
"Baiklah tapi ada satu syarat yang harus kau lakukan." ucap Barra kemudian pada akhirnya, membuat Edrea yang mendengar hal tersebut lantas langsung bersemangat.
"Apa syaratnya?" tanya Edrea dengan tidak sabaran.
"Karena ini adalah kasus bunuh diri dan yang memegang kasus kematian tidak wajar adalah Mira, jadi syaratnya kau harus memintanya secara langsung kepada Mira, apa kau sanggup?" ucap Barra kemudian yang langsung membuat mimik wajah Edrea berubah seketika menjadi masam.
"Tidak bisakah yang lain saja? kau tau sendiri bukan bagaimana sikap Mira kepada ku?" ucap Edrea lagi.
"Keputusan ada di tangan mu, kabari aku jika kamu sudah mengantongi ijinnya..." ucap Barra kemudian berlalu pergi meninggalkan Edrea sendiri di sana dengan raut wajah yang kebingungan serta tatapan yang kesal ke arah Barra.
"Dasar si manusia kulkas!" gerutu Edrea dengan nada yang kesal sambil menatap kepergian Barra. "Eh bukan manusia dia deng, au ah.. benar benar menyebalkan." imbuhnya lagi kemudian ikut berlalu pergi dari sana dengan langkah kaki yang kesal menuju ke arah ruangan Mira.
***
Ruangan Mira
Tok tok tok
"Masuk" ucap Mira ketika mendengar suara ketukan pintu dari arah luar ruangannya.
Setelah mendapat ijin dari Mira barusan, perlahan lahan pintu ruangan itu terlihat mulai terbuka dan menampilkan sosok Edrea yang mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mira.
Melihat Edrea yang datang, seulas senyum lantas terbit dari wajah Mira.
"Wah wah wah bukankah hari ini adalah hari yang istimewa? sehingga pelayan seorang tuan Barra datang berkunjung ke ruangan ku." ucap Mira dengan nada yang menyindir membuat Edrea langsung memutar bola matanya dengan jengah karena malas.
"Apa aku tidak boleh berkunjung ke mari?" tanya Edrea kemudian dengan nada yang malas.
"Katakan saja secara langsung apa tujuan mu datang kemari? aku yakin kau ke sini bukan hanya sekedar untuk mampir bukan?" ucap Mira dengan nada yang ketus.
"Karena kau baru saja bertanya, baiklah aku tidak akan sungkan lagi, tujuan ku kemari adalah untuk meminta ijin mu menemui arwah Sila yang kemarin kalian jemput karena kasus bunuh diri di kampus ku." ucap Edrea pada akhirnya menjelaskan maksud kedatangannya.
__ADS_1
Mira yang mendengar permintaan tersebut lantas tersenyum dengan sinis, kemudian bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea.
"Keributan apa lagi yang akan kau buat kali ini? tidakkah kau lelah terus terusan membuat onar di sini?" ucap Mira dengan nada yang menyindir membuat Edrea kesal bukan main.
"Aku hanya ingin menemuinya sebentar, jika kamu tidak mengijinkannya tidak masalah aku sama sekali tidak keberatan." ucap Edrea dengan nada yang kesal, membuat Mira lagi lagi tersenyum melihat ekspresi kekesalan Edrea.
Edrea yang merasa sia sia bertemu dengan Mira, lantas memilih berlalu pergi dari sana dengan raut wajah yang kesal.
"Dasar bocah" ucap Mira dengan singkat ketika melihat kepergian Edrea dari ruangannya.
"Tunggu sebentar" teriak Mira pada akhirnya, tepat ketika Edrea berdiri di depan pintu dan hendak membukanya.
Edrea menoleh dengan malas ke arah Mira ketika mendengar panggilannya, namun Mira malah mengacungkan sebuah map ke arah Edrea yang membuat Edrea lantas menatap dengan bingung akan maksud dari Mira saat ini.
