Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Fano hilang


__ADS_3

Bus yang mereka tumpangi sampai di sebuh hutan tepat pada sore harinya, perjalanan yang mereka tempuh cukup lama bahkan hampir memakan waktu hingga seharian.


Setelah sampai di tempat yang di tuju para mahasiswa di giring untuk segera mendirikan tenda sebelum hari mulai gelap. Satu persatu tenda mulai didirikan, setiap tenda berisi sekitar 2 sampai 3 orang. Untuk area khusus cewek di khususkan pada posisi sebelah kanan sedang untuk mahasiswa pria di khususkan daerah sebelah kiri.


"Semuanya berkumpul dulu ke sini sebentar..." teriak salah seorang mahasiswa senior.


Mendengar teriakan tersebut beberapa mahasiswa yang tergabung dalam event ini berkumpul menjadi satu tepat di tengah tengah tenda bersiap mendengarkan sepatah dua patah dari para senior.


"Baik, perkenalkan aku Aldo... aku yakin sebagian dari kalian pasti sudah mengenal ku, sesuai mandat dari dekan aku di tunjuk sebagai ketua panitia yang akan memandu kalian dalam event ini. Aku tidak akan banyak bicara lagi karena aku yakin kalian tidak suka basa basi bukan? So... langsung saja aku umumkan, persiapkan diri kalian, karena sebentar lagi kita akan mengadakan jurit malam. Ar keliling dan bagikan undian itu..." ucap Aldo memberikan pengarahan.


Mendengar ucapan dari Aldo barusan, pria bertubuh tinggi dengan kulit hitam manis yang berdiri tepat di sebelah Aldo yaitu Arhan, lantas langsung bergerak dan mulai menghampiri satu persatu mahasiswa untuk memberikan kertas undiannya.


"Setelah kalian membuka kertas tersebut, akan ada nomor urut yang tertulis di dalamnya. Kalian akan di bagi menjadi beberapa kelompok di mana setiap kelompok akan terdiri dari tiga orang sesuai dengan nomor urut yang terdapat di sana. Jadi silahkan cari terlebih dahulu kelompok kalian." ucap Aldo kembali.


Mendengar kembali arahan dari Aldo barusan, beberapa mahasiswa lantas langsung beranjak dari tempatnya mencari anggota kelompoknya untuk jurit malam. Kebetulan Edrea bergabung dengan kelompok Kiera dan juga Fano, apakah ini sebuah kebetulan atau malah pengaturan? entahlah yang jelas Edrea sangat senang karena bisa sekelompok bersama dengan mereka.


"Baiklah jika kalian sudah menemukan kelompok kalian masing masing, saatnya jurit malam di mulai. Ikuti tanda panah yang terdapat di setiap cabang pohonnya dan usahakan jangan keluar jalur agar tidak tersasar di gelapnya hutan di malam ini. Kalian akan berhenti di setiap pos, dan di setiap pos akan ada misi yang harus kalian selesaikan. So selamat berpetualang..." ucap Aldo kembali sambil bertepuk tangan menandakan di mulainya jurit malam pada kali ini.


Semua mahasiswa sibuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam hutan untuk melaksanakan tugas mereka. Edrea, Kiera dan juga Fano juga ikut melangkahkan kakinya memasuki hutan untuk menjalankan setiap misi yang di berikan oleh para senior.


Ketiganya mulai melangkahkan kakinya menyusuri hutan malam ini untuk mencari pos pertama, namun tepat ketika ketiganya melangkah, Fano tiba tiba berjongkok membuat Edrea dan juga Kiera lantas langsung menghentikan langkah kaki mereka karena terkejut.


"Tali sepatumu lepas Ki... harusnya kamu lebih berhati hati kalau seperti ini kamu bisa tersandung nantinya." ucap Fano sambil mengikatkan kembali tali sepatu Kiera.


Baik Kiera maupun Edrea yang melihat perlakuan Fano tersebut lantas terdiam seketika, Edrea menelan salivanya dengan kasar sambil berusaha menjauhkan segala pikiran buruk di benaknya.


"Hahaha ini bahkan hanya tali sepatu, perlakuan Fano ke Kiera masih termasuk wajar bukan?" ucap Edrea dalam hati sambil terus menatap ke arah Fano yang masih bersimpuh membenarkan tali sepatu Kiera.

