Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Kehilangan kontak


__ADS_3

Sementara itu di sebuah kamar tepatnya di rumah Putri.


"Siapa di sana?" teriak pria yang kini tengah berada di atas ranjang bersama dengan Putri.


"Ah sial!" ucap Edrea dengan nada yang kesal karena mulutnya tiba tiba lepas kendali begitu saja.


Edrea yang mulai melihat situasi tidak kondusif lantas langsung menarik tangan Ardi dan memusatkan pikirannya untuk berpindah dari sana. Pria tersebut yang khawatir akan ada orang yang masuk ke dalam kamar, lantas bangkit untuk menyalakan lampu di ruangan kamar itu, tepat setelah lampu menyala Edrea dan juga arwah Ardi sudah berhasil berteleportasi ke tengah hutan kembali ke posisi awal mereka.


"Tidak ada siapapun di sini, bukankah tadi kau juga mendengarnya sayang?" ucap pria tersebut.


"Sudahlah, mungkin kita hanya salah dengar tadi... sebaiknya kita lanjutkan saja olahraga panas kita hem..." ucap Putri dengan nada yang manja sambil menarik pria tersebut ke arahnya untuk kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda.


**


Sementara itu Edrea yang berhasil berteleportasi dengan Ardi, lantas langsung menghempaskan tangan Ardi begitu saja ke udara ketika keduanya kembali ke tempat semula.


"Apa kau sudah gila ha? jika kau bertindak gegabah resikonya terlalu tinggi Ar? tidakkah kau berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak?" teriak Edrea yang kesal akan kelakuan Ardi yang tiba tiba berubah seperti itu.


"Persetan dengan resiko aku tidak perduli akan hal itu! kau tahu apa tentang hati ku ha? tidakkah kau berpikir rasanya di khianati seseorang? bukankah kau juga mendengar bagaimana Putri mend**ah bukan? sekarang ku tanya padamu... apa yang akan kau lakukan jika itu terjadi padamu?" ucap arwah Ardi dengan nada yang setengah berteriak.


Edrea yang mendengar hal itu bukannya menjawab malah terdiam, Edrea bukan terdiam karena terpikirkan akan ucapan dari Ardi barusan, melainkan sosok arwah Ardi yang seperti memunculkan percikan cahaya merah kehitaman yang membuat Edrea lantas terdiam sambil fokus menatap kilauan aura dari sosok arwah Ardi.


"Cih, kau bahkan tidak bisa menjawabnya bukan? dasar munafik..." ucap Ardi dengan nada yang ketus tepat ke arah Edrea.


"Tenangkan dirimu, bukankah kita datang ke sini hanya untuk berpamitan dengan keluargamu? jika aku tahu akan terjadi seperti ini aku tidak akan membantu mu!" ucap Edrea yang tidak terima Ardi terus menyudutkannya.


Ardi yang mendengar ucapan dari Edrea barusan lantas berbalik badan dan terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, membuat Edrea yang kesal lantas mulai menghembuskan nafasnya secara kasar mencoba untuk menetralkan emosinya agar tidak terpancing dan terseret dalam emosi Ardi.

__ADS_1


Edrea yang sudah mulai bisa menenangkan dirinya, lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ardi hendak membujuk arwah itu.


"Bukankah harusnya kau senang karena kau mengetahui kebusukan Putri sebelum kau menjadi suaminya?" ucap Edrea sambil berusaha memegang lengan Ardi. "Aw..." pekik Edrea ketika merasakan hawa panas di area tangannya ketika menyentuh lengan Ardi barusan.


"Berbicara dengan orang yang tidak pernah mengalami rasanya di khianati tentu akan berakhir percuma..." ucap arwah Ardi dengan lirih sebelum akhirnya menghilang dan menyisakan hawa panas di area sekitaran tangannya.


"Ah... sial! apa yang harus aku lakukan?" ucap Edrea dengan nada yang terdengar frustasi menggema terbawa angin di kala itu.


***


Ruangan Barra


Barra yang kini terlihat tengah memejamkan matanya sebentar untuk memulihkan keadaannya, lantas dikagetkan akan ketukan pintu yang terdengar dari arah luar ruangannya.


"Masuk" ucap Barra sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut saat ini.


