menggoda dirinya.


"Em permisi madam maaf mengganggu, kereta gerbong putih sudah siap untuk di berangkatkan." ucap Wili yang memutus pembicaraan keduanya sedari tadi yang sebenarnya hanya berisi godaan Mira saja kepada Edrea.


Mira yang mendengar ucapan dari Wili barusan langsung menatap ke arah sumber suara kemudian mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


"Aku pergi dulu ya, kamu puas-puas lah bermesraan dengan Barra... dadah... hahaha" ucap Mira dengan senyum yang mengejek sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Edrea di sana.


"Ah benar-benar kelakuan." ucap Edrea sambil tersenyum malu menatap ke arah Mira dan juga Wili yang terlihat melangkahkan kakinya meninggalkan Edrea di sana seorang diri.


***


Ruangan Barra


Tok tok tok


Sebuah suara ketukan pintu dari arah luar, membuat Barra langsung mempersilahkan masuk si pengetuk pintu ketika ia mendengar suara ketukan pintu tersebut.


Setelah mengantongi ijin dari Barra, dengan langkah yang perlahan Edrea mulai melangkahkan kakinya memasuki ruangan Barra dan langsung mendudukkan bokongnya pada kursi yang berada di hadapan meja Barra, membuat seulas senyum lantas terlihat dari wajah tampan milik Barra ketika melihat kedatangan Edrea ke ruangannya.


Barra yang melihat Edrea datang lantas langsung menghentikan aktivitasnya kemudian bangkit dari kursinya dan pergi ke arah pantry, membuat Edrea lantas mengernyitkan keningnya begitu melihat kepergian Barra ke arah pantry.


"Milk tea boba! Kamu tahu dari mana minuman ini?" pekik Edrea yang terkejut akan minuman yang baru saja diberikan oleh Barra.


"Kamu kira aku se-kudet itu?" ucap Barra sambil mengulum senyum yang lebar seakan bangga bahwa ia bisa tahu tentang minuman yang akhir-akhir ini menjadi minuman favorit dari Edrea.


Edrea yang mendengar ucapan Barra barusan tentu saja langsung tersenyum dengan lebar namun detik berikutnya memudar dan berganti dengan raut wajah yang lesu, membuat Barra lantas menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang bingung.


"Ada apa?" tanya Barra.


"Apakah selama ini Fano adalah jelmaan dari Siluman ular hitam?" tanya Edrea pada akhirnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2