
4 bulan kemudian,
Masa masa kehamilan, Sarah menikmati peranya sebagai ibu hamil. Mulai dari merasakan tendangan bayinya, sering kencing di malam hari, serta tentunya kenaikan berat badan yang drastis. Usia kandungan Sarah sekarang sudah memasuki usia 9 bulan. Saat itu Sarah sedang bermain dihalaman rumahnya bersama Namira. Namun pada saat bermain Sarah mengalami sakit di perutnya. Hal itu tentu saja membuat Namira sangat panik.
"Auhh.." ucap Sarah
"Ibu, Ibu kenapa? ibu mengapa kesakitan?" tanya Namira
"Namira, panggilkan Mpok Noor," jawab Sarah
Namira langsung berlari menghampiri Mpok Noor yang sedang membersihkan kandang marmut.Mpok Noor adalah wanita paru baya yang bekerja sebagai pembantu Umar dan Sarah semenjak usia kandungan Sarah 5 bulan.
"Mpok, ibu perutnya sakit," teriak Namira
"Hah? Bu Sarah pasti mau melahirkan, Nak Mira jangan panik, sekarang Nak Mira tolong telpon ayahnya ya?" jawab Mpok Noor
"Iya Mpok," saut Namira
Mpok Noor berlari menghampiri Sarah yang terduduk dilantai. Mpok Noor melihat cairan ketuban dari rahim Sarah sudah mulai pecah.Mpok Noor yang panik saat itu berusaha menenangkan Sarah.
"Bu Sarah harus kuat, sebentar lagi Pak Umar datang, Nak Mira tadi udah suruh Mpok telpon," ucap Mpok Noor
"Mpok, tolong pesankan taksi buat saya berangkat ke rumah sakit," ucap Sarah
Mpok Noor menganggukan kepalanya langsung menuruti keinginan Sarah. Mpok Noor saat itu berlari mencari telepon rumah di atas meja. Tanpa basa basi, Mpok Noor ambil telepon rumah diatas meja tapi saat itu Mpok Noor bingung cara memesan taksi lewat telepon.
"Ini nomer taksi berapa ya? dibuku telepon tidak ada," batin Mpok Noor
Tanpa Mpok Noor sadari, Namira berada dibelakang Mpok Noor. Pandangan Namira saat itu tertuju pada Mpok Noor yang kebingungan. Tanpa ragu, Namira menanyainya.
"Mpok, mau telepon siapa?" tanya Namira
"Itu Nak Mira, Mpok mau telepon taksi, Nak Mira tahu nomernya?" jawab Mpok Noor
Namira menggelengkan kepalanya karena tidak tahu. Akhirnya daripada menunggu lama lama akhirnya MpoK Noor menghubungi nomer Risma dan Melisa.
__ADS_1
10 menit kemudian, Umar sudah sampai di rumah. Melihat istrinya mulai lemas, Umar membopong Sarah sembari menunggu taksi
"Dek, kamu yang kuat ya, taksinya akan segera datang. Tadi Namira bilang kalau Mpok Noor udah pesan taksi," ucap Umar
Mendengar Umar dan Sarah hendak menunggu taksi, Mpok Noor merasa bersalah karena dirinya tadi menghubungi Melisa dan Risma
"Pak Umar, Bu Sarah, Mpok minta maaf. tadi Mpok sebenarnya mau hubungi taksi tapi dibuku telepon tidak ada.akhirnya Mpok menghubungi Bu Risma dan Bu Melisa," ucap Mpok Noor
Umar saat itu memahami Mpok Noor memang tidak pernah memegang ponsel. Umar tidak marah pada Mpok Noor malah dirinya beeterima kasih karena membantu menjaga istrinya
"Gak apa apa Mpok, saya malah yang harus berterima kasih sama Mpok karena telah menjaga istri saya," ucap Umar
"Iya Pak Umar, terima kasih," jawab Mpok Noor
Tak butuh waktu lama, Risma dan Mansur beserta Melisa dan Yossy sampai bersamaan di rumah Umar. Mansur yang melihat sahabathya panik saat itu lansung menyuruh Umar membawa Sarah ke mobil.
