Kesabaran Cinta Pak Ustadz

Kesabaran Cinta Pak Ustadz
198. TERPAKSA HARUS TERUNGKAP


__ADS_3

3 hari kemudian


Sesuai janjinya Umar mengajak Sarah dan Namira ke suatu tempat. Sebelum berangkat Sarah sudah mengetahui dan memahami tempat yang akan dikunjungi. Karena sebelumnya Umar sudah menceritakan pada Sarah maksud dan tujuan berkunjung ke tempat itu. Sementara Namira, dirinya masih awam dan penasaran akan diajak jalan jalan dimana sama ayahnya. Karena penasaran Namira mencoba bertanya pada ayahnya.


"ayah, kita jalan jalan kemana?" tanya Namira


"ikuti ayah saja, nanti namira juga akan tahu" jawab Umar


"ayah bikin penasaran deh" ucap Namira


"hmm...pokoknya namira harus janji sama ayah setelah mengunjungi tempat itu, namira harus tetap selalu ceria" jawab Uma


"iya ayah, namira jadi tidak sabar" saut Namira


"iya sudah, ayo kita berangkat" ucap Umar


"iya ayah" ucap Namira dan Sarah bersamaam


Umar menaiki motornya kemudian diikuti Namira ditengah dan Sarah dibelakang. Tak lupa mereka bertiga juga menggunakan helm dan masker. Setelah semua sudah siap, Umar mengendarai motornya dengan kecepatan sedang ke tempat yang akan dikunjungi.


2 jam kemudian


Umar, Sarah, dan Namira telah sampai di tempat tujuanya. Namira merasa sudah tidak asing berkunjung ke tempat yang dimaksud ayahnya. Tempat itu adalah rumah Umar yang ada di probolinggo.Namira yang melihat Umar mengajaknya kembali ke rumahnya merasa kecewa dan marah dengan Umar.


"ayah, kok kita kembali kesini? namira ingin jalan jalan ayah bukan pulang ke rumah" tanya Namira


"Namira sayang, habis ini ayah dan ibu akan mengajakmu ke suatu tempat, sekarang kita semua siap siap dulu lalu berangkat kesana" jawab Umar


"Iya ayah" saut Namira berlari kekamarnya.


Setelah kepergian Namira, Umar terduduk lemas di kursi memikirkan apa yang terjadi pada Namira nanti. Umar tidak tega mengatakan kenyataan yang sebenarnya kepada Namira, tapi dirinya terpaksa harus mengungkapkanya Sarah yang saat itu melihat suaminya cemas langsung memegang bahu Umar kemudian menenangkanya


"mas, aku tahu ini berat, tapi yakinlah mas kita pasti bisa mengungkapkan kebenaranya, kita harus tegar dan kuat demi namira" ucap Sarah


"tapi dek, mas takut namira akan membenci mas" ucap Umar


" ssstt..kenyataanya memang pahit untuk namira. kita tidak boleh egois, walaupun kita orang tua sambung namira dan sayang sama Namira bukan berarti kita harus menyembunyikan kenyataan ini" saut Sarah

__ADS_1


"iya dek, mas butuh bantuanmu untuk menghadapi masa masa ini" ucap Umar


"Iya mas aku akan membantumu menghadapi Namira. namira sekarang anak kita mas, nanti kita harus kuat mas demi Namira, apapun yang terjadi pada Namira nanti kita akan saling menguatkanya." jawab Sarah


"Iya dek, sekarang kita siap siap dulu" ucap Umar


"Iya mas" jawab Sarah


30 menit kemudian,


Umar, Sarah, dan Namira berangkat menuju tempat yang dituju dengan berjalan kaki. Dalam perjalananya Sarah membeli dua kantung plastik bunga tabur. Namira penasaran melihat Sarah membeli bunga tabur. Tanpa ragu, Namira bertanya pada Sarah.


"ibu, itu bunganya untuk apa?" tanya Namira


"sebentar lagi sampai sayang" jawab Sarah


Setelah membeli bunga tabur, hanya berjalan 200 meter saja mereka mendapati tempat yang akan dikunjungi. Namira melihat ayah dan ibunya mengajaknya ke TPU (Tempat pemakaman umum). Namira bertanya tanya alasan Umar dan Sarah mengajaknya ke depan.


