Kesabaran Cinta Pak Ustadz

Kesabaran Cinta Pak Ustadz
200. PENCERAHAN


__ADS_3

Hari ini, Mansur dan Risma mengadakan acara mitoni di rumahnya. Mitoni adalah suatu tradisi syukuran atau slamatan kehamilan usia tujuh bulan pada masyarakat Jawa. Terkadang masyarakat jawa menyebutnya acara Tingkepan.


Dalam acara mitoni kehamilan Risma, terdapat ceramah dari sahabat Mansur. Sahabat Mansur yang akan mengisi ceramah di acara mitoni adalah Umar. Mansur ingin Umar mengisi ceramah di acaranya karena Mansur percaya dan yakin Umar bisa mengasah potensi bakatnya dalam berdakwah. Waktu kuliah, Mansur juga sering sekali bertukar informasi dan ilmu tentang pendidikan islam.


Ceramah hari ini Umar mengangkat tema tentang "Memaafkan Kesalaham Dan Mengubur Dendam". Dalam ceramahnya Umar mengatakan.


Memaafkan adalah amalan mulia ketika seseorang mengalami gangguan yang ditimpakan orang kepadanya serta memaafkan kesalahan orang padahal dirinya mampu untuk membalasnya. Gangguan itu bermacam-macam bentuknya. Gangguan itu bisa berupa cercaan, pukulan, perampasan hak, dan semisalnya. Memang sebuah kewajaran apabila seseorang menuntut haknya dan membalas orang yang menyakitinya. Seseorang dibolehkan membalas kejelekan orang lain dengan yang semisalnya. Namun, alangkah mulia dan baik akibatnya apabila dia memaafkannya.


Memaafkan kesalahan orang lain sering dicap dan dianggap sebagai sikap lemah dan bentuk kehinaan, padahal justru sebaliknya. Apabila seseorang membalas kejahatan yang dilakukan terhadapnya, sejatinya di mata manusia tidak ada keutamaannya. Akan tetapi, kala dia memaafkan padahal mampu untuk membalasnya, dia mulia di hadapan Allah dan manusia.


Terdapat beberapa kemuliaan dari memaafkan kesalahan


1. Mendapat kecintaan


Dalam Al Quran Allah berfirman


“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 34—35)


Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan,


“Apabila engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu, kebaikan ini akan menggiring orang yang berlaku jahat itu merapat denganmu, mencintaimu, dan condong kepadamu. Dengan demikian, dia (akhirnya) menjadi temanmu yang dekat."


2. Mendapat pembelaan dari Allah


Al Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata,


“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku punya kerabat. Aku berusaha menyambungnya, tetapi mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat kebaikan kepada mereka, tetapi mereka berbuat jelek. Aku bersabar terhadap mereka, tetapi mereka berbuat kebodohan terhadapku.”


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

__ADS_1


“Jika benar yang kamu ucapkan, seolah-olah kamu menebarkan abu panas kepada mereka. Kamu senantiasa mendapat penolong dari Allah azza wa jalla atas mereka selama kamu di atas hal itu.” (HR. Muslim)


3. Memperoleh ampunan dari Allah


Dalam Al Quran Allah berfirman :


“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taghabun: 14)


4. Mulia di sisi Allah dan di sisi manusia


Suatu hal yang telah diketahui bahwa orang yang memaafkan kesalahan orang lain, di samping tinggi kedudukannya di sisi Allah, ia juga mulia di mata manusia. Demikian pula ia akan mendapat pembelaan dari orang lain atas lawannya. Tidak sedikit pula musuhnya berubah menjadi kawan.


Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


“Sedekah (hakikatnya) tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu) karena Allah kecuali diangkat oleh Allah.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu anhu).


