Kesabaran Cinta Pak Ustadz

Kesabaran Cinta Pak Ustadz
224. PASRAH


__ADS_3

Pulang dari TPQ, Umar, Sarah, dan Namira bersiap siap berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah. Namun sebelun berangkat ke masjid, Namira memberi pertanyaan yang menampar hati Sarah.


"Ibu, Namira punya adek kapan? teman teman Namira sudah punya adik," ucap Namira


Degg..


Sarah hanya terdiam tak menjawab pertanyaan dari Namira. Sarah teringat betul ucapan dokter tiga bulan yang lalu pasca melakukan laparoskopi, dokter mengatakan kalau dirinya memang bisa mengandung walaupun peluangnya kecil karena rahimnya terlalu lemah. Mungkin saja bisa menjalankan bayi tabung tapi harganya fantastis.


Umar yang melihat Sarah terediam sangat memahami perasaan Sarah yang sangat terpukul dengan pertanyaan Namira. Umar saat itu sontak menjawab pertanyaan Namira.


"Namira sayang, Namira berdoa ya sama Allah, semoga Ibu bisa segera hamil," jawab Umar


"Iya ayah, aku akan berdoa agar ibu bisa cepat hamil kaya Bu Wawa dan Tante Melisa," jawab Namira


"Pinter, sekarang ayo kita ke masjid," ucap Umar


"Iya ayah," jawab Namira


------------


20 menit kemudian setelah shalat di masjid. Umar, Sarah dan Namira hendak pergi ke rumah Mansur dan Risma untuk menghadiri acara aqiqah anak Mansur dan Risma. Namira saat itu sangat senang sekali hendak bertemu dengan bayi kembar tiga Mansur dan Risma.


"Yeay, aku akan ketemu Hasan, Hanin, dan Hanna," ucap Namira


"Namira seneng?" tanya Sarah


"Seneng sekali ibu, aku gemes sama pipi embulnya dek Hasan, eh dek Hanin dan dek Hanna pipinya juga embul," jawab Namira

__ADS_1


Sarah hanya bisa pasrah sampai sekarang belum diberi momongan. Sebenarnya Sarah merasa serba salah pada Umar dan Namira yang sampai saat ini belum memberikan kebahagiaan dalam keluarganyam


----------


Sesampainya di rumah Mansur dan Risma, seperti biasa Sarah berada digerombolan barisan wanita untuk melihat bayi kembar tiga Mansur dan Risma yang menggemaskan. Di barisan wanita, Risma, Windi, Melisa dan Sarah saling berbincang. Namun Sarah hanya terdiam mendengar perbincangan teman temanya.


"Wah Melisa, selamat ya atas kehamilanya," ucap Risma


"Iya Mel, aku juga mau ngucapin selamat. jadi ngebet aku nunggu Kak Yuda pulang langsung buat," saut Windi


"Selamat ya Melisa," ucap Sarah


"Iya makasih teman teman, semoga Windi dan Mbak Sarah nyusul" jawab Melisa


"Amin..." saut semuanya


"Kalau ngebet suruh suamimu pulang ajak progam kehamilan," jawab Risma


"Kalian perlu waktu intensif berdua," goda Melisa


"Emang ujian ada waktu intensif," saut Windi


"Iya harus dong, jangan ditunda tunda," jawab Melisa


"Santai aja dua minggu lagi Kak Yuda pulang. aku mau ajak dia ikut progan kehamilan. Doain ya aku dan Mbak Sarah sesama calon ibu semoga ikut nyusul kalian capet hamil," ucap Windi


"Amin.." ucap Risma, Sarah, Melisa

__ADS_1


"Mbak Sarah, kita berdua harus semangat dan berjuang," saut Windi


"Iya benar," jawab Sarah


Sarah saat itu entah mengapa rasanya sedih. Sarah melihat Windi sangat bahagia mau menjalankan progam kehamilan bersama suaminya. Mendengar kata progam kehamilan, Sarah kembali teringat ucapan dokter peluangnya hamil pasca laparoskopi.


----------


Setelah acara aqiqah, di rumahnya Sarah kepikiran Umar bakal menikah lagi jika dirinya tak kunjung hamil. Sarah tahu Umar pasti tidak mau dan tidak akan menikah lagi. Sarah percaya Umar benar benar mencintainya. Tapi perasaan masih belum bisa memberi keturunan, Sarah merasa egois jika bersikukuh tidak membiarkan Umar menikah lagi. Sungguh, hal itu menyiksa batin Sarah karena merasa serba salah pada suami dan anaknya.


Umar yang saat itu kembali ke kamar melihat Sarah menangis.Umar menghampiri Sarah kemudian memeluknya dan menenangkanya.


"Dek, ada apa? ada yang membebani pikiranmu?" tanya Umar


"Mas, aku minta maaf belum bisa memberimu keturunan," jawab Sarah menangis


"Dek, jangan sedih, insyallah kita akan segera di beri momongan," ucap Umar


"Mas, tapi dokter bilang..." jawab Sarah terpotong


"Sstt...Mas sudah tahu. kita harus berpikirab positif. kita masih bisa berusaha dan berdoa, untuk hasilnya kita serahkan sama Allah," ucap Umar


"Mas, kalau Mas ingin menikah lagi, aku insyallah ikhlas Mas, aku ingin kamu bahagia," jawab Sarah


"Dek, Mas mohon kamu jangan merasa bersalah. Mas tidak menuntut kamu harus cepet punya anak. Mas juga tidak pernah berpikir untuk menikah lagi atau meninggalkanmu karena masalah anak. Jadi Mas mohon jangan berpikirab kaya gitu lagi. kita masih punya jalan, selama ada jalan dan kesempatan kita tidak boleh putus asa," ucap Umar


"Iya Mas, terima kasih. aku sudah mulai tenang" jawab Sarah

__ADS_1


"Hmm..Iya dek," saut Umar


__ADS_2