Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Bulan purnama penuh


__ADS_3

Barra yang baru saja mendapat informasi dari Max tentang sesuatu hal yang mengejutkan baginya, lantas langsung melangkahkan kakinya dengan terburu-buru menuju ke dunia manusia. Barra bahkan tidak menyangka bahwa sistem menangkap dengan cepat informasi yang akan terjadi sebentar lagi. Sambil terus melangkahkan kakinya Barra terus merutuki kebodohannya karena meninggalkan Edrea begitu saja kemarin. Jika Barra tahu Edrea akan menjadi arwah yang akan di jemput oleh Max tentu saja Barra akan selaku berada di dekat Edrea dan memastikan semuanya baik-baik saja.


Sampai kemudian ketika Barra baru saja tiba di dunia manusia, Barra yang tanpa sengaja melihat bulan purnama penuh di langit malam itu lantas langsung menghentikan langkah kakinya. Barra jelas tahu arti dari bulan purnama penuh itu, membuatnya kian berdecak dengan kesal karena tidak menyadari bahwa saat ini semua itu akan kembali terjadi.


"Mengapa aku tidak menyadarinya?" ucap Barra kemudian sambil memijat pelipisnya dengan pelan.


Barra bahkan belum mempersiapkan segalanya namun semuanya sudah mulai bergerak dengan cepat tanpa bisa Barra cegah kejadiannya. Barra yang tahu pasti dimana keberadaan Edrea saat ini kemudian mulai melesat ke suatu tempat dimana awal dari semuanya terjadi.


"Aku yakin Angkara pasti membawanya ke sana!" ucap Barra kemudian sambil mulai berteleportasi ke suatu tempat untuk mencari keberadaan Edrea.


**


Taman


Di area Taman terlihat Barra yang baru saja sampai berteleportasi ke sana, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah tengah Taman tersebut. Barra melangkahkan kakinya dengan bergegas menghampiri pohon besar tempat semuanya di mulai. Ketika langkah kakinya sampai tepat di hadapan pohon besar tersebut angin di sekitaran tempat itu mendadak berhembus dengan kencang. Sebuah rasa yang tak pernah ada sebelumnya dimana detak jantung Barra yang berdetak dengan kencang, membuat Barra kian merasakan bahwa hari ini adalah tiba waktunya. Hari penentuan apakah ia benar-benar bisa merubah takdir atau hanya menjadi angan-angan semata.


"Apapun yang terjadi aku berharap takdir bisa berubah dan tidak mengulang hal yang sama." ucap Barra sambil menatap ke arah pohon besar tersebut.

__ADS_1


Setelah Barra memantapkan hatinya, perlahan tapi pasti telapak tangan Barra mulai ia gerakkan menyentuh batang dari pohon besar tersebut. Sebuah cahaya kiluan berwarna keputihan lantas terlihat memancarkan cahayanya begitu telapak tangan Barra menyentuh batang pohon tersebut. Perlahan tubuh Barra mulai terlihat diserap oleh kilauan cahaya tersebut hingga pada akhirnya masuk sepenuhnya ke dalam batang pohon tersebut.


**


Di sebuah hutan yang tak asing bagi Bara, terlihat Barra baru saja sampai ke tempat tersebut. Ditatapnya area sekitar dengan tatapan yang sendu ketika Barra mengingat dengan jelas bahwa tempat ini adalah saksi bisu bagaimana ia membunuh Edrea beberapa ratus tahun yang lalu. Barra yang tak ingin larut ke dalam masa lalu yang begitu pahit untuk di kenang, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah batu besar yang Barra yakini bahwa Edrea saat ini tengah menunggunya di sana.


"Aku datang Re... Tunggu aku dan bertahanlah..." ucap Barra sebelum akhirnya melesat menuju ke arah natu besar untuk menghampiri Edrea di sana.


