
Kau itu tidak mengerti apa apa, jadi jangan sok sok'an menceramahi ku, selagi aku masih berpikir dengan waras saat ini!
Ucap sosok tersebut dengan kilatan amarah pada manik mata miliknya, membuat Edrea langsung terkejut seketika di saat mendengar kata kata itu keluar dari mulutnya.
"Apa yang kamu katakan? bukankah kamu harusnya bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk hidup? mengapa kamu malah seperti ini?" ucap Edrea dengan nada yang tertahan dan masih berusaha untuk menahan dirinya agar tidak terpancing emosi.
Berkata memang mudah, apakah kau tidak tahu bahwa kaki ku ini adalah hal yang sangat penting, bagaimana aku bisa berlari dan mewujudkan impian ku jika kedua kaki ku menghilang?
"Masih ada cara lain untuk mewujudkannya dan aku yakin kamu bisa melakukannya." ucap Edrea lagi berusaha untuk membujuk sosok gadis itu.
Mendengar ucapan Edrea barusan, sosok gadis itu lantas menatap yajam ke arah Edrea kemudian langsung melayang dan menembus tubuh Edrea dengan tiba tiba, membuat Edrea yang tidak menduga sosok gadis itu akan melakukan hal tersebut kepadanya, lantas langsung terjatuh dan pingsan di tempat.
**
Edrea mengerjapkan matanya berulang kali saat sinar mentari menyilaukan matanya, Edrea mencoba menatap ke arah sekeliling dan menyadari bahwa dirinya kini tengah berada di sebuah lapangan yang terhampar luas, membuat Edrea bingung akan pemandangan yang terhampar di hadapannya.
Edrea yang masih bingung akan kehadirannya yang tiba tiba di lapangan, lantas langsung teralihkan ketika melihat beberapa siswi perempuan tengah berlarian di pinggir lapangan seakan seperti tengah lomba lari.
"Bukankah dia gadis itu?" ucap Edrea ketika melihat salah satu pelari yang ternyata adalah sosok gadis itu.
Edrea yang mulai penasaran, lantas terlihat mendekatkan dirinya ke arah beberapa kumpulan siswa dan juga guru yang sedang sibuk melakukan tugas mereka masing masing.
__ADS_1
"Sari kemari" ucap seorang guru memanggil sosok gadis itu yang ternyata bernama Sari.
Sari yang merasa namanya di panggil, lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah guru tersebut dengan raut wajah yang penasaran.
"Skor performa mu turun, jika seperti ini terus mungkin posisi mu akan di gantikan dengan yang lainnya, perbaiki performa mu dengan lebih baik lagi dan lusa aku akan kembali melihat kesiapan mu." ucap guru tersebut yang berhasil membuat raut wajah Sari berubah seketika. "Hari ini cukup sampai di sini, pebaiki performa kalian dan jaga kesehatan." ucap guru itu lagi kemudian berlalu pergi meninggalkan lapangan.
Beberapa siswi nampak mulai meninggalkan lapangan dan hanya menyisakan Sari seorang diri di sana. Di tatapnya sepatu yang ia kenakan dengan tatapan yang sendu karena terdapat lubang tepat di area jempol kakinya. Sari mengambil posisi jongkok dan melihat lubang pada sepatunya kemudian tersenyum.
"Bertahanlah sebentar lagi, karena perjuangan kita masih harus terus berlanjut." ucap Sari dengan tersenyum kemudian mengambil ancang ancang dan mulai berlari kembali memutari lapangan.
Edrea yang melihat kegigihan Sari lantas tertegun seketika, Edrea benar benar tidak menyangka bahwa Sari adalah atlet lari di sekolahnya, membuat Edrea kembali teringat akan kedua kaki Sari yang sudah hilang untuk selamanya. Sari berlari dan terus berlari, Sari benar benar membuktikan kegigihannya dan terus berlatih tanpa henti.
Hampir seharian Edrea melihat Sari memutari lapangan tanpa henti dan tanpa istirahat, hingga menjelang malam tiba, Sari yang mulai kelelahan lantas langsung merebahkan tubuhnya di tanah dan mengambil nafas sebanyak banyaknya.
Edrea benar benar menyesal telah mengatakan hal yang menyakitkan kepada Sari di Rumah Sakit tadi walau mungkin tujuan Edrea baik namun itu pasti menyakiti hati Sari.
***
Ruangan Barra
Mira yang terlihat melangkahkan kakinya ke arah ruangan Barra, lantas langsung membuka pintu ruangan Barra dengan spontan namun lantas terkejut ketika melihat tatapan tajam dari Barra yang seakan tidak suka dengan cara Mira yang membuka pintu ruangannya tanpa permisi. Mira yang melihat tatapan tajam dari Barra, lantas kembali menutup pintu ruangan Barra dan menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian mengetuk pintu ruangan tersebut secara perlahan.
__ADS_1
Tok tok tok
"Masuk" ucap Barra dari dalam mempersilahkan Mira untuk masuk.
Mendengar kata kata tersebut, Mira kemkudian membuka pintu ruangan Barra dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra dengan raut wajah yang khawatir.
"Ada apa?" tanya Barra kemudian sambil meletakkan berkas yang ia pegang ke atas meja kerjanya.
"Apa maksud mu memberikan tugas itu kepada Edrea? baiklah jika itu memang tugasnya sebagai pelayan mu, tapi setidaknya berikan dia pengawalan atau bantuan, jangan tiba tiba melepaskannya seperti ini? kau terlalu kejam padanya Bar!" ucap Mira secara langsung.
Sedangkan Barra yang mendengar aksi protes dari Mira tentu saja terkejut bukan main dan langsung menatap Mira dengan tatapan yang bingung seakan memastikan bahwa Barra barusan tidak salah dengar.
"Apakah ada yang salah dengan mu? biasanya kau juga memberikannya tugas berat agar kau bisa segera menendangnya keluar jika sampai Edrea gagal menjalankan misinya, lalu mengapa tiba tiba kau berubah?" ucap Barra dengan tatapan yang bingung sekaligus bertanya tanya akan perubahan sikap Mira kepada Edrea.
Mira yang mendengar ucapan Barra barusan langsung mati kutu, tidak mungkin bukan? Mira mengatakan bahwa dirinya dan juga Edrea adalah kakak beradik di masa lalu, bisa di buli habis habisan Mira oleh Barra jika sampai Barra mengetahuinya.
"Aku hanya khawatir saja padanya, apakah itu salah? toh ini wajar bukan? lagi pula tugas mengantar roh kembali ke tubuhnya baru pertama kali Edrea lakukan, bagaimana kalau sampai gagal atau terjadi sesuatu pada Edrea ketika melakukan tugasnya?" ucap Mira dengan beruntun membuat Barra lantas tercengang ketika mendengar kata kata barusan keluar dari mulut Mira baru saja.
Mendengar ucapan Mira semakin melantur, membuat Barra bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mira, membuat Mira jadi salah tingkah ketika melihat langkah kaki Barra yang mendekat ke arahnya dan mulai melangkahkan kakinya mundur ke belakang seakan hendak menghindari Barra yang menatapnya dengan tatapan yang aneh saat ini.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi karena aku yakin perubahan sikap mu ini bukanlah tanpa sebuah alasan!" ucap Barra kemudian yang lantas membuat Mira langsung menelan salivanya dengan kasar.
__ADS_1
"Aku..."
Bersambung