Kesabaran Cinta Pak Ustadz

Kesabaran Cinta Pak Ustadz
188. PERIKSA KE DOKTER


__ADS_3

Pagi hari, setelah sarapan bersama Umar mengantarkan Namira ke sekolah sekaligus berangkat bekerja. Di rumah hanya menyisahkan Sarah di rumah. Sarah terduduk di ruang tamu memikirkan kondisinya yang masih belum bisa hamil. Padahal Sarah merasa sudah melakukan hubungan dengan Umar di masa suburnya. Tapi tepat di hari ini, Sarah mendapatkan tamu bulanan yang menandakan usahanya masih belum berhasil


Sarah mencoba mencari di goggle tentang penyebab wanita tak kunjung hamil. Dalam pencarianya, Sarah terkejut melihat kemungkinan kemungkinan buruk yang dialaminya. Penyakit penyakit seperti adanya miom, kista, fibroid, endmetriosis, kerusakan tuba falpopi dan lain lain menghantui pikiran Sarah. Sarah menghilangkan ketakutanyan dengan berdoa.


"Ya Allah, semoga aku baik baik saja dan kemungkinan kemungkinan buruk itu tidak terjadi" ucap Sarah


Walaupun Sarah sudah menenangkan pikiranya, tapi tetap saja dirinya penasaran alasan dirinya susah hamil. Akhirnya rasa penasaran itu membuat dirinya berinisiatif memeriksakan dirinya ke dokter. Sebenarnya dirinya ingin mengajak Umar, tapi dirinya tidak mau mengaggu pekerjaan suaminya hari ini. Dengan terpaksa Sarah mencoba berangkat periksa ke dokter sendirian.


---- Di Rumah Sakit ----


Di poli kandungan, Sarah mengantri bersama ibu ibu lainya yang hendak memeriksakan kandunganya. Saat antri, Sarah duduk berdampingan dengan ibu ibu muda yang sepertinya seusianya.Ibu mudah itu sama sepertinya perutnya masih datar. Menunggu antrianya di panggil masih lama, untuk menghilangkan kebosananya, Sarah mengajak bicara ibu ibu disampingnya


"permisi bu, dapat antrian nomer berapa?" tanya Sarah


"saya dapat antria nomer 28, ibu sendiri nomer berapa" jawab ibu itu


"saya setelah ibu nomer 29, sekarang baru nomer 13 lama banget ya bu" ucap Sarah


"haha iya bu, ibu namanya siapa?" tanya ibu itu


"nama saya Sarah, kalau nama ibu siapa?" tanya balik Sarah


"saya Ana" jawab ibu itu

__ADS_1


Sarah dan Ana saling berjabat tangan setelah berkenalan. Sarah dan Ana sudah terlihat akrab. Mereka berdua saling berbincang satu sama lain.


"mbak ana, kamu disini sama siapa?" tanya Sarah


"saya sendiri mbak, suami saya sibuk bekerja" jawab Ana


"wah sama dong suami saya juga bekerja saya kesini gak bilang bilang suami karena ingin cek kondisi rahim, saya ingin memastikan saja alasan saya kok susah hamil mbak" saut Sarah


"kalau saya tadi pagi dapat dua garis merah mbak di test pack, semoga test pack nya akurat, saya yakin mas Umar akan senang sekali dengan kado terindah ini" jawab Ana


Degg...


Sarah terkejut saat Ana mengatakan kata mas Umar. Raut wajah Sarah menjadi lesu dan tidak bersemangat. Sarah mencoba berpikiran positif, dirinya meyakinkan hatinya kalau Mas Umar yang dimaksud Ana adalah bukan suaminya. Sarah mencoba tidak berpikiran aneh aneh, tapi Sarah penasaran ingin memastikan mas Umar yang dimaksud Ana. Tanpa ragu, Sarah mencoba menanyai Ana.


"mbak Ana, suaminya kerja apa emang?" tanya Sarah


"mbak, asalnya dari surabaya juga?" tanya Sarah


"Oh, saya sama suami saya asal probolinggo yang mencoba merantau di surabaya" jawab Ana


"sama mbak, suami saya dari probilinggo juga, tapi saya banyuwangi, saya ketemu suami saya di surabaya" jawab Sarah


"iya mbak, tapi tempat terindah bagi saya adalah kampung saya di probolinggo, suasana perdesaan, suasana persawahan sangat sejuk di pandang ,dulu aku dan mas Umar sering bermain di sawah." ucap Ana

__ADS_1


Sarah terdiam sejenak saat mengtahui Ana mengatakan mas Umar suaminya bekerja di kampus dan berasal dari ponorogo. Menurut Sarah, mas Umar suaminya Ana memiliki kemiripan dengan mas Umar suaminya. Hingga akhirnya Sarah, mengajukan pertanyaan terakhir seputar pernikahan Ana.


"mbak sudah menikah berapa bulan, alhamdulillah cepat sekali mbak bisa dapat momongan" saut Sarah


"baru 3 bulan mbak, alhamdulillah saya dan masa Umar padahal jarang bersama lo mbak, mas Umar selalu sibuk di kampus tapi sekali main alhamdulillah mbak" jawab Ana


"wah selamat mbak, oh iya mbak, saya boleh minta nomer ponselnya, saya nyaman berkenalan dengan mbak" ucap Sarah


"saya juga enak ngobrol bareng mbak ,tentu sangat boleh mbak, nomer saya 0878xxxxxx" jawab Ana


"sudah mbak, terima kasih, lain waktu kita ketemuan ya mbak" ucap Sarah


"iya mbak insyallah" jawab Ana


Tidak terasa nomer antrian Ana di panggil. Ana berpamitan pada Sarah kemudian segera meninggalkan Sarah sendirian.


Setelah kepergian Ana, Sarah merasa lontaran pertanyaanya yang ditujukan ke Ana sedikit meyakinkan dirinya kalau mas Umar yang dimaksud bisa jadi suaminya. Sarah merasa dirinya bingung bagaimana cara meyakinkan hatinya kalau mas Umar yang dimaksud Ana bukan suaminya. Hingga pikiran pikiran Umar ingin menduakanya karena sulit hamil terlintas di pikiranya.


"mas Umar suami Ana memiliki kemiripan dengan mas Umar suamiku. Apakah mas Umar yang dimaksud Ana adalah memang suamiku? Apakah Ana cinta masa kecilnya mas Umar? atau jangan jangan mas Umar cari wanita yang bisa memberikanya anak. Astagfirullahuladzim, aku gak boleh suudzon, tapi hatiku merasa tak tenang. Ya Allah yakinkanlah hatiku ini untuk mempercayai suamiku, kuatkan aku Ya Allah.." batin Sarah


-----------


@@@@

__ADS_1


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


__ADS_2