Sambil melesat menuju ke arah batu besar, Barra terus meneguhkan hatinya bahwa ia bisa mengubah segalanya. Hingga ketika ia sampai di batu besar Barra yang tak melihat Edrea berada di sana lantas terlihat menghentikan langkah kakinya dengan tatapan yang bingung.


"Apa kamu tengah mencari ku? Hihihi..." ucap sebuah suara yang Barra yakin itu adalah Edrea.


Barra yang mendengar suara tersebut berasal dari arah belakangnya lantas dengan spontan berbalik badan, namun ketika Barra berbalik tidak ada siapapun di sana membuat Barra langsung berdecak dengan kesal karena ia merasa telah dipermainkan.


"Keluar kau! Bukankah kau menginginkan kedatangan ku?" teriak Barra kemudian yang mulai terlihat kesal akan sosok siluman ular hitam tersebut yang malah mengajaknya untuk main-main.


Tepat setelah Barra mengatakan hal tersebut angin berhembus dengan kencang di sekitaran disertai dengan awan mendung yang begitu gelap, namun sama sekali tidak menyurutkan niatan Barra untuk mengakhiri semuanya saat ini juga. Tak lama setelah angin mulai berhembus dengan kencang sosok Edrea mendadak muncul dari arah kejauhan, membuat Barra lantas tersenyum dengan sinis ketika melihat sosok Edrea yang sudah berubah menjadi setengah ular itu terlihat dari manik mata Edrea yang sudah berubah seperti manik mata ular.

__ADS_1


"Bagaimana Bar? Apa kau sudah siap untuk kembali ke masa lalu? Hahahaha" ucap Edrea dengan tawa yang begitu keras.


Mendengar perkataan dari Edrea barusan lantas membuat Barra tersenyum dengan sinis, jika ditanya siap atau tidak siap Barra sama sekali tidak tahu jawaban apa yang tepat untuk menanggapi pertanyaan tersebut. Walau Barra tahu kenyataan yang mungkin Angkara tidak tahu dimana ternyata Barra adalah putra dari Angkara, sama sekali tidak merubah kenyataan yang ada. Sampai kapan pun ia dan juga Angkara adalah dua hal yang berbeda, meski keduanya memiliki hubungan darah antara anak dan orang tua namun nyatanya sama sekali tidak membuat Angkara sadar akan hal tersebut. Yang ada di dalam hati dan pikiran Angkara hanyalah bagaimana cara melenyapkan putra dari seorang Putri raja yang dulu sempat singgah di hatinya, tanpa Angkara sadari bahwa pemuda yang terus ia inginkan kematiannya adalah putranya sendiri.


"Apapun yang ada di kepala mu itu, sampai kapan pun tidak akan pernah berakhir sesuai dengan keinginan mu!" ucap Barra kemudian dengan nada yang meninggi membuat raut wajah Angkara berubah dengan seketika.


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Angkara langsung murka seketika, Angkara yang tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi lantas langsung melesat mendekat ke arah Barra dan mencengkram leher Barra dengan kuat. Membuat Barra yang tak siap dengan serangan tersebut lantas langsung terbawa mundur oleh cengkraman dari Edrea yang begitu kuat melingkar pada lehernya.


"Jangan hanya berkata-kata saja, buktikan kalau kau mampu!" ucap Edrea dengan tawa yang khas sambil sesekali mendesis layaknya seekor ular.


"Tak perlu kau menunggu... Aku akan segera membuktikannya!" ucap Barra dengan susah payah sambil berusaha mengumpulkan energinya tepat di telapak tangannya untuk membalas serangan dari Angkara barusan.


Barra yang sudah mengumpulkan energinya dengan susah payah pada telapak tangannya, lantas mulai mengarahkannya tepat ke arah ubun-ubun kepala Edra. Membuat sosok Edrea yang terkejut akan serangan tersebut, lantas hanya bisa terdiam tanpa bisa melakukan apapun. Hingga sebuah penglihatan yang tanpa diduga-duga oleh Edrea lantas mendadak memenuhi isi kepalanya.


"Apa-apaan ini!" pekiknya dengan nada yang keras.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2