Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Sebuah hukuman


__ADS_3

"Katanya, Mirna tahu kamu yang mendorongnya dari rooftop dan mempunyai bukti akan tindakan kejahatan mu waktu itu, apa kesalahannya sebenarnya...." ucap Edrea namun terhenti ketika baru saja menyadari ucapannya sendiri barusan.


"Tunggu sebentar! kamu mengatakan dia membunuh mu barusan? apa kau sudah gila ha?" teriak Edrea yang terkejut akan ucapan dari sosok arwah berambut panjang tersebut sambil menatap tajam ke arah sosok hantu berambut panjang itu.


Maafkan aku, jika aku mengatakannya padamu... kamu pasti tidak akan mau membantu ku, jadi aku terpaksa berbohong padamu...


Ucap sosok hantu tersebut sambil bergerak sedikit mundur ke belakang karena takut Edrea akan mengamuk.


"Tapi gak gini juga Mir! kau itu benar benar..." teriak Edrea dengan kesal namun terpotong karena pria tersebut tiba tiba mengeluarkan suaranya.


"Ah... jadi kau punya bukti kejadian waktu itu juga ya?" ucap pria tersebut sambil tersenyum menyeringai menatap ke arah Edrea, membuat Edrea yang mencium bau bau tidak enak lantas perlahan lahan mulai melangkahkan kakinya mundur.


Suami Mirna yang mulai melihat wajah ketakutan Edrea, perlahan lahan terlihat melangkahkan kakinya maju menghampiri Edrea yang hendak berusaha kabur darinya.


"Aku kira ucapan mu tadinya hanyalah sebuah lelucon semata, siapa yang menduga jika ternyata kau benar benar bisa melihatnya. Aku sedikit terkejut ketika mendengar ucapan mu yang mengatakan Mirna tahu segalanya termasuk memiliki bukti untuk kejahatan ku juga. Dan well jika istri ku saja tiada ketika ia memiliki bukti dari kejahatannya, aku rasa kau tahu bukan bagaimana akhir kisah hidupmu?" ucap pria tersebut sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea berada.


"Apa yang akan kau lakukan? jangan macam macam dengan ku!" pekik Edrea sambil menatap ke arah sekeliling mencari keberadaan sosok hantu Mirna namun sayangnya Edrea tidak menemukannya di manapun.


"Ah sial, kemana perginya hantu itu? jika di saat terdesak bolehkah aku menggunakan kekuatan ku?" ucap Edrea dalam hati bertanya tanya.


Edrea benar benar sudah tersudut sekarang, langkah kakinya tidak lagi bisa mundur karena langkahnya sudah mentok pada pembatas Rooftop.


"Sudahlah menyerah saja kau tidak akan bisa lolos dari ku..." ucap pria tersebut sambil terus berusaha mendekat ke arah Edrea.

__ADS_1


Edrea yang melihat laki laki itu kian dekat, lantas langsung membuka sandal miliknya dan melempar ke arah pria tersebut, membuat tawa kegirangan kian terdengar menggelegar yang berasal dari pria itu.


"Posisi mu bahkan kini sudah tersudut, menyerah lah saja dan akhiri secara baik baik." ucap pria tersebut lagi.


"Sialan, jika Max memperbolehkan menggunakan kekuatan di depan manusia aku pasti sudah berteleportasi sedari tadi atau bahkan sudah melenyapkan pria bajingan di hadapan ku ini, sayangnya aku tidak bisa melanggar peraturan yang sudah berlangsung lama dan di khususkan bagi semua petugas Stasiun Pemberhentian." ucap Edrea dalam hati dengan perasaan yang gelisah dan bingung harus berbuat apa.


Hingga ketika ia sedang lengah dan tidak lagi memperhatikan, pria tersebut lantas langsung mencengkram bahu Edrea dengan kuat hingga membuatnya terkejut bukan main karena gerakan yang tiba tiba tersebut.


"Apa apaan kau? lepaskan.." teriak Edrea yang lantas di balas senyuman layaknya orang gila oleh pria tersebut.


