
Dikamarnya Namira termenung melihat langit langit kamar memikirkan penjelasan gurunya tadi di sekolah. Di sekolah, Namira yang masih kelas 1 SD mendapatkan materi dari gurunya tentang hari ayah di indonesia. Hari ayah diperingati setiap pada tanggal 12 November. Namira saat itu menyadari kalau tanggal 12 November tepat esok hari.
Namira ingin sekali membuat kejutan untuk ayahnya. Tapi Namira memerlukan bantuan ibunya untuk membuat kejutan. Tanpa berpikir panjang, Namira menghampiri Sarah di teras yang sedang menyapu kemudian menyapanya.
"Ibu.." ucap Namira
"Eh Namira cantik, ada apa sayang?" tanya Sarah
"aku butuh bantuan ibu buat kejutan untuk hari ayah besok" jawab Namira
"wah boleh juga, ayah pasti senang, emang Namira ingin kasih kejutan apa pada ayah?" tanya Sarah
"ibu ikuti aku aja sekarang, sekarang kita ke kamarku aja bu, jangan sampai ketahuan ayah" jawab Namira
"hmm...baiklah" saut Sarah
Namira menggandeng Sarah berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Namira langsung mengunci pintunya. Sarah hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat ulah Namira hari ini.
Didalam kamar, Namira menyiapkan kertas warna, gunting, lem, kardus, dan spidol. Sarah sudah menebak Namira akan membuatkan ayahnya kartu ucapan. Sarah membantu Namira membuat bunga dari kertas warna. Sementara Namira bagian mendesain kartu ucapanya.
1 jam kemudian, karya buatan Namira sudah jadi. Namira menyimpan karyanya di kamarnya berencana memberikan karyanya ke Umar besok pagi. Saat itu hari sudah sore tak terasa Sarah dan Namira masih betah di kamar. Sarah dan Namira saling bercerita tentang sosok Umar dalam hidupnya.
"ibu, aku beruntung punya ayah" ucap Namira
"iya sayang kita berdua beruntung, ayah itu orang yang bertanggung jawab dan sayang sama keluarganya" jawab Sarah
"iya bu, dulu aku memanggilnya paman dan sekarang aku memanggilnya ayah" ucap Namira
__ADS_1
"sejak kapan Namira memanggil ayah Umar dengan sebutan ayah?" tanya Sarah penasaran
"ceritanya pokoknya pas berangkat naik bis bu, aku bertanya pada ayah Umar dulu dimana ayah dan ibuku terus ayah Umar menyuruh memanggilnya ayah dan terus ayah Umar memeluku di bis" jawab Namira
Degg
Sarah terkejut dengan ucapan Namira yang ternyata masih baru baru ini memanggil Umar denga sebutan ayah. Sarah mengira sejak kecil Namira sudah memanggilnya ayah sejak kecil belum genap satu tahun. Ternyata dulu Namira pernah memanggilnya Umar dengan sebutan paman. Sarah kemudian bertanya tanya pada dirinya sendiri apakah Namira sudah tahu ayah dan ibunya sudah tiada sejak usianya genap satu tahun.
Sarah harus menanyakan hal itu pada Umar. Tak lama kemudian Sarah merasa dirinya belum shalat ashar minta izin kepada Namira untuk shalar
"Namira, ibu shalat ashar dulu ya?" ucap Sarah
"iya ibu pokoknya ibu jangan kasih tahu ayah dan jangan sampai ayah masuk kamarku" jawab Namira
"Iya sayang, ibu sekarang mau shalat dulu" ucap Sarah
Sarah kembali menuju kamarnya untuk shalat ashar. Setelah shalat ashar , Sarah melihat Umar merebahkan tubuhnya di ranjang sepertinya Umar baru saja pulang bekerja. Tanpa berpikir panjang, Sarah menghampiri Umar diranjang lalu menanyai sudah atau belum menunaikan shalat ashar.
"mas, kamu sudah shalat ashar?" tanya Sarah
"sudah dek tadi mas shalat di masjid kampus" jawab Umar
Sarah saat itu tiba tiba teringat dengan Namira. Agar dirinya tidak bertanya tanya, Sarah memutuskan untuk bertanya pada Umar
"mas,.aku boleh tanya sesuatu, tapi aku mohon mas jangan tersinggung" ucap Sarah
"ada apa dek?" tanya Umar
__ADS_1
"mas aku ingin tahu masa kecil Namira, apakah kamu mau bercerita? terutama tentang orang tuanya, apakah Namira sudah tahu ayah dan ibunya sudah meninggal?" tanya Sarah
"Namira belum tahu dek, mas tidak ingin memberitahunya, mas tidak ingin Namira sedih dan kecewa sama mas" jawab Umar
"apakah sejak kecil Namira memanggilmu ayah?" tanya Sarah
"Sebenarnya dulu Namira memanggil mas dengan sebutan paman, Namira tidak mengenal ayah dan ibunya sejak kecil. namun saat kejadian berangkat ke surabaya naik bis, mas melihat Namira sedih melihat seorang anak yang berkumpul dengan ayah dan ibunya. dia bertanya denganku apakah dirinya memiliki ayah dan ibu. disitu hati mas tersentuh merasakan sedihnya Namira saat itu. akhirnya mas menyuruh Namira memanggil dengan sebutan ayah" jawab Umar
"mas, kalau menurutku kita ajak Namira ke makam ayah dan ibu kandungnya mas" ucap Sarah
"tapi mas tidak kuat dek, mas ngin mengatakanya pada Namira ketika usianya remaja, mungkin 16 atau 17 tahun" jawab Umar
"mas, menurutku kita bisa memberitahunya sekarang mas" ucap Sarah
"mengapa harus sekarang?" tanya Umar
"mas, emosi pada anak masih bisa kita dikendalikan. karena pada masa anak anak emosinya masih dalam tahap membangun dalam tahap perkembangan transisi menuju ke masa remaja. seperti mengenal fungsi tubuh, lingkungan sekitarnya. kalau menunggu remaja, emosional remaja itu masih labil mas dan sering kali dipengaruhi mood. namira akan semakin marah dan kecewa dengan kita. kita akan susah mengontrol emosi Namira pada saat sudah remaja. karena saat itu adalah masa remaja membentuk kepribadian menuju masa dewasa" jawab Sarah
"kamu benar dek, tapi bantu mas ya menjelaskan pada Namira" ucap Umar
"Iya mas" jawab Sarah
-----------
@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
__ADS_1
Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga