Kesabaran Cinta Pak Ustadz

Kesabaran Cinta Pak Ustadz
247. KAKEK PELINDUNG


__ADS_3

Malam hari, acara aqiqah Burhan berlangsung dengan lancar. Umar, Sarah dan tamu undangan sangat senang dan antusias menyambut acara aqiqah Burhan. Acara berlangsung selama 3 jam. Setelah tamu undangan pergi, dirumah hanya tersisa Sarah, Umar, Burhan, dan Namira.


Hari yang melelahkan, Umar dan Sarah saat itu masih di ruang tamu membicarakan sesuatu.


"Dek, Mas hari ini bahagia banget. Mas berharap semoga Burhan jadi anak yang sholeh," ucap Umar


"Iya Mas, amin..." jawab Sarah


"Oh iya dek, Mas usul bagimana kalau kita cari supir untuk Namira ?" ucap Umar


"Tapi kita gak punya mobil Mas," jawab Sarah


"Kebetulan Mansur mau menjual mobilnya yang lama karena sudah beli yang baru. rencanaya Mas mau membelinya dek. harganya bersabahat 80 juta," ucap Umar


"Iya Mas tidak apa apa," jawab Sarah


"Iya dek, Mas besok akan cari supir. soalnya Mas bisanya antar Namira pagi hari karena kerja, siang hari juga biasa kamu, Mpok minah dan Yossy yang jemput. tapi sekarang kamu ngurus Burhan, Mpok Minah kasihan sudah banyak pekerjaan kalau disuruh jemput Namira, dan Yossy juga gak bisa tiap hari karena kuliah," ucap Umar


"Aku setuju Mas, menurutku itu yang terbaik," jawab Sarah


Tanpa mereka sadari Namira mendengarkan obrolan mereka. Namira saat itu sebenarnya mau memberikan undangan dari Bu Setyarini. Undangan dari Bu Setyarini adalah slametan atas raihan juara anak anak didiknya dengan mengundang para orangtua peserta olimpiade.


Namun niat itu diurungkan oleh Namira karena mendengar obrolan orangtuanya. Sekarang Namira merasa orangtuanya semakin ingin menjauh darinya. Karena keinginan Umar dan Sarah mencarikan supir untuk dirinya. Otomatis Namira merasa ayah dan ibunya lebih memilih kesibukanya daripada dirinya.


Dulu Umar rela di jam istirahat kerja menjemput Namira pulang. Terkadang juga Sarah rela kepanasan naik becak atau angkot demi menjemput Namira pulang. Obrolan Umar dan Sarah tentu membuat Namira semakin merasa tidak dianggap.

__ADS_1


"Ayah, Ibu apakah aku menjadi beban untuk kalian sekarang? apakah selama ini aku merepotkan kalian saat mengantar jemput diriku. Hingga sekarang puncaknya kalian mencarikan supir untuk antar jemput aku? aku sedih tapi aku merasa tidak berhak protes. aku menyadari posisiku yang hanya anak tiri kalian," batin Namira


3 hari kemudian,


Selama 3 hari kemudian, Namira berangkat sekolah bersama Pak Hamzah atau supir baru Namira yang berusia 56 tahun. Baru bertemu saja Namira dan Pak Hamzah sudah akrab, bahkan Namira karena terlalu nyaman bersama Pak Hamzah, sewaktu pulang sekolah Namira mengatakan sesuatu pada Pak Hamzah.


"Pak, besok lusa pulang sekolah ikut aku yak pak." ucap Namira


"Mau kemana Nona?" tanya Pak Hamzah


"Besok lusa Namira diundang sama Bu Setyarini di rumahnya. ayah dan ibu pasti tidak bisa datang. jadi Pak Hamzah saja ya yang ikut Namira?" tawar Namira


"Tapi Nona, jika acara itu penting sebaiknya ayah dan Ibu Nona saja yang datang," ucap Namira


"Baik Nona," jawab Pak Hamzah


"Aku memang belum mengatakan sama ayah dan ibu. Tapi aku yakin mereka gak akan datang. ayah sibuk kerja sementara ibu sibuk ngurus Burhan. untung saja ada Pak Hamzah," batin Namira


---- Di Rumah Bu Setyarini -----


Dua hari kemudian, sesuai janjinya Pak Hamzah ikut Namira menghadiri acara di rumah Bu Setyarini. Namun, sebelum keluar mobil dan memasuki rumah Bu Setyarini, Namira mengatakan sesuatu pada Pak Hamzah.


"Pak Hamzah, nanti disana Pak Hamzah jadi kakeku ya? aku tidak mau nanti dikira bawa supir. kasihan ayah dan ibu pasti jadi bahan pembicaraan," ucap Namira


"Iya Nona," jawab Pak Hamzah

__ADS_1


"Panggil aku Namira, jangan Nona. mulai sekarang aku juga panggil Pak Hamzah sebutan Kakek. itu gak berlaku hari ini saja, tapi seterusnya," ucap Namira


"Iya Nona. Eh maksudnya Namira," jawab Pak Hamzah


"Kek, jangan canggung gitu. sekarang aku memiliki kakek, kakek sekarang jadi pelindungku. aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika hari ini tidak ada kakek.mungkin aku akan di ejek teman temanku dan jadi bahan pembicaraan karena ayah dan ibuku tidak datang," ucap Namira


"Iya Namira, boleh kok kalau kamu memanggil saya kakek," jawab Pak Hamzah


"Iya Kek, jangan pakai kata saya juga ya kekz terlalu formal. sekarang ayo masuk," saut Namira


"Iya," jawab Pak Hamzah


Pak Hamzah saat itu merasa kaget sekaligus senang karena dirinya teringat cucunya yang sudah meninggal dulu seusia Namira. Cucu Pak Hamzah meninggal karena penyakit leukimia beberapa tahun yang lalu.


Didalam rumah Bu Setyarini, Bu Setyarini menceritakan perjuangan para siswa yang mengikuti olimpiade. Saat itu, Pak Hamzah terkejut mendengar Namira mendapat juara 1 olimpiade matematika level 2 tingkat SD/MI se-Provinsi Jawa Timur.


"Ya Tuhan, ternyata Namira mengajaku mengikuti acara syukuran juara olimpiadenya. Sungguh malang gadis ini, orangtuanya tidak bisa datang di acara penting ini. Namira pasti merasa sedih. Sungguh, aku sangat terharu dia memanggilku kakek dan mengingaykanku pada cucuku yang sudah di surga. dia sudah menganggapku sebagai kakeknya. kamu tidak sendirian Namira, kakek bersamu," batin Pak Hamzah


--------------


@@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga

__ADS_1


__ADS_2