Kesabaran Cinta Pak Ustadz

Kesabaran Cinta Pak Ustadz
242. BERBAGI PENGALAMAN


__ADS_3

---- Di Rumah Sarah dan Umar ----


Sore hari, Mansur dan Risma beserta ketiga anaknya berkunjung dirumah Sarah. Mansur, Risma, Sarah, dan Umar saling berbincang. Sementara Namira bermain bersama Hasan. Hanna dan Hannin yang mulai aktif merangkah. Bahkan Hasan suka sekali berteriak teriak dan sudah mengerti isyarat nyuwun atau meminta seperti baby Kiano anaknya Baim Wong. Namira saat itu gemas sekali saat bermain dengan Hasan yang suka berteriak teriak.


"Aaaaaa...." teriak Hasan dengan suara khasnya


"Eh, bang hasan teriaknya kenceng, ini kakak punya mainan. ayo nyuwunya mana?," ucap Namira


Hasan saat itu langsung refleks menadahkan tanganya meminta mainan yang dipegang Namira. Namira saat itu senang sekali dengan kelakuan Hasan.


"ih...lucunya...ini bang Hasan mainanya, bang Hasan pinter sudah bisa nyuwun kaya Kiano," ucap Namira


Hasan memang anaknya paling aktif dan banyaj tingkah dibanding kedua adiknya Hanna dan Hanin. Bahkan lucunya lagi, Hasan seperti mengerti arti sayang terhadap sesama.


"Bang Hasan, adeknya dicium dong, adeknya minta disayang. ayo Bang adeknya dicium," ucap Namira.


Hasan saat itu menarik memajukan kepalanya di dekat Hanin. Hanin saat itu hanya pasrah ketika bibir Hasan menyentuh pipi Hanin. Sungguh menggemaskan, Hasan saat itu juga melakukan hal yang sama terhadap Hanna. Kelakuan Hasan saat itu terlihat jelas sangat menyayangi kedua adiknya.


"Wah, adeknya disayang. Bang Hasan sayang adek?" tanya Namira


"Aaaaaa...." teriak Hasan dengan suara khasnya


"Hahaha...bang Hasan lucu banget," jawab Namira


Mansur, Risma, Sarah, dan Umar saat itu memperhatikan Namira bersama trio kembar ikut tersenyum. Mereka berempat saling berbincang terkait kebahagiaan memiliki anak.


"Sur, lihat Namira ikut seneng deh main sama anak anak kamu, sebentar lagi jika Burhan udah gede kaya Hasan pasti lucu sekali," ucap Umar

__ADS_1


"Iya Mar, kamu benar. Hasan itu memang banyak tingkah." jawab Mansur


"Kamu dulu kerepotan dong pastinya, apalagi kamu tiga anak sekaligus," ucap Umar


"Sewaktu Hasan, Hanin, dan Hanna masih bayi segede Burhan aku sama Risma malam malam sering ngeronda terus Mar, kaya berasa pos kampling dalam kamar. rasanya luar biasa banget," jawab Mansur


"Iya memang ngeroda terus, tapi bapaknya ujungnya pules di kursi, jadi emaknya yang bangun terus," saut Risma


"Haha, maafin Mas ya Ris, Mas mungkin ngantuk banget saat itu. namanya juga kamu jadi ibu, anaknya bangun otomatis ibuknya ikut bangun kasih susu," jawab Mansur


"Bener juga, tapi rasanya memang benar luar biasa. aku merasakan perjuangan ibuku bergadang dulu menyusuiku. aku merasakan rasa kantuk, malas, capek, ngilu bener bener harus dipaksa bangkit pas anak lagi nangis. perjuangan ibu kita benar benar luar biasa pada kita dulu," ucap Risma


"Wah ris, aku sebentar lagi akan merasakan kaya kamu ris," jawab Sarah


"Iya Kak, percaya deh sama aku. yang banyak bergadangnya itu ibuknya. walaupun dijadwal jaga ronda sekalipun, gak mempan kak. ujungnya kaya aku sama Mas Mansur. akunya nyusuin anak, Mas Mansur udah bablas ketiduran," saut Risma


"Wah, jangan jangan nanti Burhan sama dong kaya Hasan. Bapaknya kena air pancur khatulistiwa," saut Umar


"Hahaha..." tawa semua


Mereka berempat tertawa membicarakan bahagianya memiliki anak. Namira yang bermain dengan si kembar melihat kebahagiaan ayah dan ibunya saat membicarakan kebahagiaan memiliki anak. Saat itu Namira berpikir kalau ayahnya dan ibunya sudah bisa bahagia tanpa dirinya.


"Ayah sepertinya bahagia banget hari ini. Ibu juga sama bahagia banget. Sepulangnya dari rumah sakit ayah dan ibu hanya bicara padaku hanya menyuruhku makan siang. itu pun ayah dan ibu juga fokusnya ke adek Burhan. Apakah aku mereka tidak menyayangiku?" batin Namira


Saat tertawa bersama tidak sengaja Mansur menatap Namira yang mencuri pandang perbincanganya. Mansur melihat Namira nampak seperti orang merenung bersedih. Melihat hal iti Mansur mengajak Umar keluar sebentar diluar rumah.


"Mar, aku mau ngajak kamu ke teras bentar. ada yang mau aku omongin," ucap Mansur

__ADS_1


"Iya Sur, ayo kita ke teras," jawab Umar


"Eh Mas, mengapa mau ke teras?" tanya Risma tiba tiba


"Tidak apa apa, mau ngomongin bola," saut Mansur bohong


"Apa yang sebenarnya mau dibicarakan Mansur?" batin Umar


Umar berjalan membuntuti Mansur menuju teras. Sesampainya di teras, Mansur langsung memulai pembicaraanya.


"Mar, sebelumnya kamu jangan tersinggung. disini aku mau mengatakan kepadamu. kalau sekarang kamu adalah seorang ayah untuk Namira dan Burhan. kamu harus bisa membagi kasih sayangmu terhadap mereka. jangan sampai lepas kontrol hanya berfokus ke Burhan. aku harap kamu mengerti maksudku," ucap Mansur


"Iya aku mengerti, Namira memang bukan anak kandungku. tapi aku menyayanginya layaknya putri kandungku," jawab Umar


"Mar, Namira itu masih kecil. pemikiranya masih labil. jika kamu lepas kontrol hanya terlalu fokus menjaga Burhan, pastinya tidak menutup kemungkinan Namira akan merasa dirinya di anak tirikan. sebagai orangtua kamu harus bisa memahami sifat anakmu," ucap Mansur


"Iya Sur, aku usahakan Namira mendapat kasih sayang dan perhatian yang cukup. aku tidak ingin Namira merasa seperti yang kamu sebutkan tadi. aku sayang sama anak anaku," jawab Umar


"Iya Mar, hanya itu yang aku mau sampaikan kepadamu.sekarang kita balik kedalam melanjutkan perbincangan kita bersama istri istri kita" ucap Mansur


"Baik Sur," jawab Umar


---------------


@@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!

__ADS_1


Rate, Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


__ADS_2