"Aku tidak bisa mengijinkan mu untuk bertemu dengannya karena kasus kematiannya bukanlah kematian yang wajar atau menjadi korban kejahatan, aku tahu kau akan kecewa tapi aku bisa memberikan mu ini." ucap Mira sambil memberikan sebuah map kepada Edrea.
"Apa ini?" tanya Edrea.
"Sungguh? kau tidak sedang membohongi ku bukan?" ucap Edrea dengan penuh semangat namun tidak langsung percaya begitu saja kepada Mira.
"Apakah wajah ku saat ini terlihat seperti sedang bercanda?" tanya Mira balik kepada Edrea.
"Tidak, terima kasih banyak atas bantuannya... aku permisi dulu..." ucap Edrea kemudian dengan raut wajah yang girang sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Mira.
"Kehidupan seperti apa yang terjadi antara aku dan dia di masa lalu? sehingga aku terus terusan berurusan dengannya." ucap Mira pada diri sendiri sambil menatap kepergian Edrea dari ruangannya.
***
Edrea yang baru saja keluar dari ruangan Mira, lantas melangkahkan kakinya dengan bahagia sambil membawa map tersebut di tangannya.
"Bagaimana? apa kau sudah berhasil mendapatkan ijinnya?" tanya sebuah suara dengan tiba tiba yang lantas membuat Edrea hampir tersungkur karena terkejut akan suara tersebut.
__ADS_1
"Kau... bisakah kau tidak datang secara tiba tiba seperti itu, aku benar benar terkejut tahu!" pekik Edrea dengan kesal sambil menatap tajam ke arah Barra yang terlihat tengah bersandar dengan santainya di tembok ruangan Mira.
"Bukankah kemunculan ku yang tiba tiba tidak hanya sekali dua kali? jadi aku rasa kamu harusnya sudah bisa beradaptasi akan hal itu." ucap Bara dengan nada yang santai sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea berada.
"Ya ya ya terserah apa katamu..." ucap Edrea pada akhirnya memilih untuk mengalah sambil mulai melangkahkan kakinya.
"Lalu bagaimana?" tanya Barra karena Edrea tidak langsung menjawabnya.
"Mira tidak mengijinkan aku bertemu dengan kenalan ku tapi dia memberi ku ini sebagai gantinya." ucap Edrea dengan senyum yang mengembang sambil menunjukkan sebuah map yang ada di tangannya ke arah Barra.
"Aku sudah menduganya..." ucap Barra dengan nada yang singkat.
"Kau sudah menebaknya? mengapa kamu tidak mengatakannya dari awal? jadi kan aku bisa berjaga jaga." ucap Edrea kemudian dengan nada yang kesal.
"Hanya ingin mengetes mu saja" ucap Barra dengan nada yang santai namun berhasil membuat Edrea melotot ketika mendengarnya.
"Kau memang benar benar ya..." ucap Edrea tidak tahu lagi harus berkata kata apa untuk menanggapi ucapan Barra barusan.
***
Di sebuah rumah yang masih terletak di ibu kota
Terlihat seorang pria tengah duduk meringkuk dengan ketakutan sambil menutup kedua telinganya dengan erat. Ruangan kamarnya begitu gelap tanpa pencahayaan yang menerangi ruangan kamar tersebut.
Oek... Oek... Oek...
Suara tangisan bayi terdengar menggema memenuhi ruangan kamar tersebut, membuat pria itu semakin meringkuk dan menutup telinganya dengan rapat, seakan akan takut dan enggan untuk mendengar suara tangisan bayi tersebut.
"Pergi kau... pergi.. jangan mengganggu ku! ikut saja sana ke akhirat bersama dengan ibumu." teriak pria tersebut sambil melempar beberapa barang yang ada di sekitarnya ke sembarang arah, berharap dengan melakukan hal itu suara tangisan itu akan menghilang dari ruangan kamarnya.
Bersambung
__ADS_1