"ayah, ibu kok kita disini? ada apa?" tanya Namira


Tak butuh waktu lama, mereka bertiga sampai di makam ayah dan ibu kandung namira yang sudah tiada sejak namira berumur belum genap satu tahun. Sesampainya ditempat yang dituju, Umar memulai mengatakan kenyataan pahit yang selama ini dirinya sembunyikan demi Namira.


"namira sayang, ada hal penting yang ayah mau katakan padamu" ucap Umar


"iya ayah, ini makam siapa ayah?" tanya Namira


"Namira sayang, maafin ayah, ayah harus jujur mengatakan ini, sebenarnya dua makam itu adalah ayah dan ibumu nak" ucap Umar


Degg


Namira baru saja mendengarkan kenyataan itu langsung terkejut dan terdiam. Namira tidak menyangka kalau ayah dan ibunya sudah meninggal. Di sekolah, Namira mengingat pernah melihat temannya menangis dikelas saat ada berita kehilangan orang tuanya. Saat itu Namira menenangkan temanya itu. Namira pernah mendengar dari gurunya kalau anak yang orang tuanya sudah tiada adalah anak yatim piatu


Sungguh, Namira tidak menyangka kalau sebenarnya nasibnya sama dengan temanya yang kehilangan orang tuanya. Namira akhirnya mengatakan sesuatu pada Umar dan Sarah tentang orang tuanya


"ayah, ibu, berarti aku sebenarnya anak yatim piatu?" tanya Namira


"Namira sayang, ayah dan ibu namira sudah tenang disana, sekarang namira jangan sedih sekarang namira ada ayah Umar dan Ibu Sarah yang selalu sayang sama Namira" jawab Umar

__ADS_1


'ayah, ibu, aku tidak pernah melihat ayah dan ibuku yang sudah meninggal, yang aku tahu sekarang ayahku adalah ayah Umar dan ibuku adalah Ibu Sarah" ucap Namira


"Namira sayang, ini ayah punya foto ayah dan ibu kandungmu. walaupun namira tidak pernah melihatnya, namira harus tetap selalu mendoakan ayah dan ibu namira agar diterima di sisi-Nya " jawab Umar


Namira memandangi foto orang tua kandungnha yang diberikan Umar. Tak lama kemudian akhirnya hujan tangis membasahi pipi Namira.


"ayah, mengapa ayah jahat tidak memberitahuku?" tanya Namira menangis


"Namira sayang, maafin ayah, ayah tidak bermaksud menyakiti hatimu nak," jawab Umar


Umar dan Sarah yang masih melihat Namira tubuhnya bergetar dan menangis langsung memeluknya dan menenangkanya.


"Namira sayang, jangan sedih terus, namira tidak sendirian, ada ibu Sarah dan ayah Umar yang selalu sayang namira" ucap Sarah


"Namira maafin ayah ya nak, ayah baru memberitahumu, walaupun ayah Umar dan Ibu Sarah bukan orangtua kandungmu, sampai kapan pun ayah Umar dan Ibu Sarah akan selalu sayang sama Namira" saut Umar


"ayah, ibu..apa aku masih boleh panggil ayah dan ibu" jawab Namira menangis


Umar dan Sarah memeluk Namira juga ikut menangis. Umar dan Sarah mengatakan kalau mereka berdua sangat bersedia dan tanpa diminta Umar dan Sarah sudah sangat bersedia. Karena Umar dan Sarah menyanyangi Namira


"Namira sayang, sampai kapan pun ayah Umar dan Ibu Sarah adalah ayah dan ibumu juga sekarang, tidak ada yang berubah, semua tetap sama" ucap Umar


"Namira sayang, kami berdua adalah ayah ibumu sekarang, untuk apa melarangmu memanggil kami berdua ayah ibu. sampai kapan pun semua akan tetap sama" saut Sarah


"aku sayang ayah dan ibu, terima kasih ayah, ibu" jawab Namira


Umar dan Sarah memeluk Namira semakin erat. Tak lama kemudian mereka bertiga berdoa bersama di makan orang tua kandung Namira dan menaburkan bunga.


Setelah selesai berdoa Umar, Sarah, dan Namira kembali bersiap untuk balik berangkat menuju kota Surabaya.


-----------


@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga

__ADS_1


__ADS_2