
Yuda terkejut dengan jawaban dari Windi yang lebih memilihnya. Selama ini Yuda mengira Windi hanyalah anak yang manja dan masih ketergantungan dengan orang tua, tapi ternyata dirinya salah menilai Windi, Windi tidak seperti perempuan perempuaan diluar sana yang manja dan masih ketergantungan orang tua.
Windi tak kuasa menahan tangisnya saat ayahnya dengan tegas mengusirnya. Yuda yang mengetahui kesedihan Windi langsung memegang erat tangan Windi lalu menatap Pak Sugeng dengan tatapan sinis dan membalas lontaran Pak Sugeng kepada Windi
"Kalau itu keinginan om, saya dengan ini memutuskan di hadapan om dan tante akan melamar Windi. om dan tante tidak perlu khawatir, saya yang akan bertanggung jawab atas kebahagiaan Windi" ucap Yuda
Yuda mengambil kotak cincin dari sakunya lalu membuka kotak cincin itu dilihatnya ternyata sebuah berlian. Yuda memegang tangan Windi dengan kedua tanganya lalu bertanya pada Windi.
"Windi, apakah kamu menerima lamaranku? aku ingin kamu menjadi istriku dan pendamping hidupku" tanya Yuda
"Iya yud, aku bersedia" jawab Windi menangis
"terima kasih, aku akan menikahimu dalam waktu tiga bulan lagi, sementara kamu akan tinggal di rumah kontrakanku yang ada di surabaya" ucap Yuda
Windi terdiam antara apakah dia harus senang Yuda melamarnya atau dirinya sedih akan meninggalkan orang tuanya. Yuda yang melihat Windi masih menangis mencoba menenangkanya
"Windi, kamu jangan takut, sekarang kita pergi dari rumah ini, ambil pakaian dan dokumen pentingmu disini, serta tinggalkan fasilitas fasilitas pemberian ayahmu, cukup ktp dan kartu mahasiswa saja yang ada dompetmu. aku berjanji akan menanggung seluruh kebutuhan hidupmu, kamu adalah tanggung jawabku serkarang" ucap Yuda
"iya yud terima kasih, aku akan mengemasi barangku dulu di kamar" jawab Windi menuju kamar
Saat Windi berjalan menuju kamar, Pak Sugeng merasa geram meninggalkan Yuda dan Bu Indah yang masih diruang tamu. Sementara Bu Indah berjalan menghampiri Yuda dan tiba tiba memegang tangan Yuda lalu mengatakan sesuatu
"Yuda, mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua, maafkan mama, mama tidak bisa berbuat apa apa, tapi kamu berjanjilah sama mama kalau kamu beneran serius ingin menjadi suami anak saya" ucap Bu Indah menangis
"iya tante..." jawab Yuda terpotong
__ADS_1
"jangan panggil saya tante, panggil saya mama" potong Bu Indah
"iya tan eh ma....insyallah Yuda akan membahagiakan Windi, mama tidak perlu khawatir" jawab Yuda
"Yuda, sampai kapanpun mama adalah ibu mertua kamu dan ibu dari istrimu, kalau kalian butuh apa apa hubungi mama ya? jangan lupa selalu mengabari mama ya?" saut Bu Indah menangis
"mama, percayalah Yuda mencintai Windi, walaupun Windi benci sama ayah dan mama, tapi yuda tidak pernah membenci kalian, yuda tahu semua ini hanya karena kondisi dan keadaan, perlahan ayah akan menerimaku sebagai menantunya" jawab Yuda
"iya mama percaya" saut Bu Indah
Beberapa menit kemudian, Windi kembali dari kamarnya kembali ke ruang tamu. tanpa menatap ibunya, Windi langsung mengajak Yuda keluar dari rumah
"yud, kita tidak dibutuhkan disini, ayo kita pergi sekarang" ucap Windi
"apa tidak pamitan dulu sama ayah dan mama?" tanya Yuda sembari melirik Bu Indah yang menangis
"sayang, kamu baik baik ya disana, selalu nurut dan patuh sama calon suamimu, mama percaya Yuda orangnya baik, sebelun kamu pergi, mama punya satu permintaan saja untukmu apa boleh mama mengatakanya?" ucap Bu Indah
"katakan saja waktu kami tidak banyak" jawab Windi datar
"mama hanya ingin kamu jangan benci ayah sama mama, sampai kapanpun kamu adalah anak mama, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian" ucap Bu Indah
"aku akan memikirkanya, tapi kalian jangan terlalu berharap, yuda sekarang ayo kita berangkat' jawab Windi
"ma, kami pamit, assalamualaikum" pamit Yuda
__ADS_1
"waalaikumsalam" jawab Bu Indah menagis
Saat Yuda dan Windi hendak meninggalkan rumah. Windi berhenti sejenak dari langkahnya membuat Yuda terkejut.
"ada apa win?" tanya Yuda
"aku lupa mumpung belum jauh dan masih ada mama juga, ayah sudah bilang akan mencoret namaku dari keluarga ini, jadi mulai sekarang kita jangan panggil mereka mama dan ayah lagi" jawab Windi dengan tatapan lurus
"hmm.." saut Yuda
Ucapan Windi membuat Bu Indah hatinya tersayat hingga tak kuasa menahan butiran air mata menetes membasahi pipinya. Bu Indah sungguh tak berdaya, hanya karena tawaran dua pilihan konyol dari suaminya yang bersihkeras menjodohkan Windi berujung perpecahan di keluarganya.
Yuda yang melihat Bu Indah menangis mengangguk dan mengedipkan matanya kearah Bu Indah isyarat agar Bu Indah memahami kondisi putrinya saat ini.
Yuda dan Windi akhirnya pergi meninggalkan rumah menaiki taksi menuju bandara untuk tujuan pergi ke surabaya.
-----------
@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga
***Oh iya mau kasih info, mampir juga ke karya baru author ya, judulnya...
__ADS_1
"Menikah Dengan Preman***"