Pemaafan dikatakan terpuji apabila muncul darinya akibat yang baik. Sebab, ada pemaafan yang tidak menghasilkan perbaikan. Misalnya, ada seorang yang terkenal jahat dan suka membuat kerusakan. Misalnya, dia berbuat jahat kepada Anda. Apabila Anda maafkan, dia akan terus berada di atas kejahatannya. Dalam keadaan seperti ini, yang utama tidak memaafkan dia dan justru menghukumnya sesuai dengan kejahatannya. Dengan demikian, akan muncul kebaikan, yaitu efek jera.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan,


“Melakukan perbaikan adalah wajib, sedangkan memaafkan adalah sunnah. Apabila pemaafan mengakibatkan hilangnya perbaikan, berarti hal itu mendahulukan yang sunnah atas yang wajib. Tentunya, syariat ini tidak datang membawa hal yang seperti ini.” (Lihat Makarimul Akhlaq karya Syaikh Ibnu Utsaimin hlm. 20)


Mendengar ceramah dari Umar, Yossy dan Melisa yang turut hadir di acara mitoni kehamilan Risma merasa ceramah Umar berkaitan dengan kehidupanya. Melisa berharap Yossy mendapatkan pencerahan setelah hadir di acara mitoni kehahamilan Risma. Saat itu Yossy yang sangat penasaran dengan hukum seorang muslim memutus hubungan keluarga karena keluarganya berbuat maksiat. Tanpa ragu Yossy bertanya kepada Umar.


"Mas Umar, bagaimana hukum seorang memutus hubungan keluarga yang berbuat maksiat? Haruskah kita memaafkanya" tanya Yossy


"Salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam adalah menjalin silaturahmi. Amalan ini mendatangkan banyak manfaat. Silaturahmi merupakan sarana memperkuat ikatan ukhuwah Islamiyah. Selain itu, menjalin silaturahmi dapat menjadi jalan lancarnya rezeki." jawab Umar


"Tugas seorang Muslim adalah menyambung silaturahmi dan menjalin pertemanan dengan siapapun. Jika sudah terjalin, tugas selanjutnya adalah merawat dan memperkuatnya. Terlarang hukumnya seorang Muslim memutus silaturahmi dengan alasan apapun. Terutama silaturahmi terhadap keluarga dan kerabat dekat." lanjut Umar

__ADS_1


"Sikap pemutusan hubungan darah semacam itu umumnya dipicu oleh gejolak emosional yang tinggi, lepas kendali, dan egosentrisme. .


Islam melarang keras sikap semacam itu. Al-Qur’an, Sunnah, dan para ulama sepakat akan pentingnya tali kekeluargaan dan menilai pengingkaran terhadapnya sebagai perbuatan dosa." ucap Umar


Secara tidak langsung Yossy merasa terpojok. Jawaban dari Umar menampar keras prinsipnya memutus hubungan dengan keluarganya yang ada dipenjara. Yossy masih belum puas dirnya akhirnya bertanya Umar


"Tapi Mas Umar, bagaimana kita menyikapi kelurga yang telah berbuat maksiat jika kita tidak memutus hubungan keluarga?" tanya Yossy


Dalam Al Quran Allah berfirman


"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (QS Muhammad: 22-23)"


"Dalam fatwa Darul Ifta' Mesir, silaturahmi tetap harus dijalin, namun tidak boleh mengikuti kebiasaan buruk mereka. Agar tidak terpengaruh, batasi lama kunjungan ke tempat kerabat itu. Bertemu sebentar cukup untuk menjaga silaturahmi. Tetapi jika kita bisa menjaga diri, cara terbaik adalah mengajak mereka berhenti dari kebiasaan buruk." jawab Umar


Merasa kenyang dengan ceramah dari Umar akhirnya Yossy medapat pencerahan dan sudah paham tidak lagi bertanya dengan Umar.


"Iya mas Umar, terima kasih" ucap Yossy sembari menggaruk rambutnya yang tidak gatal


Melisa yang menatap Yossy dari barisan perempuan tersenyum senyum melihat tingkah Yossy. Melisa berdoa semoga ceramah dari Umar membuat Yossy mau berkunjung menemui keluarganya yang mendekam di penjara.


-----------


@@@@


Yuk dukung author dengan like, coment dan vote novel ini !!!!


Like, Coment dan Vote kalian sungguh berharga


nb : spesial episode 200 terdapat pesan dari kutipan2 yang author ambil dari referensi. semoga bermanfaat,🤗

__ADS_1


__ADS_2