Kesabaran Cinta Pak Ustadz

Kesabaran Cinta Pak Ustadz
180. HAMPIR GAGAL


__ADS_3

1 jam kemudian, Umar dan keluarganya kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Namira sudah tertidur pulas. Sarah menggendong Namira dan membawanya ke kamar. Umar yang membuntuti istrinya ke kamar melihat Sarah sedang mengelus ngelus kening Namira. Umar terus memperhatikan Sarah dari pintu, terlihat Sarah terus menguap. Umar yang melihat Sarah menguap mencoba mendekati dan bicara dengan Sarah.


"dek..dek..jangan ketiduran disini dek" bisik Umat


"sst..jangan keras keras mas, nanti namira bangun" jawab Sarah


"dek, ayo tidur di kamar sebelah" ucap Umar


"mas ini gimana sih, anaknya ditinggal sendiri" jawab Sarah


"dek, belum satu jam, masa kamu lupa tadi obrolan kita pas perjalanan pulang" saut Umar


"Eh..iya mas sekarang ya? aku gugup mas" jawab Sarah


"iya sekarang mumpung namira tidur" saut Umar


Sarah menganggukan kepalanya kemudian beranjak dari ranjang menuju kamar sebelah membuntuti Umar. Di rumah baru Umar dan Sarah memang terdapat dua kamar tidur. Karena memang Umar sengaja agar Namira memiliki kamar sendiri di rumah barunya.


--- Flashback On ----


Dalam perjalanan pulang , Umar terus memikirkan rencana memiliki anak. Sambil menyetir motor Umar mencoba mengajak bicara istrinya


"dek, namira udah tidur?" tanya Umar


"udah mas, ada apa mas?" tanya balik Sarah


"mas ingin nanti kita tidur berdua di kamar sebelah, malam ini mas ingin melakukanya karena mas rasa sudah saatnya kita melakukanya" jawab Umar


"mas, tapi namira takut sendirian mas, dia selalu tidur bersama kita" ucap Sarah


"tidak apa apa dek, kita harus membiasakan namira berani tidur sendiri, namira sudah hampir 7 tahun, kita harus mengajarkan hidup mandiri pada namira."jawab Umar


"baiklah mas, aku setuju" saut Sarah

__ADS_1


Umar tersenyum akhirnya Sarah hari ini mau melayaninya. Umar berharap dirinya dan Sarah segera cepat di beri momongan.


----- Flashback Off ------


Di kamar sebelah, Umar dan Sarah saling berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Suasana hening menyelimuti tatapan mereka, karena tidak ada obrolan diantara mereka berdua. Umar yang merasa Sarah masih malu mencoba mengajaknya bicara duluan


"dek, apakah kamu siap?" tanya Umar


"Iya mas, insyaallah aku siap" jawab Sarah


"izinkan mas memiliki dirimu seutuhnya, semoga impian kita berdua segera terwujud" ucap Umar


"Iya mas, amin.." jawab Sarah


Umar mulai mencium dengan lembut pipi dan bibir Sarah. Karena sudah sering berciuman, Sarah juga membalas ciuman dari Umar. Mereka berdua saling menyatukan salivanya dengan kedua bibir mereka. Setelah itu, Umar melepas hijab dan pakaian Sarah hingga tak menyisahkan sehelai benang. Setelah melihat Sarah sudah tak memakai apapun, Umar berganti melepas pakaian dan celananya hingga tak memakai sehelai benang.


Umar dan Sarah memang sering berciuman, tetapi kalau urusan intim jujur saja mereka berdua baru melihat kepemilikan pasanganya masing masing. Umar yang sudah tidak tahan mulai mencium leher Sarah hingga membuat Sarah geli.


"mas, geli mas..." ucap Sarah


Umar mulai meluncurkan aksinya mencium Sarah.Tak lupa Umar juga bermain gunung kemb** milik Sarah. Sarah berkali kali mengeluarkan des****ya membuat Umar semakin bergairah. Banyak jejak tanda merah yang mengelilingi tubuh Sarah. Setelah puas menciumi tubuh istrinya, Umar beranjak melakukan aktivitas intinya dengan memulai memasukan keperkasaanya di sarang Sarah. Namun baru saja menyentuh permukaan tiba tiba terdengar suara Namira menangis dari kamar sebelah karena sendirian.


"Ibu..ayah...kalian dimana...hiks..hiks.."teriak Namira menangis dari kamar sebelah


Umar dan Sarah yang mendengar suara tangisan Namira panik. Hingga akhirnya Sarah memutuskan ingin menunda permainan panas dengan suaminya karna ingin menghampiri Namira.


"mas, kita bisa tunda dulu mas, aku mau ke kamarnya Namira" ucap Sarah


"biar mas aja yang ke kamar namira, setelah mas berhasil menidurkan namira, kita akan lanjutkan" jawab Umar


"Baik mas.." jawab Sarah


Umar bergegas memakai celananya tanpa memakai baju langsung beranjak menuju kamar Namira. Sesampainya di kamar Namira, Umar memeluk dan menenangkan Namira yang masih menangis.

__ADS_1


"Namira sayang, kok menangis, ayo tidur sudah malam" ucap Umar


Namira melihat ayahnya yang tidak memakai baju dan sedikit berkeringat penasaran. Namira berpikir cuaca diluar dingin tapi mengapa ayahnya tidak pakai baju. Tanpa berpikir panjang dengan polosnya Namira bertanya pada ayahnya.


"ayah, kok tidak pakai baju?, ayah sedikit berkeringat padahal cuaca dingin diluar" tanya Namira


Degg


Umar baru sadar dirinya masih belum memakai baju. Umar merasa malu sekali, tapi untungnya Namira masih kecil jadi dirinya masih bisa membuat alasan lain.


"Oh iya tadi ayah tiba tiba gerah mau ganti baju tapi tiba tiba Namira teriak teriak" jawab Umar


"namira takut ayah, terus ibu dimana?" tanya Namira


"Oh ibu ya, ibu masih menjahit, iya benar ibu masih menjahit baju" jawab Umar asal


"aku mau ketemu ibu deh" ucap Namira


Umar yang melihat Namira hendak beranjak dari ranjang langsung menghentikanya dengan memegangi tangan Namira dan mengajaknya tidur.


"sayang, ibu masih sibuk, sekarang ayo namira tidur" ucap Umar


"aku takut tidur sendiri ayah" jawab Namira


"namira..coba baca doa sebelum tidur biar nggak lagi kebangun mimpi buruk" saut Umar


Namira membaca doa sebelum tidur kemudian perlahan matanya mulai terpejam dan tidur. Umar mengelus ngelus kening Namira hingga akhirinya Namira bisa tertidur kembali. Umar merasa lega, hampir saja gagal rencana malam kebahagiaanya dengan Sarah. Setelah memastikan Namira tertidur pulas, Umar mengecup kening Namira kemudian beranja pergi ke kamar sebelah untuk melakukan aktivitasnya bersama Sarah.


nb : (maaf jika bahasa author kurang berkenan)


-----------


@@@@

__ADS_1


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


__ADS_2