
2 jam menunggu, akhirnya Sarah masuk kedalam ruang operasi untuk melakukan laparoskopi. Dalam perjalananya menuju kamar operasi, Umar menggenggap erat tangan Sarah dan memberinya semangat.
"dek, kamu pasti kuat, kamu pasti sembuh, aku dan Namira menunggumu dirumah, mas akan selalu mendoakanmu" ucap Umar
"iya mas, insyaallah aku kuat, tolong jaga Namira mas, jangan kasih tahu keberadaanku" jawab Sarah
"Iya dek, Namira sekarang sedang keluar bersama Yossy" saut Umar
"Iya mas, aku tidak mau Namira sedih" jawab Sarah
Saat para suster hendak memasukan troli ranjang Sarah kedalam rumah sakit. Tiba tiba ada suara anak kecil berteriak memanggil Sarah..
"Ibu...." teriak anak kecil
Sarah sangat mengenali suara anak kecil itu. Sama halnya dengan Umar yang mengenali suara anak kecil itu. Sarah dan Umar hanya terdiam menatap anak kecil itu. Anak kecil itu adalah Namira, yang baru saja selesa jalan jalan bersama Yossy. Namira berlari menghampiri Sarah yang terbaring tidak berdaya di troli ranjang. Air mata Namira tidak berhenti menetes karena dipikiranya dirinya tahu ibunya sakit
"Ibu..Ibu sakit apa? mengapa ibu di rumah sakit?" tanya Namira
"Namira sayang, ibu tidak apa apa, sekarang Namira sama ayah dulu ya, ibu ada urusan di dalam sebentar" jawab Sarah
"ibu jangan bohong, ibu pasti sedang sakit" ucap Namira
"Namira, sekarang sama ayah dulu ya, suster langsung bawa saya masuk saja sus" saut Sarah
"Baik bu, untuk keluarga pasien silahkan menunggu diluar" jawab Suster
Para suster akhirnya membawa masuk troli ranjang Sarah dan menutup pintu kamar operasi. Di luar kamar operasi Yossy meghampiri.Umar dan ingin minta maaf. Yossy merasa bersalah membawa Namira ke rumah sakit Yossy juga terpaksa membawa Namira ke rumah sakit karena saat jalan jalan Namira merengek ingin bertemu ibunya.
"mas Umar, saya minta maaf mengajak Namira kesini tadi saya bingung saat diluar Namira terus mencari ibunya" ucap Yossy
"Iya yos, kamu tidak salah kok, terima kasih telah menjaga Namira,.sekarang saya mau menenangkan Namira dulu di taman" jawab Umar
__ADS_1
"Iya mas, kalau gitu saya pamit, Melisa menunggu saya di musholla" ucap Yossy
"Iya yos, terima kasih, saya mengajak Namira ke taman dulu, assalamualaikum" jawab Umar
"waalaikumsalam" saut Yossy
Umar menggendong Namira berjalan menuju taman rumah sakit. Dalam perjalananya Namira tidak berhenti menangis di gendongan Umar. Saat sampai di taman, Umar mendudukan Namira di kursi taman kemudian berusaha menenangkanya.
"Namira sayang, jangan menangis ya, ibu pasti kuat, kalau Namira ingin ibu sembuh bukan menangis caranya tapi Namira harus mendoakan ibu" ucap Umar
"ayah, tapi ibu mengapa bohong, dan tadi aku baca disana ibu masuk ruang operasi" jawab Namira
"ibu ingin namira biar nggak sedih, sekarang Namira harus buat ibu jadi kuat, kita berdoa sama sama ya agar ibu cepat sembuh" ucap Umar
"Iya ayah, tapi aku tidak hafal doanya" jawab Namira
"tidak apa apa ikuti ayah ya, kita berdoa untuk kesembuhan ibu sama sama" ucap Umar
"Bismillahirahmanirahim, Allahumma robbannaasi adzhibil ba’sa wasy fihu, wa antas syaafi, laa syifaa-a illa syfaauka, syifaan laa yughaadiru saqaama" ucap Umar diikuti oleh Namira
Artinya : Ya Allah, Rabb Manusia, hilangkanlah kesusahan dan berikanlah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain.
3 jam kemudian, Laparoskopi yang dijalani oleh Sarah sudah selesai. Sarah dipindahkan ke ruang penginapan untuk pemulihan.
Umar dan Namira senang akhirnya laparoskopi Sarah berjalan dengan lancar. Sekarang Sarah masih dalam kondisi tidak sadar karena pengaruh obat.
Saat menjenguk Sarah, Namira yang masih belum mengerti bertanya pada ayahnya mengapa ibunya belum sadar
"ayah, ibu kok gak bisa dibangunin, ibu mengapa ayah" ucap Sarah
"sebentar lagi ibu bangun, Namira tidak usah khawatir" jawab Umar.
__ADS_1
"baik ayah" saut Namir
17 menit kemudian, Sarah terbangun dari tidurnya melihat disisinya ada Umar dan Namira. Umar dan Namira senang saat Sarah sudah sadar. Namira saat itu langsung naik ke ranjang memeluk ibunya.
"Ibu, alhamdulillah ibu sudah sadar, Namira kangen ibu, tadi namira dan ayah berdoa untuk ibu" ucap Namira polos
"Namira sayang, ibu sudah sehat, terima kasih ya doanya, anak ibu emang pinter" jawab Sarah
Umar melihat Namira diatas ranjang Sarah memiliki kekhawatiran takut Namira menyentuh bekas operasi Sarah. Tanpa ragu, Umar memberi pengertian pada Namira agar tidak banyak tingkah di atas ranjang.
"Namira, ibu baru sembuh, jangan banyak tingkah, nanti ibu sakit lagi, sekarang ayo sini di pangku ayah" ucap Umar
Namira langsung beranjak dari ranjang Sarah kemudian duduk dipangkuan Umar. Karena hari sudah malam, Namira tertidur di pangkuan Umar.
Malam itu Sarah dan Umar belum tidur, mereka berdua saling bicara tentang laparoskopi.
"mas, laparoskopinya menghabiskan biaya berapa?" tanya Sarah
"ssstt...sudah jangan dipikir, semua beres semua sudah mas atur" jawab Umar
"mas, apakah setelah menjalani laparoskopi ini aku bisa hamil?" tanya Sarah
"kamu masih dalam masa pemulihan, jangan pikirkan itu dulu, kata dokter kamu masih bisa hamil, tiga bulan pasca laparoskopi kita akan mencoba menjalani progam" jawab Umar
"Iya mas" saut Sarah
-----------
@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
__ADS_1
Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga