Kesabaran Cinta Pak Ustadz

Kesabaran Cinta Pak Ustadz
215. ANCAMAN ANA


__ADS_3

"Hentikan !!!" teriak seseorang


Ana langsung melepas tarikan tanganya dari hijab Sarah. Sarah saat itu sangat ketakutan langsung menghampiri suaminya. Umar memeluk istrinya langsung berusaha menenenangkanya.


"Sudah dek, sekarang kamu sudah aman," ucap Umar


"Mas, dia mengatakan kalau kamu suaminya Mas. tapi aku tidak percaya Mas.aku yakin Mas bukan pria seperti itu," jawab Sarah


"Apakah wanita itu yang bernama Ana?" tanya Umar


"Iya Mas," jawab Sarah


Umar sontak menatap tajam Ana kemudian langsung menegurnya.


"Apa yang kamu lakukan pada istriku?" tanya Umar


"Hai, ternyata kamu sudah kembali. apakah kamu tidak mengingatku?" tanya balik Ana


"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan," jawab Umar


"Kamu tidak mengenalku? sungguh?" tanya Ana


"Siapa kamu? aku tidak mengenalmu. mengapa kamu mengaku ngaku kalau aku suamimu?" tanya balik Umar


"Aku adalah istrimu," jawab Ana


Sarah mencoba bangkit dari ketakutanya lalu menegur Ana.


"Mana buktinya suamiku adalah suamimu? mengapa kamu bisa berubah seperti ini? kami bukanlah Ana yang aku kenal dulu. apa salahku padamu?" tanya Sarah


"Karena kamu telah menghancurkan hidupku. aku dan suamimu bercerai karena dirimu !!!" jawab Ana


"Apa maksudmu? aku bahkan tidak mengenal dan melihat suamimu. mengapa kamu melampiaskan masalah rumah tanggamu kepadaku?" tanya Sarah

__ADS_1


"Apa kamu ingat kejadian dirimu dan anak kecil sialan itu membeli marmut? itulah awal kehancuran rumah tanggaku kepadamu," jawab Ana


"Jangan menghina putriku !!!" saut Umat


"Putri tirimu? Yah kamu mengadopsinya. Sarah sudah menceritakan semuanya tentang kehidupan putrinya kepadaku," jawab Ana


"Jangan libatkan putri kami dalam masalah ini. ini semua kesalahan kamu sendiri. didalam berumah tangga suami istri harus ada komitmen, saling percaya, dan juga saling terbuka," saut Sarah


Sarah mengingat kejadian saat membeli Marmut bersama Namira. Saat itu memag Sarah dan Ana saling berbincang. Namun tiba tiba Namira dengan polosnya mengatakan seseorang yang bernama Umar adalah ayahnya. Sarah berpikir Ana mungkin tidak bisa mengendalikan emosinya dan menuduh yang bukan bukan pada suaminya. Sehingga Ana bertengkar pada suaminya yang menyebabkan perpecahan.


Ana merasa tidak terima Sarah menyalahkan dirinya. Ana yang merada kesal saat itu kembali mencecar Sarah dengan kembali membalikan fakta.


"Waw, apakah disini kamu tidak bersalah? kamu bahkan tidak jujur sejak pertama kita bertemu di rumah sakit," ucap Ana


"Iya, aku memang saat itu takut menyinggung kamu. dan aku saat itu percaya sepenuhnya dengan suamiku." jawab Sarah


"itu namanya dirimu telah menusuku dari belakang. kamu sangat enteng menganggap itu biasa saja. dan dengan mudahnya dirimu mempercayai suamimu. tapi aku berbeda dengan dirimu, seharusnya kamu sadar akan hal itu," saut Ana


"Dan dengan minta maaf kamu bisa mengembalikan keadaan? suamiku menalaku saat aku bertanya tentang hal itu kepadanya. aku bertengkar dengan suamiku karena dirimu, " jawab Ana


"Itu juga kesalahanmu Ana," saut Sarah


Umar yang melihat Sarah dan Ana terus beradu mulut berusaha menengahinya.


"Ana, apakah kamu tidak merasa bersalah sama sekali? aku tahu istriku juga bersalah dalam hal ini, tapi setidaknya kamu juga intropeksi pada dirimu sendiri," ucap Umar


"Aku disini hanya menjadi korban kepolosan istrimu itu. ternyata secara tidak langsung istrimu sama saja dengan ja****" jawab Ana


"Jaga ucapanmu !!!" tegur Umar


"Apakah ucapanku benar? lebin baik dirimu meminangku dan menceraikan istrimu. istrimu harus membayar deritaku," saut Ana


"Sampai kapan pun aku tidak akan memceraikan istriku. jangan usik rumah tangga kami," ucap Umar

__ADS_1


"Oh silakan. aku pastikan dirimu akan menikahiku dan dirimu akan menceraikan istriku. kehancuran harus dibalas dengan kehancuran. tunggu saja," jawab Ana


"Ana, aku mohon jangan usik rumah tangga kami," saut Sara


"Ingat kata kataku,aku akan merebut suamimu.sampai jumpa," jawab Ana


Ana pergi meninggalkan Umar dan Sarah di dalam kafe. Sarah saat itu menangis di pelukan suaminya.Sarah juga meminta maar kepada suaminya karena ketidakjujuranya dulu menceritakan kejadian di rumah sakit.


"Mas, aku minta maaf. aku sungguh tidak bermaksud berbohong kepadamu Mas. aku mempercaimu," ucap Sarah menangis


"Sudah ayo kita pulang. Namira tadi Mas titipkan dirumah Mansur dan Risma. ayo kita kesana," jawan Umar


"Iya Mas, tapi bagaimana Mas bisa ada disini?" tanya Sarah


"Mas merasa tidak tenang dan khawatir setelah kepergianmu tadi. Tidak biasamya kamu keluar sore. akhirnya Mas saat itu ingin membuntutiku. Mas menitipkan Namira terlebih dahulu di rumah Mansur dan Risma. kemudian aku langsung bergegas menemuimu," jawab Umar


"Terima kasih Mas, kamu selalu ada untuku," ucap Sarah


"Mas bangga sama kamu, kamu tadi membuktikan pada Ana kalau kamu bukan wanita lemah," jawab Umar


"Tapi tetap saja aku takut ancakan Ana. Ana yang ku kenal dulu berubah drastis," ucap Sarah


"Sudahlah, jangan pikirkan Ana, kita fokus masa depan kita. sekarang ayo kita jemput Namira," saut Umar


"Iya Mas," jawab Sarah


----------


@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga

__ADS_1


__ADS_2