"Tuan kelompok dark mendeteksi adanya arwah pendendam di daerah tak jauh dari kecelakaan beruntun yang terjadi tadi siang, Mira meminta ijin untuk melakukan penyergapan terhadap arwah tersebut dan membawanya ke mari." ucap Max melaporkan permintaan ijin dari Mira.


"Arwah pendendam? bukankah tempat itu terakhir kalinya aku berpisah dengan gadis itu? ah jangan bilang dia membuat masalah baru lagi..." ucap Barra dengan memutar bola matanya jengah ketika menebak apa yang tengah terjadi saat ini.


"Maaf bagaimana tuan?" tanya Max ketika ia mendengar dengan jelas gerutuan Barra namun tak berani menduga duganya sebelum Barra mengatakannya secara langsung.


"Berikan saja ijin pada Mira untuk bergerak, biarkan gadis itu belajar bagaimana mengendalikan arwah pendendam." ucap Barra kemudian sambil menghela nafasnya panjang.


"Apa anda yakin tuan?" tanya Max mencoba memastikan kembali perintah dari Barra barusan.


"Sudah lakukan saja perintah ku." ucap Barra dengan nada yang dingin.

__ADS_1


"Baik tuan, saya permisi." ucap Max kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan Barra tanpa bertanya kembali walau sebenarnya Max sungguh penasaran akan apa yang telah terjadi, namun Max sama sekali tidak berani bertanya kepada Barra.


"Sepertinya aku salah memilihnya sebagai pelayan, bukan membuat pekerjaan ku cepat selesai malah menambah runyam pekerjaan ku..." ucap Barra setelah kepergian Max dari sana.


***


Hutan di kawasan Jawa Barat


Edrea yang kehilangan kontak dengan arwah Ardi, lantas mulai bergerak menyusuri sekitaran untuk mencari keberadaan arwah tersebut. Edrea yang sudah hampir mengelilingi lokasi tersebut lantas di buat frustasi karena tidak kunjung menemukan keberadaan arwah Ardi di manapun.


"Aku harus kemana lagi untuk mencarinya?" ucap Edrea sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena bingung harus mencari kemana lagi arwah Ardi.


"Tunggu sebentar... bukankah aku masih mempunyai kekuatan dari Barra? untuk apa aku susah susah mencari ke sana ke mari dengan cara yang manual sementara aku bisa dengan cara yang instan, dasar bodoh kau!" pekik Edrea ketika ia baru mengingatnya, mungkin karena efek panik akan arwah Ardi yang tiba tiba menghilang membuat Edrea sampai melupakan bahwa sebagian kekuatan Barra masih ada dalam dirinya.


Edrea menghembuskan nafasnya perlahan dan mulai berusaha memusatkan pikirannya. Hingga ketika dirinya sudah benar benar fokus barulah Edrea mencoba membatin lokasi Ardi dan memulai teleportasinya.


**


Tidak beberapa lama tubuh Edrea berteleportasi ke sebuah gang perumahan di mana tak jauh dari tempatnya berada Edrea melihat arwah Ardi tengah memperhatikan gerak gerik seseorang dari tempatnya. Hanya saja ada sedikit keanehan yang membuat Edrea bertanya tanya, di mana sekitaran tubuh arwah Ardi terpancar cahaya hitam pekat yang hampir menutupi dirinya.


"Bukankah itu pria yang berselingkuh dengan Putri tadi? untuk apa Ardi menatapnya seperti itu? jangan bilang Ardi akan berbuat nekat?" ucap Edrea bertanya tanya tentang kemungkinan yang akan terjadi. "Lalu cahaya apa itu?" imbuh Edrea ketika melihat pancaran cahaya hitam pekat di sekitaran Ardi.


Edrea yang sadar keadaan sudah mulai tidak enak, lantas langsung bergerak hendak mendekat ke arah Ardi namun langsung di tahan oleh Wili yang menghadang tepat di depannya.


"Untuk kedepannya arwah Ardi Laksmana akan menjadi urusan kami, dia sudah tidak lagi berada dalam kode Biru dan aku harap kamu tidak perlu ikut campur akan urusan ini." ucap Wili dengan nada yang datar.


"Apa? bagaimana bisa?" ucap Edrea yang terkejut akan informasi yang ia dapat barusan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2