Kesabaran Cinta Pak Ustadz

Kesabaran Cinta Pak Ustadz
248. MEMILIH PERGI


__ADS_3

1 minggu kemudian


Hari ini adalah hari sabtu, Setiap hari sabtu Umar, Sarah, dan Namira, selalu melakukan tradisi jalan jalam di malam minggu. Atau terkadang jika tidak sempat jalan jalan, sekedar berkumpul, bergurau, dan makan bersama hingga tidur bertiga menjadi rutinitas di malam minggu.


Namun, semua hal hal indah itu seketika lenyap bak ditelan bumi. Sudah beberapa minggu ini semenjak kelahiran Burhan, tradisi malam minggu yang diisi kebersamaan keluarga telah hilang. Bahkan saat makan malam, Umar dan Sarah tidak menyinggung suatu tradisi yang hilang. Namira hanya menatap mereka dan menjadi pendegar saat Umar dan Sarah ingin berencana membeli perlengkapan Burhan.


"Mas, besok mumpung libur bagaimana kalau kita pergi ke mall? aku ingin membeli perlengkapanya Burhan," ucap Sarah


"Iya besok kita akan ke mall, kita akan membeli perlengkapan Burhan yang masih kurang," jawab Umar


"Iya Mas, jam berapa enaknya besok ke mall?" tanya Sarah


"Sore aja gimana?" tawar Umar


"Iya Mas, aku setuju. lagian kasihan Burhan kalau siang nanti kepanasan," keluh Sarah


"Hmm...baiklah," jawab Umar


Namira menangkap kata kita di obrolan Sarah dan Umar berarti dirinya tidak diajak. Soalnya terlihat baik Umar atau Sarah tak menatap dirinya saat berbicara. Namira ingin marah, menangis dan berteriak tapi dirinya merasa tidak berhak melakukan itu. Namira saat itu menghentikan makan malamnya lalu izin ke kamar.


"Ibu, ayah, aku sudah kenyang, aku mau pergi ke kamar," ucap Namira


"Tapi makanan kamu belum habis Namira," jawab Umar


"Aku sudah kenyang, tadi ambil nasi kebanyakan. aku ke kamar dulu ayah, ibu," ucap Namira


"Iya sayang," jawab Sarah dan Umar


Namira berlari ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya diranjangnya. Didalam kamar, Namira hanya bisa merenung. Namira merasa tidak betah bertahan dengan kondisi seperti ini.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, ayah dan ibu semakin menjauh dariku. aku perlahan pasti mereka melupakanku. aku sangat merindukan masa masa indah dulu. tapi aku bisa apa? aku hanya anak tiri. aku tidak berhak menuntut apa apa dari mereka," batin Namira

__ADS_1


Namira memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menahan kesedihanya. Dan tentunya Namira mencegah hal buruk terjadi yang tentunya membuatnya semakin sakit hati merasakanya. Namira tahu posisinya dirumah ini. Dirinya juga merasa tidak dibutuhkan. Akhirnya dengan tekad yang bulat, Namira sudah memutuskan pilihanya.


"Maafkan aku ayah, ibu. ini pilihanku melakukan ini. sampai kapan pun aku menyayangi kalian semua," gumam Namira


---------------


Esok hari, Sarah bangun dari tidurnya hendak memanggil Namira untuk sarapan pagi. Namun saat berada di kamar Namira, Sarah panik tidak melihat Namira dalam kamar.


"Namira...Namira...kamu dimana, Nak?" ucap Sarah


Sarah yang panik saat itu menghampiri Umar yang duduk di teras.


"Mas, apa kamu lihat Namira?" tanya Sarah panik


"Bukanya ada di kamar? Mas tidak melihatnya dek," jawab Umar


"Namira tidak ada di kamarnya Mas barusan aku cek ," jawab Sarah


"Dek, kamu yang tenang. kita pasti menemukan Namira. sekarang sebaiknya kamu jaga Burhan. Sementara Mas yang akan cari Namira," ucap Umar


Sarah hanya bisa mengangguk dirinya langsung menuju kamar untuk menemui Burhan. Sementara Umar, dirinya masuk ke dalam kamar Namira. Saat masuk di dalam kamar Namira, Umar melihat piala dan sertifikat di meja belajar Namira. Umar penasaran dengan piala itu mencoba memeganya.


Betapa terkejutnya Umar saat melihat tulisan di sertifikat tersebut. Di sertfikat tertulis :


Sertifikat Penghargaan


Namira Cahyana Putri Letari


Juara 1


Olimpiade Matematika level 2 tingkat SD/MI se Provinsi Jawa Timur

__ADS_1


Umar saat itu juga dikejutkan dengan tanggal pelaksanaan olimpiade yang bertepatan dengan acara aqiqah Burhan


"Astagfirullah, ya Allah nak, mengapa kamu tidak bilang sama ayah dan ibu?," ucap Umar


Umar saat itu belum menyadari alasan Namira tidak memberitahu hal yang penting terhadap dirinya dn Sarah. Hingga akhirinya, Umar melihat kertas di bawah bantal. Kertas itu berisi tulisan :


Untuk ayah dan Ibuku tersayang


Terima kasih, ayah dan ibu telah menjadi ayah dan ibuku. aku sangat senang ayah dan ibu menyayangiku. tapi aku sadar posisiku di keluarga ini. aku tidak berhak protes, marah, cemburu, sedih saat kalian semakin menjauh dariku. Adek Burhan lebih berhak mendapatkan segalanya dari kalian. Aku juga menyayangi dek Burhan


Aku merindukan ayah mengantarkan aku sekolah dan ibu menjemputku sekolah. dan juga tradisi jalan jalan malam minggu, kumpul bersama, makan bersama, bercanda bersama, dan tidur bersama disetiap malam minggu. aku kangen semua hal itu. tapi ayah dan ibu tenang saja, aku tidak marah dan tidak akan menuntut dan membebani kalian. karena aku mengerti adek Burhan harus jadi prioritas dan masih butuh kalian.


Semoga ayah dan ibu bahagia...


Jangan mengkhawatirkan aku...


Kalian semua tetap belanja keperluan Burhan..


Aku pamit ayah ibu...


Maafkan aku pergi tanpa pamit...


Degg....


--------------


@@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga

__ADS_1


__ADS_2