"Aku membenci seorang saksi kunci, jadi kau harus mati agar bukti kejahatan ku hilang dan tidak ada yang mengetahuinya." ucap pria tersebut sambil mendorong tubuh Edrea dari Rooftop gedung kantornya.


Tubuh Edrea dengan cepat langsung jatuh ke bawah karena dorongan dari pria tersebut.


"Enggak aku gak mau mati sia sia, fokus Rea... fokus... bayangkan suatu tempat dan mulai berpindah..." ucap Edrea dalam hati sambil terus menjentikkan jarinya hendak berteleportasi, namun terus saja gagal dan sama sekali tidak berpindah malah terus terjun bebas ke bawah.


Pada akhirnya Edrea hanya bisa pasrah dan terus terjun ke bawah sambil mulai meratapi satu persatu penyesalan yang telah ia lakukan selama ini. Di tengah perasaan pasrah hendak menjemput ajalnya, Edrea yang semula merasakan terjun bebas perlahan lahan tubuhnya seperti di tangkap seseorang dan mulai melayang dengan stabil.


Edrea membuka matanya perlahan untuk mengecek apa yang sedang terjadi, disaat kelopak matanya terbuka dengan sempurna ia melihat sosok Barra tengah mendekapnya dengan raut wajah yang datar dan dingin menatap tajam ke arah Rooftop, membuat Edrea lantas terbengong seketika.


"Apakah aku sudah mati?" tanya Edrea tiba tiba dengan nada yang lirih, membuat Barra lantas langsung menoleh ke arah bawah untuk melihat keadaan Edrea.


"Menurut mu?" tanya Barra dengan nada yang santai.

__ADS_1


Edrea yang mendengar hal tersebut lantas langsung berteriak dengan kencang, membuat Barra yang berada tepat di dekatnya menjadi terkejut dan melepaskan gendongannya begitu saja, hingga tubuh Edrea langsung jatuh dan menggelinding di tanah.


"Aw... sakit!" pekik Edrea sambil mengusap pantatnya yang terasa nyeri karena terbentur tanah barusan.


"Siapa suruh kau tiba tiba berteriak seperti itu." ucap Barra lagi membuat Edrea langsung melotot ke arahnya.


"Tapi tunggu, jika aku merasakan sakit... itu artinya aku masih hidup, aaaaaa aku tidak jadi mati syukurlah." ucap Edrea dengan nada yang kegirangan sambil bangkit berdiri.


"Kau itu bodoh atau dungu sih? mengapa tidak gunakan kekuatan mu untuk melawannya? untung saja aku datang kalau tidak bagaimana?" ucap Barra kemudian dengan nada yang kesal menatap tajam ke arah Edrea.


"Bu... bukan begitu, kata Max kekuatan penghuni Stasiun tidak boleh terlihat di dunia ataupun di gunakan di depan manusia, jika itu sampai terjadi maka aku akan di kenakan pelanggaran." ucap Edrea dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Barra.


Barra yang mendengar ucapan Edrea hanya bisa menghela nafasnya panjang karena apa yang di katakan Edrea memanglah peraturan yang berlaku untuk petugas maupun penghuni Stasiun Pemberhentian.


"Jika terdesak hal itu boleh di lakukan, jangan seperti orang bodoh dan hanya pasrah pada nasib. Lagi pula kau hanya di hukum di sana, apakah kau lebih memilih mati daripada menjalani sebuah hukuman?" ucap Barra lagi dengan nada yang kesal.


"Baiklah aku salah aku minta maaf." ucap Edrea dengan nada yang lirih sambil menundukkan kepalanya, membuat Barra lantas langsung menghela nafasnya dengan panjang.


"Sudahlah lupakan saja, ayo kita pergi dari sini." ajak Barra kemudian.


"Pergi? enak aja.. dia bahkan belum mendapat hukuman atas perbuatannya tapi kamu malah menyuruh ku untuk pergi, tentu saja jawabannya tidak." ucap Edrea protes.


"Lalu kau mau apa?" tanya Barra.

__ADS_1


"Sebuah hukuman" ucap Edrea dengan senyum yang menyeringai.


Bersambung


__ADS_2