__ADS_1


Kiera yang merasa suasana mulai tidak enak, lantas langsung ikut berjongkok dan dengan perlahan menepis tangan Fano agar menjauh.


"Terima kasih tapi aku bisa mengikatnya sendiri..." ucap Kiera dengan tersenyum canggung.


"Em baiklah..." ucap Fano kemudian.


Setelah adegan yang canggung tersebut terjadi, ketiganya kemudian lantas melanjutkan langkah mereka menuju ke arah pos satu, jarak yang mereka tempuh lumayan lama sekitar 15 menitan jika berjalan dengan santai, apalagi mengingat suasana yang terjadi benar benar sangatlah canggung, membuat ketiganya hanya terdiam dalam pikiran masing masing sambil terus menyusuri pepohonan malam itu.


"Ah itu pos satu sudah kelihatan, aku akan ke sana dan mengambil misi kita, kalian berdua istirahatlah saja sejenak." ucap Edrea mengambil langkah seribu agar bisa menjauh dari keduanya.


"Kemarilah sebentar ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu..." ajak Fano setelah kepergian Edrea, sambil menarik tangan Kiera untuk melipir sedikit ke kiri daei kerumunan mahasiswa lainnya.


**


Sedangkan Edrea yang baru saja mengambil kotak misi, lantas di buat sedikit terkejut ketika melihat Fano menarik tangan Kiera sedikit menjauh dari beberapa mahasiswa.


Edrea yang penasaran akan keduanya, lantas langsung mengikuti arah kepergian Fano dan juga Kiera, hingga kemudian ketika langkah keduanya terhenti barulah Edrea ikut menghentikan langkah kakinya dan bersembunyi di balik pohon besar.


"Ada apa sih Fan? kenapa kamu menarik ku hingga kemari?" tanya Kiera yang bingung akan perlakuan Fano padanya.


"Sekarang hanya aku dan kamu di sini Ki, jangan lagi berpura pura bahwa kamu tidak mengetahui perasaan ku. Kamu tahu bukan jika aku menyukai mu semenjak pertemuan kita di lapangan basket, pertemuan kedua kita di Kafe, bahkan juga interaksi kita setelah itu. Tapi mengapa? mengapa kamu seakan tidak peka akan kode yang aku berikan padamu?" ucap Fano dengan kesal, ia bahkan sudah memendam ini cukup lama namun Kiera seakan sama sekali tidak perduli akan dirinya.


"Jangan gila kau Fan, yang menyukai mu itu Edrea bukan aku!" ucap Kiera dengan nada yang tertahan.


"Tapi aku sukanya kamu bukan yang lain!" ucap Fano dengan kekeh.


Edrea yang mendengar ucapan Fano barusan tentu saja terkejut bukan main, sedangkan Edrea berusaha untuk menutup mulutnya rapat rapat agar tidak mengeluarkan suara apapun.

__ADS_1


"Ba... bagaimana mungkin Kiera dan juga Fano mereka berdua..." ucap Edrea yang masih tidak percaya akan apa yang kini ia dengar.


Edrea yang terkejut lantas langsung memundurkan perlahan langkahnya, hingga tanpa sadar ia malah menginjak ranting kayu yang kering hingga membuat Kiera dan juga Fano langsung menoleh seketika.


***


Tengah malam


Edrea yang baru saja selesai menumpahkan segala kesedihannya lantas dengan perlahan mulai melangkahkan kakinya kembali menuju camp.


Matanya kini bahkan terlihat sembab seperti telah menumpahkan berliter liter air melalui matanya.


Hanya saja ketika Edrea sampai di tempat camp, suasana di sana nampak riuh seakan tengah kebingungan mencari sesuatu.


"Edrea syukurlah kamu kembali..." teriak Kiera yang langsung membuat dirinya menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa yang ada di sana.


Melihat Edrea datang Aldo lantas langsung menghampirinya untuk mengecek kondisi Edrea.


"Apakah kamu pergi bersama dengan Fano?" tanya Aldo sambil menatap ke arah Edrea.


"Tidak, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Edrea dengan tatapan yang bingung.


"Aku tidak tahu bagaimana detailnya, hanya saja aku mendapat laporan bahwa kamu dan Fano menghilang ketika jurit malam." jelas Aldo.


"Apa? Fano menghilang?"


Berdambung

__ADS_1


__ADS_2