"Mar, sebaiknya kamu bawa Sarah ke mobilku. kita akan ke rumah sakit," ucap Mansur
"Iya sur, terima kasih" jawab Umar
"Mas dan Yossy akan antar Umar ke rumah sakit. kamu dan Melisa bantuin Mpok Noor mempersiapkan keperluan persalinanya Sarah," ucap Mansur
"Iya Mas," jawab Risma
------ Rumah Sakit -------
Sesampainya di rumah sakit, Umar menemani Sarah melahirkan di dalam ruang persalinan. Umar terus menyemangati istrinya yang berusaha mengeluarkan buah hatinya.
"Dek, kamu pasti bisa, anak kita akan lahir. kamu yang kuat dek, kamu boleh cakar cakar tangan Mas jika itu membuatmu kuat," ucap Umar
Sarah saat itu mencakar tangan Umar karena menahan sakitnya melahirkan. Sarah terus mengejan hingga akhirna terdengar suara tangisan bayi membuat Sarah terharu. Sama halnya dengan Sarah, Umar yang ada disamping Sarah saat itu juga menangis haru langsung mencium kening istrinya.
"Dek, ini adalah hadiah terindah. terima kasih atas perjuanganya.alhamdulillah sekarang anak kita sudah lahir. anak kita laki laki dek, dia sangat tampan,"ucap Umar
"Iya Mas, aku juga terima kasih. Mas selalu sabar dan terus menguatkanki hingga akhirnya penantian kita terwujud," jawab Sarah
__ADS_1
"Iya dek, kalau kamu merestui. Mas mau menamai putra kita Burhan Jamaluddin Akbar. Burhan memiliki arti bukti dan petunjuk, Jamaluddin adalah keindahan agama, dan Akbar itu besar. " ucap Umar
"Bagus Mas, aku setuju," jawab Sarah
Mas ingin putra kita menjadi sesorang pemimpin yang taat agamanya. dan tentunya terhindar dari perbuatan maksiat. Serta Mas lebih bangga lagi kalau putra kita mampu memberi petunjuk yang baik pada orang orang yang disekitarnya kelak yang tidak baik." ucap Umar
"Iya Mas, aku sangat setuju," jawab Sarah
Beberapa menit kemudian, dokter mempersilahkan Umar menggendong bayinya. Umar saat itu mengadzani putranya dengan suaranya yang merdu lalu menciumnya. Sarah yang melihat suaminya sangat bahagia sangat bersyukur bisa mendapatkan anugerah terindah dengan lahirnya buah hati mereka.
Setelah puas bermain dengan bayinya, Umar mengembalikan bayinya di inkubator lalu keluar menghampiri teman temanya yang sudah menunggu diluar.
"Mar, selamat ya atas kelahiran anakmu," ucap Mansur
"Iya sur, terima kasih," jawab Umar
"Mas Umar, selamat ya atas kelahiran anak pertamanya," jawab Yossy
Mendengar ucapan Yossy, Umar langsung menggendong Namira yang saat itu juga ikut di rombongan.
"Iya Yos, terima kasih. ini Namira adalah gadis kecil cantiku yang sekarang ini sudah menjadi kakak," jawab Umar
"Eh iya Mas Umar, benar Namira sudah jadi kakak. maksudku Mas Umar dan Mbak Sarah telah dikaruniai putra pertama" saut Yossy
"Iya Yos, tidak apa apa. silahkan masuk Yos kalau mau lihat dedek burhan," jawab Umar
"Wah nama yang indah, kami tengok dulu anakmu ya Mar," saut Mansur
"Ok silahkan," jawab Umar
--------------
@@@@@
Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!
__ADS_1
Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga