Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Kesalahan yang fatal


__ADS_3

Edrea berteleportasi dari Rumah Sakit ke sebuah tempat seperti lapangan yang pernah ia lihat ketika Edrea pingsan tadi di Rumah Sakit, Edrea menghela nafasnya panjang ketika melihat hamparan lapangan yang begitu luas tersaji sejauh mata memandang. Edrea kemudian menatap ke arah sekeliling menyusuri setiap area lapangan mencari keberadaan Sari di lapangan tersebut dan pandangannya terhenti pada sebuah tulisan garis finis di mana Sari nampak terlihat berjongkok di sana sambil menatap ke arah garis finis dengan tatapan yang sendu.


Edrea melangkahkan kakinya mendekat ke arah Sari kemudian ikut berjongkok di sebelah gadis itu dan menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, membuat Sari yang menyadari kehadiran Edrea lantas menoleh ke arahnya kemudian tersenyum. Melihat senyuman itu ada perasaan aneh yang menyelimuti hati Edrea karena perubahan sikap yang di tunjukkan oleh roh Sari.


Edrea benar benar yakin bahwa sebelum roh Sari menghilang kilatan amarah tergambar dengan jelas pada manik mata roh Sari, hal itu jugalah yang membuat Edrea sangat merasa bersalah karena mengatakan segala sesuatunya dengan mudah padahal jika Edrea sendiri yang mengalaminya belum tentu juga Edrea bisa menanggung beban berat itu.


Terima kasih banyak


Ucap Sari dengan tersenyum merekah, membuat Edrea semakin bingung akan ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh roh Sari kepada Edrea benar benar berbeda 90 derajat dari semula.


Edrea menatap manik mata Sari yang terlihat sumringah dengan tatapan yang tidak mengerti akan apa yang tengah terjadi, hingga wujud roh Sari yang mendadak menjadi samar samar membuat Edrea terkejut bukan main.


Aku adalah seorang yatim piatu yang sedari kecil tinggal di yayasan, aku tidak pernah tahu siapa orang tua ku karena mereka membuang ku ketika kecil. Menjadi atlit lari adalah sebuah impian ku sejak kecil, minggu depan adalah event besar bagi para atlit lari, ada hadiah besar yang menanti bagi siapa saja peraih mendali emas. Hanya saja sebuah kecelakaan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya merenggut kedua kaki ku, aku tahu.. kamu tidak di ijinkan untuk menggunakan kekuatan karena membuat ku sulit untuk masuk kembali ke tubuh ku dan ini adalah pilihan ku... aku sengaja memberimu rasa yang ada di hati ku, kemudian memancing mu ke sini agar kau menggunakan sebagian kecil kekuatan mu... jangan menyalahkan dirimu karena ini adalah keputusan ku.


Terima kasih banyak....


Edrea yang mendengar ucapan dari sosok tersebut tentu saja terkejut bukan main, Edrea tidak menyangka bahwa semua ini adalah rencana Sari agar ia tidak bisa kembali ke tubuhnya. Edrea terdiam mematung tak bisa berkata kata sambil menatap lurus ke dapan pada wajah Sari yang terlihat begitu bahagia saat ini.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti bayangan Sari mulai terlihat muncul dan menghilang selama beberapa kali, hingga pada akhirnya bayangan roh Sari benar benar menghilang dan meninggalkan Edrea seorang diri dengan perasaan yang tidak bisa tergambarkan.


Edrea yang melihat kepergian roh Sari, lantas langsung bangkit dari posisinya dan menatap ke arah sekeliling mencoba mencari keberadaan roh Sari, tapi sayangnya Edrea tidak menemukannya di manapun.


Edrea mengusap rambutnya dengan kasar ketika perasaan khawatir dan juga takut menghampiri dirinya, jika kali ini Edrea gagal pasti akan sangat menghancurkan hatinya. Edrea tidak pernah gagal dalam misinya meski ia selalu menimbulkan masalah, namun Edrea selalu berhasil menyelesaikannya dengan damai dan mengantarkan mereka pergi menuju atas dengan tenang dan tanpa penyesalan. Jika saat ini Edrea gagal, tentu saja akan sangat mempengaruhinya mengingat Edrea selalu mempunyai rasa empati yang terlalu tinggi hingga membuatnya selalu saja menimbulkan masalah jika melakukan suatu misi yang di berikan oleh Barra padanya.


Edrea menggigit bibir bawahnya sambil memutar otaknya, hingga satu tempat yaitu Rumah Sakit lantas langsung terlintas di benaknya ketika ia sedang mencari keberadaan sosok Sari yang mendadak menghilang di hadapannya setelah mengucapkan kata terima kasih padanya yang seakan akan menjadi kata terakhir sebelum pada akhirnya ia pergi meninggalkan dunia ini.


***


Rumah Sakit


"Sebentar lagi Edrea akan tiba di Rumah Sakit, cegah dan jangan biarkan dia masuk, jika perlu bawa dia ke sebuah tempat yang jauh dari sini agar dia tidak melihat proses pejemputan arwah Sari." ucap Barra kemudian memberikan perintah kepada Max.


Max yang mendengar perintah Barra awalnya tertegun sekaligus bertanya tanya akan maksud dari perintah tersebut, namun detik selanjutnya Max langsung menganggukkan kepalanya kepada Barra, menandakan bahwa ia mengerti akan perintah tersebut walau dalam benaknya berbagai pertanyaan terlintas tanpa sebuah jawaban yang jelas.


"Baik tuan" jawab Max kemudian.

__ADS_1


Setelah memberikan perintah tersebut, Barra kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang perawatan tersebut menyusul Mira yang lebih dulu masuk ke dalam.


**


Ketika Barra dan juga Mira sampai di dalam, mereka berdua melihat dokter dan juga beberapa perawat terlihat sedang melakukan tindakan berusaha menyelamatkan nyawa Sari, sedangkan arwah Sari terlihat sedang menatap dengan tatapan yang sendu ke arah jasadnya yang kini sudah tidak lagi bernyawa.


"Evita Sari Anggraeni, meninggal pada pukul 08.00, waktu mu di dunia sudah berakhir... kamu sudah melakukan yang terbaik selama masa hidup mu kini saatnya kamu ikut dengan kami dan menuju ke alam yang lebih baik lagi." ucap Mira ketika ia berhenti tepat di hadapan sosok arwah Mira yang tengah menatapi jasadnya dengan manik mata yang berkaca kaca.


Apakah aku di sana akan tetap mendapatkan kedua kaki ku?


Tanya Sari dengan wajah yang polos menatap ke arah Mira dan juga Barra secara bergantian dengan tatapan yang memohon kepada keduanya.


Mira yang mendengar ucapan dari arwah Sari, lantas langsung mengangguk dengan perlahan kemudian tersenyum, membuat sosok arwah tersebut lantas tersenyum dengan lega seakan merasa bahwa pilihannya adalah sebuah keputusan yang benar.


***


Sementara itu di luar Rumah Sakit, Edrea yang baru saja sampai setelah berteleportasi di sana, lantas sedikit terkejut dengan kehadiran Wili dan juga Max yang berdiri tepat di depan pintu masuk ruang perawatan Sari, membuat Edrea yang melihat kedua orang tersebut lantas langsung mempercepat langkah kakinya hendak masuk dan memastikan sendiri walau sebenarnya Edrea sudah tahu dengan pasti apa yang telah terjadi pada arwah Sari saat ini.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan di sini?" ucap Edrea kemudian.


Bersambung


__ADS_2